La Tahzan for Single Mothers Review

Reviewed by: Rini
Rating: 4 of 5 stars

Meskipun masyarakat telah mengklaim diri modern, canggih, dan sebagainya, pandangan miring terhadap para wanita yang berstatus janda [apa pun alasannya] belum juga pupus. Itulah sebabnya mereka yang mengambil keputusan untuk hidup sebagai single mother memerlukan keberanian sangat besar, terlebih dukungan dari orangtua dan saudara.

Pada prinsipnya, gagasan yang dikemukakan Sylvia L’Namira dalam buku ini cukup menarik. Ia berterusterang memaparkan segi-segi kehidupan seorang ibu yang mencari nafkah untuk kelangsungan ekonomi keluarga, khususnya dua buah hatinya, risiko-risiko yang harus dihadapi, pembatasan sikap yang mau tak mau harus dilakukan seperti tidak berlaku terlalu ‘heboh’ ketika bergaul dengan tetangga mengingat stigma janda masih begitu mengundang kehati-hatian.

Cerita berbau tips ini dibaurkan dengan kisah-kisah single mother yang bukan bercerai, melainkan suaminya meninggal dunia. Fokus topik agak kabur karenanya, meski penulis mungkin ingin menunjukkan bahwa single mother pada intinya memiliki kesamaan. Satu hal yang perlu diacungi jempol, penulis sendiri tidak menguak terlalu lebar apa yang menjadi penyebab keretakan rumah tangganya, yang tentu saja sama sekali bukan urusan orang lain.

La Tahzan for Single Mothers mengandung pengalaman beberapa wanita yang menyandang status serupa. Sayangnya, kontradiktif dengan penulis, mereka cenderung leluasa membeberkan masalah dengan mantan suami sehingga bagian buku ini tersuruk menjadi biasa-biasa saja. Tidak ada keberbedaan dengan yang sudah ada.

Alangkah lebih baiknya apabila kisah anak-anak yang orangtuanya berpisah, yang berada di penghujung buku, digali lebih jauh. Juga bukan menyangkut apa-apa yang terjadi di masa lalu, melainkan bagaimana kondisi kejiwaan mereka, cara mengatasi gunjingan lingkungan, serta sikap terhadap kedua orangtua dalam paparan yang terperinci. Bukankah cukup kerap anak-anak menjadi alasan seorang istri atau suami bertahan dalam bahtera yang sudah porak-poranda, padahal perpisahan yang sehat lebih menyenangkan dibandingkan perkawinan yang sakit?

Membaca buku ini, terlintas pertanyaan: Adakah La Tahzan for Single Fathers?

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s