La Tahzan for Single Mothers Review

Reviewed by: Susie Evidia

Menjadi orangtua tunggal membutuhkan energi ekstra. Bagaimana menikmatinya?Idealnya tak ada wanita yang mau menjadi single mother. Namun, pada akhirnya status itu bisa menimpa siapa saja. Entah itu ibu rumah tangga biasa atau wanita karier yang sedang berada di posisi puncak.

Status itu bisa terjadi akibat perceraian, pasangan meninggal dunia, atau suami menghilang kabur entah ke mana. Sayap pun terkepak tinggal sebelah, sedangkan kehidupan terus berjalan. Siap atau tidak siap, menjadi single mother harus siap melanjutkan kehidupan ini. Mampukah?Single mother adalah gambaran seorang perempuan tangguh. Segala hal berkenaan rumah tangga ditanggung sendiri. Mulai membereskan rumah, mencari nafkah keluarga, dilakoni sendiri.

Tugas pun berfungsi ganda sebagai ibu sekaligus ayah; yang menga-suh, membesarkan, dan mendidik anak-anak. Semua ini bukanlah hal yang mudah. Apalagi jika dialami kaum perempuan yang manja, kurang tangguh, dan sangat bergantung pada orang lain. Namun, nasib harus tetap dijalani.

La Tahzan for Single Mothers menjadi buku yang menarik. Ada banyak pengalaman berkaitan dengan single mother di buku ini. Bukan hanya pengalaman pribadi penulisnya -yang kebetulan sebagai single mother akibat perceraian dengan suaminya. Tertuang pula pengalaman kaum hawa lainnya yang memiliki status serupa. Anak-anak didikan single mother pun mencurahkan perasaannya di buku ini.

Pengalaman sebagai single mother, mayoritas mengakui, pada awalnya sangat berat. Seiring perjalanan waktu semua menjadi biasa. Pada akhirnya keadaan itu menjadi rutinitas yang ringan dijalani sehari-hari. Namun, di tengah perjalanan masih ada godaan, kerikil-kerikil yang harus dilalui. Harus disadari, menjadi single mother sering menjadi sorotan masyarakat. Bukan sekadar sorotan terhadap status janda, tapi juga sorotan kepada anak-anak.
Perhatikan saja ketika ditinggal mati suami, tetangga, saudara, atau masyarakat mengatakan, “Kasihan ya, anaknya masih kecil-kecil sudah ditinggal ayahnya.” Pernyataan berbeda ditujukan kepada pasangan yang bercerai, “Nggak kasihan sama anak-anaknya yang masih kecil-kecil.” Umpatan sadis ditujukan kepada ayah yang kabur meninggalkan keluarga. “Pria tak bertanggung jawab, tega-teganya meninggalkan keluarga. Anaknya masih kecil-kecil lagi.”

Berkenaan dengan nasib anak-anak, penulis buku ini berbagi strategi membesarkan, merawat, dan mendidik anak-anak. Hal ini sangat penting bagi single mother, di tengah pembagian waktu dan perhatian yang terpecah, anak-anak harus tetap menjadi prioritas utama. Karena kehadiran anak-anak bagaikan hawa bagi kehidupannya. “Aku meyakini pembentukan anak menjadi pribadi yang saleh dan salehah sangat tergantung bagaimana cara kita mendidik mereka. Yang terpenting adalah contoh dari ibunya.”

Waktu untuk sendiri

Di tengah kesibukan mengurus anak, mencari nafkah, dan menangani masalah sendirian, tak semestinya single mother melupakan dirinya. Lupakan sejenak rutinitas yang menguras tenaga dan pikiran. Pilih waktu yang tepat untuk sejenak memanjakan diri sendiri.Banyak pilihan melakukan relaksasi, perawatan ke salon, toko buku, olahraga, cuci mata ke mal, atau yang murah, sekadar jalan-jalan ke taman. Apa pun yang membuat enjoy bisa dijadikan alternatif me time.

