Dari acara bedah buku: La Tahzan for Single Mothers di Moz5 Salon

Dari tulisan Retno Wulandari

I am single (not available) lady and not yet a mom. Karenanya, ketika undangan bedah buku “La Tahzan for SIngle Moms” dari Moz5 Salon mampir ke inbox, saya gak terlalu menanggapi. Apalagi event ini digelar Sabtu pagi yang nota bene adalah hari hibernasi. Hanya saja, undangan secara personal dari Yulia Astuti, sahabat yang owner Moz5 Salon membuat saya sungkan menampik. Inilah salah satu kelemahan saya …

Pasca bertarung melawan kantuk, sepasang kaki jenjang ini *ehm* akhirnya mendarat juga di salon khusus perempuan yang menjadi lokasi kejadian. Ruang berkapasitas 30 kepala itu dipadati kaum Hawa (ya iyalaaaah salon pereu! *pentung-pentung*) yang antusias menyimak sesi berbagi tadi pagi. Mustinya, selain Sylvia Namira sang penulis, ada Inna Muthmainah dari pakar psikologi. Kendala anak sakit memberi sumbangsih pada absennya psikolog yang biasa mengisi rubrik curhat di sebuah majalah Islami itu. Dan untuk melengkapi, satu nara sumber seorang single mom yang sudah cukup berumur didatangkan.

Betapa menakjubkan Tuhan menciptakan mahluk yang konon diambil dari iga pria itu. Meski kerap dianggap warga negara kelas dua, perempuan adalah ciptaan-Nya yang paling tangguh yang pernah ada. Mohon singkirkan genus Periplaneta (kecoa -noted) dari dalam daftar karena kemampuannya bertahan tanpa evolusi sejak bumi diciptakan. Kecoa dan manusia itu beda filum ya… *sodorin buku taksonomi hewan*. Betapa tidak, pengibaratan sebelah sayap bagi seorang single mom nyatanya tak membuat mereka lunglai dan mengiba dalam hidupnya.

Tujuh penulis dalam buku ini, dengan gaya bahasa masing-masing menuturkan kisah perih berjuang sendiri sepeninggal pasangan bernama suami. Menakjubkan dan apresiatif, terlebih saya berkesempatan menyaksikan sendiri dua single moms tangguh itu berbagi. (Satu dari mereka memiliki putri berkebutuhan khusus). Predikat “janda” yang gak jarang mengandung stigma negatif di mata masyarakat, kekhawatiran akan penghasilan, hingga permasalahan psikis anak, sampai gak terpenuhinya hak mantan istri (dan anak! woow….) adalah permasalahan yang biasa ditemui para single moms. Terkenang seorang teman yang juga memilih berpisah dari pasangan hidupnya, saya layak mengacungkan ibu jari pada mereka. Jangankan bercerai, patah hati diputusin pacar aja mungkin udah bikin banyak cewek merasa hidupnya berakhir sampai perlu menangis semalam… *lebay mode on*

Sounds cliche, tapi benar adanya, dukungan moril orang terdekat adalah obat yang sangat dibutuhkan ketika akhirnya perpisahan musti terjadi. Keluarga dan sahabat dekat, adalah golongan yang musti berada dekat untuk menguatkan. FYI, teman saya yang single mom itu juga pernah berpikiran untuk menghantar nyawa di pelukan rel KRL lhooo waktu baru bubaran sama mantan suaminya T,T *sigh*.

Single moms, secara otomatis juga berperan ganda sebagai pencari nafkah keluarga. Jangan berharap bakal rutin dipasok via transferan, meski secara hukum agama mustinya seorang perempuan mendapatkan hak nafkah zahir berupa uang belanja sampai dia menikah lagi. Kenyataannya, gak sedikit single moms yang kehilangan haknya meski pengadilan memutuskan nominal yang wajib dikirim sang mantan setelah putusan cerai diketok palu. It’s true dialami oleh teman saya yang single mom itu. Boro-boro dikirimin uang bulanan, jatah anaknya aja tiap bulan masih kena diskon dengan alasan pendapatannya sekarang berkurang… Haduuuuh >,< Etapi yaaaa…. Allah Maha Baik, yang namanya rejeki itu gak bakalan distop selama si manusia itu berusaha. Maka, tetap berprasangka baik pada-Nya sambil terus berupaya, insya Allah kebutuhan tercukupi. Pesan dari ibu single mom yang ikutan sharing siang itu (sowie lupa namanya uhuhuhu), apa pun bentuknya rejeki patut disyukuri. Termasuk pinjaman sekali pun.

Satu hal yang diamini 99% partisipan siang itu, adalah perlunya wadah yang menaungi para single moms untuk berbagi dan memperjuangkan haknya (bagi sebagian yang dizalimi lewat penyunatan jatah bulanan). Iya lah, kita yang jomblo aja begitu putus cinta butuh shoulders to cry on. Dan salah satu media komunikasi bertutur, adalah lewat milis. Hayoo hayooo silakan gabung buat curhat bareng!

Takjub juga bahwa ternyata predikat “single mom” juga layak disandang segelintir istri yang bersuami tapi gak menjalankan peran sebagai kepala rumah tangga dengan sebenarnya. Termasuk golongan ini, adalah suami-suami yang melepaskan tanggung jawab menafkahi keluarga tanpa alasan atau kategori junkies yang cuma bisa nyusahin *tendang ke Alaska*. Lain halnya, kalau memang ada kesepakatan bertukar peran di mana karena keadaan, istri lah yang keluar rumah menjemput rizki sementara suami menjadi Mr. Mom yang telaten dan piawai berkarir domestik. But it’s not that easy I think…

Berpisah atau tetap bersama meski biduk sudah nyaris karam, adalah pilihan yang masing-masing beresiko buat dijalani. Semua tergantung pada kesiapan kita menghadapi. Hipnosis diri untuk menghilangkan rasa takut terhadap apa pun, rasanya penting bukan cuma buat mereka yang di ambang perceraian tapi juga bagi kita yang masih single mingle. Ada kok perempuan yang memilih bertahan meski “menderita” di rumah tangganya, karena suaminya junkie dan gak berpenghasilan (oh nooo!) karena menganggapnya sebagai satu ujian yang suatu hari nanti berbuah manis sebagai efek dari kesabaran luar biasa.

Pelajaran yang saya tarik dari percakapan santai ini adalah, sebagai perempuan –meski gak wajib buat menggali terowongan penghasil duit– nyatanya perlu membekali diri dengan keterampilan yang bisa mendatangkan rupiah. Proven, waktu ayah saya ternasuk salah satu korban pemecatan PHK , ibu lah yang kemudian mengambil alih menjadi mesin pencetak uang lewat kepiawaiannya mengolah aneka hidangan tradisional dengan dukungan ayah sepenuhnya. Dan, dengan kemampuan multitasking yang dianugerahi Tuhan ibu saya masih sigap mengawal tujuh kurcacinya sampai dewasa *meneteskan air mata haru*.

Ah, betapa bersyukurnya saya jadi perempuan ^_^

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s