Malaikat

“Mak, emang bener kalo di rumah kita ada kupu-kupu, itu tandanya ada malaikat yang dateng?”

Pertanyaan itu terlontar dari mulut May di suatu pagi yang masih gelap gulita. Emak langsung memegang jidatnya, oh, masih adem. Berarti bukan meracau karena panas tinggi.

“Emang kata siapa?”
“Kata teteh.”
“Malaikat itu sebenernya ada di deket kita, tapi karena nggak ada wujudnya jadi nggak keliatan.”
“Wujud? Apaan tuh?”
“Wujud itu… apa ya neranginnya?” Emak menoleh kiri-kanan mencari bantuan. Tapi siapa yang bisa membantu di pagi buta seperti itu untuk menjawab pertanyaan seorang anak kelas 1 SD?
“Wujud itu ibaratnya sarung deh! Kalo roh itu gak ada sarungnya, ya nggak keliatan.”

May mengangguk-angguk. Tapi keliatannya dia masih bingung. Kok wujud = sarung? Aneeehh.. Sebelum May melanjutkan pertanyaannya lagi, emak langsung mengalihkan:

“Tuh di May jg ada malaikat, di sebelah kanan dan kiri bahunya. Yang nyatet semua kebaikan dan keburukan May.”

“May pukul nih malaikatnya.” Dan dia memukul-mukul bahunya sendiri.

OMG! May, malaikat jangan dipukulin!!! Ntar kualat!

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s