Lakon Librarian #2: Dimanakah Ketenangan Itu?

quiet1Semua pasti setuju, kalau perpustakaan itu adalah tempat yang sepi, tenang, dan menyenangkan untuk membaca atau belajar tanpa gangguan. Dan saking sepinya perpus, rata-rata librarian super happy jika melihat adapengunjung datang. Mau itu hanya untuk membaca koran atau cari buku.

Tapi tidak demikian yang saya alami. Sejak lulus kuliah, saya bekerja di perpustakaan sekolah. Tahu sendiri kan siswa sekolahan? Nggak produk import, atau produk lokal, namanya anak ya dimana-mana sama: brisik!

Pekerjaan pertama saya di sekolah internasional yang isinya anak-anak expat, level SMP. Yang paling susah dibilangin itu anak-anak berkebangsaan Korea. Mereka sukanya berkumpul di perpus, rame-rame, dan ngobrol dalam bahasa mereka. Awalnya pelan, tapi lambat laun suara mereka pun cetar membahana. Pernah saya tanyakan ke salah satu orang tua dari Korea, dan katanya itu adalah pelepasan stres mereka karena di kelas mereka seharian dipaksa untuk berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Ok, bisa dimengerti. Tapi tetap saja kan mereka di perpus. So, USIR!

Puluhan tahun saya bekerja di perpus sekolah tersebut, lalu saya memutuskan untuk pindah ke sekolah internasional juga, namun isinya banyakan produk lokal, alias anak-anak bangsa sendiri, level SD. Niatnya sih, di sekolah ini saya ingin sekali bisa berbagi ilmu kemampuan berpustaka, agar anak-anak bangsa sendiri bisa pintar dan cerdas dalam mencari informasi di perpustakaan.

Namun ternyata, mereka lebih sulit dibilangin ya Bo! Sejak awal tahun ajaran sudah diberitahu bahwa rule numero uno di perpustakaan adalah BE QUIET. Tapi teteup aja tuh yang namanya bocah, kalau sudah masuk perpus, apalagi di luar cuacanya panas dan mereka habis pelajaran olah raga, mungkin energinya belum terkuras semua, nambahlah main di perpus yang luas dan dingin ini. Akibatnya: USIR juga!

Pernah saya ngobrol dengan teman-teman soal pengusiran pengunjung perpus ini. Ada yang tidak setuju, dan sepertinya ada pula yang mengecam saya. But well, mereka mungkin bekerja di perpustakaan khusus (mungkin firma hukum, atau perusahaan minyak) yang pengunjungnya satu-satu saja. Makanya perpus mereka selalu sepi.

Tapi saya, bekerja di sekolah yang muridnya kelas 1 sampai kelas 6 ada 18 kelas, dan saya sudah membuat jadwal kunjungan perpustakaan bagi mereka untuk meminjam buku bersama kelas, plus mereka bisa datang untuk meminjam buku secara perorangan saat snack dan lunch time, ditambah lagi saat waktunya pulang anak kelas 1 dan 2 yang menunggu kakak/abang mereka di kelas tinggi harus menunggu di perpus. Bisa bayangkan kapan perpustakaan sepi?

Pustakawan kan juga manusia. Kadang saya ingin merasakan ketenangan agar dapat berpikir jernih. Maka anak-anak yang tidak disiplin, saya kirim keluar perpus, duduk di depan pintu dekat rak sepatu dan nggak boleh pergi kemana-mana. Atau mereka akan mengunjungi ruangan kepala sekolah.

Ssshhh…

Terdengar sadis?

Mungkin.

Apakah mereka jadi disiplin?

Nggak juga tuh. Padahal wakil kepala sekolah, bahkan kepala sekolah, sudah pernah mengomeli mereka. Yah, namanya juga anak-anak. Kudu banyak-banyak makan sabar ya. Walhasil tiap hari ada saja anak yang menjadi penjaga rak sepatu di luar perpus.

Trus mereka sedih nggak diusir gitu dari perpus?

Kelihatannya happy aja, soalnya mereka bisa ngobrol dengan suara keras sambil makan sisa snack mereka. *tepok jidat*

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s