Imaginary friend(s)

Pernah denger tentang teman khayalan? Berikut potongan tulisan Elizabeth B. Hurlock dalam bukunya: “Perkembangan Anak”

——————————————–

TEMAN KHAYAL

Bagi anak kecil, teman khayal seolah-olah hidup, memiliki nama, ciri fisik, dan kemampuan untuk melakukan sesuatu yang biasa dilakukan seseorang dalam pergaulannya dengan anak-anak. Anak kecil memperoleh kegembiraan dari permainannya dengan teman khayal karena temannya dapat mengisi kekosongan dalam kehidupan sosialnya.

Usia umum untuk menjalin hubungan dengan teman khayal adalah antara 3 sampai 4 tahun, yang memuncak pada usia 3,5 tahun. Apabila sudah mulai mengikuti pendidikan formal dan memiliki teman nyata yang dapat dijadikan teman bermain, biasanya anak meninggalkan teman khayalnya, meskipun kadang-kadang masih bermain dengan mereka bila merasa kesepian.

Teman khayal (imajiner) bisa berbentuk orang, hewan, atau benda yang diciptakan anak dalam khayalannya untuk memainkan peran seorang teman. Terlepas dari peran yang dimainkan teman imajiner, anak itu memperoleh kepuasan dari perasaan bahwa ada seseorang yang selalu menemaninya. A.A. Milne menjelaskan bagaimana perasaan anak kecil tentang teman imajinernya:

“Piko… demikian aku memanggilnya… merupakan rahasiaku sendiri, Dan Piko merupakan alasan mengapa aku tidak pernah merasa kesepian. Sambil bermain di taman, duduk di tangga. Apa saja yang sedang kulakukan, Piko selalu ada di sana.”

BAHAYA TEMAN KHAYAL

Pertama, mereka tidak dapat mengajarkan ketrampilan bermain atau memberikan kesempatan bagi anak untuk mempelajarinya dari permainan yang bersifat kooperatif dengan anak-anak lain.

Kedua, anak dapat berperan sebagai pemimpin di tengah-tengah teman khayalnya dan mendominasi situasi permainan. Ini mendorong anak untuk selalu memerintah — suatu kebiasaan yang akan menghambat usahanya untuk berperan sebagai pemimpin di tengah-tengah teman sebayanya atau bahkan untuk dapat diterima dalam kelompok teman sebayanya itu.

Ketiga, anak tidak akan memperoleh kesempatan untuk mempelajari berbagai pola perilaku, seperti wawasan sosial, kerja sama, dan sportivitas, bila dia bermain dengan teman khayal.

TEMAN KHAYAL SEBAGAI GEJALA UMUM

Karena teman imajiner merupakan “rahasia diriku sendiri”, anak tidak selalu bercerita pada orang lain tentang teman khayalnya. Mengamati anak dan mendengarkan apa yang mereka katakan bila mereka bermain sendiri seringkali akan mengungkapkan bahwa mereka mempunyai teman imajiner.

Studi mengenai teman imajiner, yang lebih sering berdasarkan atas laporan retrospeksi daripada atas pengamatan langsung terhadap anak kecil, menunjukkan bahwa teman imajiner lebih menonjol di kalangan anak yang inteligensiannya lebih tinggi daripada mereka yang rata-rata. Dalam studi remaja yang kreatif, anak yang mempunyai teman imajiner lebih banyak diketemukan di antara mereka yang pandai, terutama yang berkecenderungan kreatif dalam bidang sastra.

Tidak ada satu pun tipe kepribadian yang menentukan apakah anak cenderung memiliki teman imajiner atau tidak. Anak yang bahagia dan baik penyesuaiannya mempunyai teman imanijer selama bertahun-tahun pra sekolah seperti halnya anak-anak yang lain.

——————————————–

Jadi kesimpulannya, punya teman khayalan itu boleh-boleh aja, biasanya ditemui di anak yang usia pra-sekolah. Kalo udah sekolah sih biasanya dah ilang. Nan dulu rasanya gak punya temen khayal, karena dia punya adik yang bisa diajak main, meskipun adiknya masih bayi. Tapi May punya lho! Kenapa begitu? Padahal dia kan ada KK nya ya? Tapi ya itu, kalo diliat-liat emang KKnya sibuk main ma temennya sendiri, sehingga May yang belom sekolah butuh temen.

Baru-baru ini May cerita dia punya temen namanya Odit. Setelah ditanya kesana-sini gak ada anak tetangga sebaya May yang bernama Odit, ditarik kesimpulan kalo dia punya temen khayalan. Mum sih fine aja, toh ntar juga akan hilang setelah dia sekolah play group nanti. Tapi Teta suka ngelarang May nyebut Odit, akhirnya May gak nyebut nama itu lagi. Kalopun ke sebut, dia ngaku ke Mum: “Tadi Adek ngomong itu.” Maksudnya nyebut nama Odit. Beberapa hari kemudian, May nyebut nama baru: Selim. Kalo ditanya: “Sapa tuh Selim Kak?” Dia cuma ketawa aja, sambil jawab: “Temennya Adek“.

Pernah nonton film “Drop dead, Fred” yang dibintangi artis cantik Phoebe Cates? Fred itu temen khayalnya waktu dia masih kecil, tapi muncul lagi setelah dia dewasa. Film itu dah lama banget, tapi salah satu film yang masih aku inget sampe sekarang jalan ceritanya. Abis suka sih! Lucu 🙂

So, ada yang masih punya teman khayalan?

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s