Lakon Mak Biker #9: Macet.. aisshh!

Lagi-lagi tentang masalah klasik ini. Macet itu memang nggak ada obatnya kali ya? Di mana-mana, terutama hari Sabtu yang sudah dinobatkan sebagai hari macet se dunia, macet selalu ada. Nggak di daerah perkotaan, nggak di daerah pinggiran. Padahal kurang banyak apa jalanan: fly over, jalan tol, sampai jalan tikus, semua ada di sini. Tapi yang namanya macet, teteuuuubbbb!!

Saya setiap hari lewat jalan yang bisa di bilang pinggiran. Istilahnya melawan arus yang mo kerja di Jakarta. Tapi tetap saja, kegiatan menyebalkan yang namanya macet selalu dilakoni setiap hari.

Pertama kena macet di perempatan dekat rumah, trus harus melalui pasar + terminal yang semrawut sehingga macet sudah menjadi sesuatu yang absolute. Lalu sempat lancar lagi hingga akhirnya bertemu pintu kereta yang diujungnya ada pasar plus sekolahan. Bisa bayangkan menumpuknya kendaraan di pagi hari?

Dan setiap hari juga, saya perhatikan yang namanya petugas DISHUB yang berseragam biru-biru butek itu, berdiri di ujung kemacetan. Ketika kereta lewat dan pengendara motor menumpuk di kanan, mereka nggak ada. Ketika pintu kereta terbuka dan kendaraan berebut maju padahal saling menghambat, mereka juga nggak ada.

Ketika saya akhirnya berhasil melewati pintu kereta dan masuk ke pasar, angkot berhenti seenaknya nurunin atau nunggu penumpang yang belum nyeberang *duh!* mereka melengos. Pura-pura nggak lihat kali, karena mungkin saja mereka sudah bosan dengan semua itu. So, tinggallah saya yang dongkol setiap hari melihat petugas itu berdiri di sana, tapi kemacetan tidak tertanggulangi juga.

So, buat apa dong mereka di sana? Berseragam dan digaji dengan uang rakyat, tapi tidak membantu sama sekali. Apakah mereka senang magabut alias makan gaji buta? Mereka kan menafkahi anak-istri mereka, kok bisa?

Mungkin ada yang berpikiran, “Yah, lama-lama bosan juga kali, ngurusin kemacetan. Kasian, biar aja sekali-kali dia santai. Kan mereka juga manusia.”

Oke, mereka memang manusia, dan saya tidak bermaksud untuk tidak memanusiakan mereka. Tapi itu kan salah satu resiko pekerjaan, bukan? Jika mereka nggak mau ngurusin jalanan macet, ya kerjanya jangan di dinas perhubungan yang notabene ngurusin begituan. Gitu lhooo…!

So, seperti di twitter saya pagi ini, kalau melihat petugas dishub yang kerjanya melambai-lambaikan tangan bak pemilihan miss universe, di area yang jauhhh dari kemacetan, rasanya ingin teriak, “Lo pada bisa kerja nggak sih?” *gregetan*

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s