Me time sangat dibutuhkan, karena dengan memanjakan diri, single mother akan menghargai dan menyayangi dirinya. Kedua hal tersebut diakui atau tidak menjadi masalah bagi sebagian single mother. Mereka tak mampu lagi menyayangi diri sendiri, karena perasaan tak bertiarga, perasaan bersalah, dan sebagainya. Memanjakan diri tidak harus berlebihan, setiap hari ke salon, belanja ke mal, sementara anak ditinggal sendirian di rumah. Single mother adalah wanita dewasa yang mampu mengelola waktunya dengan arif untuk semua hal. Ada saatnya fokus memperhatikan anak-anak, urusan keluarga, dan tak boleh melupakan diri sendiri.

Selain me time untuk relaksasi, single mother harus memanfaatkan waktu merawat kesehatan dan kecantikan. Tanpa perawatan diri, penampilan single mother semakin kusut, kusam alias lap dapur. Anak-anak pun bakal protes melihat penampilan ibunya yang kucel. Merawat diri bukan berarti setiap han perawatan ke salon atau dan-dan full make up. Bukan begitu. Yang paling penting sempatkan waktu berolahraga. Beda loh, melakukan pekerjaan rutin di rumah dengan berolahraga. Tak sempat ke tempat gym, bisa berolahraga ringan di pagi hari, atau mengikuti gerakan senam, yoga, melalui DVD. Lebih asyik lagi jika olahraga dilakukan bersama anak-anak. Hari libur bersepeda bersama menyusuri taman, kebun, atau jalanan yang belum pernah dilewati. Tips ini tak sekadar membuat sehat, bugar, dan cantik, tetapi semakin mempererat hubungan ibu dengan anak-anak.

Perlu juga diperhatikan pergaulan bagi single mother. Lupakan kesedihan, dan selalu mengurung diri di rumah, karena tidak akan mengubah nasib. Ingat single mother bagian dari masyarakat, lingkungan rumah, kantor sehingga harus tetap bersosialisasi.Hilangkan rasa minder dengan status janda yang melekat di single mother. Saatnya membuka pergaulan yang luas. Namun, pilih pergaulan yang positif agar citra sebagai single mother tetap baik.Pergaulan yang luas banyak manfaat bagi single mother. Wawasan semakin luas, bisa berbagi pengalaman atau curhat dengan teman-teman, sehingga beban sedikit berkurang.

Single mother pun harus mampu mengembangkan dirinya. Janganlah merasa cukup walau sudah bekerja di sebuah perusahaan mendapat gaji yang besar. Gah lagi kemampuan ibu di bidang lain yang bermanfaat bagi keluarga dan lingkungan. Ikuti kursus memasak, menjahit, atau komputer.Penulis buku setebal 191 halaman ini memilih kursus cepat membaca Alquran, menulis steno, dan ingin belajar bahasa Korea. Semua keahlian ini bermanfaat tak hanya untuk diri sendiri, melainkan bisa mengajar di lingkungan sekitar atau teman-teman kantor.

Masih ada tips lain yang ditawarkan di buku ini, di antaranya bisnis mandiri bagi single mother. Penulis mengajukan beberapa bisnis yang pas dilakoni single mother, yaitu ada di halaman 99 hingga 102.

Referensi

Single mother melakukan segala hal sendiri, tapi bukan berarti hidup di dunia ini sendirian. Janji Allah setelah kesulitan pasti ada kemudahan. Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Penulis buku ini mencoba menanamkan keyakinan menjadi single mother akan terasa ringan jika mengetahui strategi dan mau membuka diri. Simak pula pengalaman para single mother yang sanggup melalui kehidupan ini, dan mengantarkan anak-anak ke gerbang masa depan. Jangan lewatkan membaca curhat Violetta dan Dede sebagai anak-anak asuhan single mother. Pengalaman menyentuh, sedih, dan akhirnya melegakan ini bisa dijadikan referensi bagi para orangtua yang berniat pisah (cerai).

Walaupun buku ini berkenaan single mother, bukan berarti hanya layak dibaca para single mother. Mereka yang masih lajang, ibu-ibu rumah tangga, bahkan pria pun disarankan membaca buku ini. Bagi kaum hawa buku ini bisa menjadi gambaran, ketika status tersebut tiba-tiba menimpa Anda (cerai, suami meninggal).Sedangkan kaum Adam bisa menyadari lebih tentang tanggung jawabnya, agar tak semena-semena meninggalkan anak-istri. Suami pun bisa mempersiapkan diri bekal-bekal siapa tahu dipanggil lebih dulu oleh Yang Mahakuasa.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s