Perpustakaan: jantung pendidikan, jantung kehidupan

Sylvia L’Namira
Second place in “Share Your Career Story” from
Konsultan Karir

Menjelang lulus SMA saya benar-benar tidak tahu harus memilih jurusan apa nanti saat kuliah. Saya cari-cari informasi dan survey ke beberapa universitas namun tetap juga belum mendapatkan ide mau mengambil jurusan apa. Ketika saya mendatangi kampus UI fakultas sastra, saya langsung jatuh cinta dan berharap agar bisa mendapatkan sebuah kursi untuk menimba ilmu di kampus idaman saya ini. Namun saya masih belum tahu harus mengambil jurusan apa. Bingung dan bingung.

Ayah saya adalah seorang yang berkecimpung di dunia pendidikan. Beliau bisa memperkirakan tren karir di masa datang nanti kira-kira seperti apa dan beliau mengusulkan saya untuk mengambil jurusan ilmu perpustakaan. Saya sempat mencemooh dan berkata, “Idih, jurusan apa tuh? Nggak pernah denger dan kedengarannya nggak keren banget. Jurusan lain dong, Sastra Inggris atau Sastra Prancis kek.” Tapi ayah berhasil meyakinkan saya kalau jurussan ilmu perpustakaan bisa mencetak sarjana-sarjana yang ahli di bidang perpustakaan dan di tahun mendatang akan banyak permintaan sarjana jurusan tersebut.

Akhirnya saya memutuskan untuk mengikuti saran ayah dan mengambil jurusan ilmu perpustakaan di UI dan alhamdulillah saya diterima di kampus idaman tersebut. Selama masa sekolah menengah dulu, saya tidak pernah sekalipun berminat masuk ke dalam perpustakaan sekolah. Selain koleksinya kurang menarik dan tempatnya gelap, yang ada hanya buku teks saja. Namun di kampus mau tidak mau saya harus selalu masuk ke dalam perpustakaan. Dan sejak itulah muncul kecintaan terhadap bangunan yang menampung begitu banyak informasi di dalamnya. Saya makin sering pulang sore untuk sekedar nongkrong di perpustakaan kampus untuk membaca majalah, mencari literature, berdiskkusi dengan teman, atau hanya sekedar menyendiri sambil membaca novel.

Suatu hari saya pulang dari kampus dan melewati sebuah sekolah internasional. Dalam hati saya berharap agar bisa bekerja di sana. Dan ternyata Tuhan mengabulkan keinginan saya lagi. Dengan mudahnya begitu saya lulus jadi sarjana, saya mendapatkan informasi kalau sekolah tersebut mencari sarjana perpustakaan, dan saya langsung melamar ke sana. Waktu itu yang dicari hanyalah pekerja temporer, alias kontrak selama 6 bulan saja. Saya tidak peduli, bagi saya bisa bekerja di sekolah tersebut saja sudah merupakan anugerah dan saya bisa melatih kemampuan yang pernah diajarkan di kampus.

Saya bekerja dengan sembilan orang sarjana perpustakaan lain yang berasal dari kampus yang sama, dan rata-rata mereka adalah senior saya. Namun hal itu bukan masalah, dan kami tidak memiliki niat untuk bersaing atau saling menjatuhkan. Justru kami saling berdiskusi jika ada pekerjaan yang sulit, dan itu yang membuat kami bersepuluh terlihat kompak. Tugas kami adalah mengatalog buku-buku koleksi sekolah tersebut yang sudah menumpuk akibat kekurangan staff untuk mengerjakannya. Kami pun mengerjakannya dengan penuh semangat, terutama saya. Maklumlah, saya kan masih baru lulus kuliah, rasanya ilmu yang masih menempel di otak saya sangat bermanfaat di pekerjaan tersebut. Biasanya senior-senior saya yang sudah lama lulus suka lupa dan saya dengan senang hati berbagi ilmu dengan mereka.

Tanpa terasa enam bulan berlalu, dan kami pun harus di evaluasi. Dari hasil evaluasi tersebut, ternyata tujuh orang harus dieliminasi, meninggalkan tiga orang untuk dikirim ke masing-masing cabang sekolah tersebut. Saya termasuk diantara tiga orang tersebut. Ternyata pemilihannya berdasarkan hasil kerja kami yang di review selama enam bulan tersebut. Saya sangat bersyukur karena walaupun masih dalam status kontrak yang diperpanjang di enam bulan ke depan, itu artinya saya memang memiliki kemampuan dalam pekerjaan saya. Itu membuat saya makin termotivasi dan bersemangat untuk mempelajari hal-hal lain, seperti menguasai sistem database perpustakaan, serta melancarkan kemampuan komputer dan bahasa Inggris saya.

Enam bulan berlalu, dan kami bertiga diperpanjang kembali untuk enam bulan kedepan karena ternyata mereka masih membutuhkan tenaga kami. Saya tidak memikirkan apa-apa selain bekerja dengan baik dan menambah ilmu saya. Setelah kurang lebih dua tahun kami bekerja sebagai pegawai kontrakan yang notabene tidak mendapatkan benefit apapun selain gaji, akhirnya posisi kami dievaluasi kembali dan hasilnya adalah sekolah membutuhkan staff khusus untuk mengerjakan yang sedang kami kerjakan ini, dan hasilnya kami bertiga pun diangkat menjadi staff tetap sekolah internasional tersebut.

