Kecewa

Judul di atas memang menggambarkan perasaan saya saat ini. As a mom, saya merasa tersinggung, marah dan kecewa karena ketidakadilan yang menimpa anak saya.

Memang tidak bisa dibilang tanpa sebab juga, karena semua akibat pasti ada sebabnya. Yang saya heran adalah, kenapa anak yang tak berdosa jadi terkena imbasnya. Itu kan nggak adil!

Oke, biar fair, let me tell you my story.

Anak saya dikeluarkan dari sekolahnya. Dia tidak bodoh, malah mendapat rangking 2 terus. Dia selalu membayar iuran bulanan plus uang ekstra kurikuler, dan aktif mengikuti kegiatan di sekolah. Bahkan bisa dibilang sekolah itu seperti rumah kedua baginya. Bagaimana tidak, dia sangat menyukai kegiatan di sekolah itu, menyukai semua teman-temannya, bahkan ketika sampai di rumah yang di sms adalah teman-teman sekolahnya. Soal apapun.

So, sebenarnya nggak ada alasan untuk mengeluarkan dia dari sekolah, kan?

SALAH!

Rupanya bagi satu orang pemilik yayasan tempat anak saya bersekolah ini, alasan apapun bisa menjadi alasan untuk mengeluarkannya, termasuk saat alasan itu adalah alasan pribadi yang tidak masuk akal.

Saya dan pemilik yayasan itu berteman sangat dekat. Well, 7 tahun bukan waktu yang sebentar untuk menjalin pertemanan, kan? Jadi bisa dibilang dia itu sahabat saya, mengingat saya tidak pernah memiliki seorang teman yang konstan selalu bersama selama itu. Kemana-mana kami selalu bersama, bahkan anak-anak saya sudah menganggap dia seperti tante sendiri.

Lalu saya memutuskan untuk memilih jalan lain dan rupanya dia tidak bisa menerima jalan yang saya pilih hingga akhirnya kami pun berpisah. Dia memutuskan untuk tidak mau bertemu saya dan anak-anak lagi. Fine. Itu hak dia. Namun karena anak saya juga masih bersekolah di yayasannya, saya pikir akan lebih baik saya beritahu kalau saya masih akan datang ke sekolah untuk minimal mengambil raport anak saya. Rupanya itu pun membuatnya berang, hingga saat penerimaan raport Juni 2013 kemarin, tanpa basa-basi dia mengeluarkan surat pindah untuk anak saya. Adil kah?

NO!

Tapi saya bisa apa? Saya bukan siapa-siapa. Hanya seorang wali murid yang diperlakukan tidak adil oleh pemilik yayasan tempat anak saya bersekolah. Dan tahun ini anak saya kelas 6. Apakah terpikirkan oleh dia bahwa anak saya bisa saja tidak diterima di sekolah mana pun, karena tidak semua sekolah mau menerima siswa pindahan saat anak itu sudah kelas 6 SD?

Saya rasa tidak pernah terbersit sedikit pun tentang itu di benaknya. Bagaimana mungkin? Dia tidak memiliki anak, dan tidak pernah berada di posisi saya. Dia justru berada di posisi yang menindas.

Saya rasa dia bahagia sekarang. Dan ya, saya memang berharap dia bahagia, untuk saat ini. Karena saya yakin, keadilan itu akan datang. Bagaimana pun, kapan pun.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s