Mi Familia Review

Reviewed by: Dini
Rating: 3 of 5 stars

Hal paling menonjol waktu saya mulai baca buku ini adalah: sumpah, tokoh suaminya bikin geregetaaaaan. Masa nggak pernah bilang-bilang sama istri barunya kalo dia menanggung hidup sepupu perempuannya dan tiga anaknya yg masih kecil-kecil. Yang lebih menyebalkan lagi, tanpa minta persetujuan sang istri dia langsung mengajak perempuan itu dan tiga anaknya ikutan honeymoon dan setelah itu malah tinggal satu rumah!

Pantas saja kalau Bia, sang tokoh utama, naik darah karena Irham suaminya mengambil keputusan sendiri. Novel ini kemudian berputar dalam kisah keseharian Bia dan Irham sebagai pengantin baru yang hidupnya diganggu tiga ‘kurcaci kecil’ dan seorang ‘peri’. Apalagi si peri ini, Mila, ternyata jago masak dan mengerjakan urusan rumah tangga sampai Bia merasa tugas melayani suami direbut olehnya. Belum lagi anak2 yang sering bikin ribut dan mengganggu acara berdua Bia dan Irham (pengantin baru pasti maunya dua-duaan dulu dong…). Bia makin stres ketika usahanya untuk puny…more Hal paling menonjol waktu saya mulai baca buku ini adalah: sumpah, tokoh suaminya bikin geregetaaaaan. Masa nggak pernah bilang-bilang sama istri barunya kalo dia menanggung hidup sepupu perempuannya dan tiga anaknya yg masih kecil-kecil. Yang lebih menyebalkan lagi, tanpa minta persetujuan sang istri dia langsung mengajak perempuan itu dan tiga anaknya ikutan honeymoon dan setelah itu malah tinggal satu rumah!

Pantas saja kalau Bia, sang tokoh utama, naik darah karena Irham suaminya mengambil keputusan sendiri. Novel ini kemudian berputar dalam kisah keseharian Bia dan Irham sebagai pengantin baru yang hidupnya diganggu tiga ‘kurcaci kecil’ dan seorang ‘peri’. Apalagi si peri ini, Mila, ternyata jago masak dan mengerjakan urusan rumah tangga sampai Bia merasa tugas melayani suami direbut olehnya. Belum lagi anak2 yang sering bikin ribut dan mengganggu acara berdua Bia dan Irham (pengantin baru pasti maunya dua-duaan dulu dong…). Bia makin stres ketika usahanya untuk punya momongan terus gagal dan Irham dirasakan makin sibuk dengan pekerjaan dan kurang memperhatikan dirinya. Salut buat sang pengarang, yang gaya berceritanya membuat kita mudah bersimpati pada tokoh Bia (dan pada kasus saya, bete dengan Irham – walaupun cuma di awal sih) dan menyelami hati serta perasaannya. Kisah ini dapat sekaligus menjadi bahan pelajaran untuk para lelaki: berhati-hatilah dengan perasaan wanita karena mereka sangatlah peka…

PS. Duh!! Lupa lagi mau minta tanda tangan si penulis, padahal kemaren baru ketemu ;P

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s