Saya sangat bersyukur dan makin bersemangat belajar. Karena tidak ada kata ‘terlalu tua’ untuk belajar, bukan? Saya ditempatkan di perpustakaan cabang SMP. Di sana saya memiliki bos yang berasal dari Australia. Bos saya orang yang mempunyai pengharapan tinggi terhadap anak buahnya, dan saya pun bekerja mengikuti standard dia yang tinggi. Di perpustakaan ini saya tidak hanya mengerjakan pekerjaan kataloging, tapi juga membantunya dalam menyiapkan bahan-bahan literatur penelitian anak-anak, juga menyiapkan teknologinya jika bos memerlukan untuk presentasi seperti LCD projector, komputer, yang sebenarnya menjadi tugas bagian tekhnologi. Namun bagi saya itu adalah kesempatan untuk belajar, dan saya pun mengerti cara mengoperasikan LCD projector, smartboard, dan perangkat pendukung lainnya.

Selain itu bos juga mendelegasikan saya untuk mempromosikan buku-buku yang baru datang di perpustakaan untuk menarik minat baca anak-anak. Isi promosi tersebut saya kemas dalam bentuk slide show yang bisa dilihat melalui screen TV dari jendela perpustakaan. Tak sedikit anak-anak yang datang dan meminta ‘buku yang dipajang di screen’ untuk dipinjam. Kemudian bos juga melimpahkan tugas membuat website untuk perpustakaan kepada saya. Meskipun ilmu saya belum sampai dan saya tidak mengerti apa-apa mengenai cara membuat dan mendesign website, saya menyanggupi dengan catatan meminta bos mendaftarkan saya kursus website. Bos pun setuju dan saya didaftarkan untuk mengikuti kursus dalam rangka mendukung pekerjaan tambahan saya tersebut.

Semua yang saya lakukan sekarang sudah melenceng jauh dari job deskripsi awal saya, namun saya tidak merasa rugi mengerjakan itu semua, karena banyak ilmu yang saya timba dari pekerjaan-pekerjaan tambahan tersebut. Setelah sepuluh tahun saya bekerja di sekolah ini, saya kini sudah mendapatkan banyak benefit yang mungkin tidak akan saya dapatkan jika saya bekerja di tempat lain, dan itu yang membuat saya bersyukur masih memiliki pekerjaan yang bisa menopang kehidupan saya dan dua anak saya.

Kalau di awal niat saya bekerja adalah untuk mengaplikasikan ilmu, setelah menikah saya tetap bekerja dengan tujuan membantu perekonomian keluarga, serta alasan klise wanita bekerja, yaitu aktualisasi diri. Ya, mungkin karena sejak lulus kuliah saya tidak pernah merasakan menganggur, juga dorongan ibu saya agar saya terus bekerja, maka dalam diri saya terbentuk karakter wanita pekerja.

Namun kini alasan saya bekerja sudah berbeda. Saya sekarang adalah seorang single parent dengan dua anak. Mau tidak mau saya harus bekerja dan mencari nafkah bagi kehidupan kami. Jika datang masanya tidak bersemangat kerja, entah itu karena ada masalah dengan bos, atau masalah dengan pekerjaan yang tidak selesai-selesai, saya akan menatap foto buah hati dan melecut diri saya untuk kembali bangkit dan bersemangat lagi, demi mereka.

Perpustakaan selain sebagai tempat penyimpanan buku, juga gudangnya informasi. Banyak ilmu yang saya dapat selama bekerja di sini. Jika saya ingin mempelajari hal tentang alam semesta, saya bisa membaca di buku sains. Jika ingin mengetahui tentang mendidik anak saya bisa membaca dari buku koleksi parenting. Bahkan jika saya ingin membaca komik atau novel sebagai hiburan saya bisa meminjam dari perpustakaan tempat saya bekerja. Alhamdulillah selama sepuluh tahun bekerja di sini saya tidak merasakan bosan.

Bekerja di perpustakaan tidak seperti yang disangka orang-orang: membosankan, kerjanya ngelap debu buku saja, tidak ada perkembangan apa-apa, dan sebagainya.Tapi itu semua salah. Justru di kantor ini, saya menemukan bakat menulis saya. Saya yang dulu paling membenci pelajaran mengarang, kini malah bisa menulis berkat buku-buku yang menginspirasi saya di perpustakaan ini. Hasilnya, satu novel dan lima buah buku kumpulan cerpen yang saya tulis bersama teman-teman saya berhasil tembus penerbitan dan dijual di toko buku. Bangga rasanya melihat buku dengan nama saya terpajang di toko buku. Ditambah lagi bos saya yang mengetahui bahwa saya telah menerbitkan novel, membanggakan saya di depan kolega-koleganya membuat saya makin percaya diri dan bersemangat untuk menggali ilmu sebanyak-banyaknya. Saya berharap hal tersebut bisa memberikan motivasi pada anak-anak saya kelak, bahwa dengan bekerja maksimal dan memanfaatkan setiap sumber informasi dengan baik, maka kita semua akan bisa mendapatkan hasil yang baik pula.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s