Lakon Librarian #3: Komunikaaa—–si

emo1

Silence… is golden?

Bekerja di bagian pelayanan memang susah-susah gampang. Kalau kurang senyum dianggap jutek. Kurang sambutannya dibilang nggak ramah. Kurang pelayanannya dibilang magabut, alias makan gaji buta. Serba salah kan? Kita dituntut untuk selalu siaga, dan berada dalam kondisi prima. Nggak ada tuh yang namanya lagi nggak mood, lagi bête, lagi datang bulan, lagi nanggung ngerjain sesuatu. Nggak ada alasan! Pokoknya full smile!

Nah, kalau dari pihak saya sudah siaga dan siap melayani pengunjung perpus yang datang, giliran datang siswa-siswa yang sulit diajak ngobrol, ini dia masalahnya. Jangan salah, banyak siswa di sekolah saya yang membuat saya bingung setengah modar.

Contoh kasus:

Pagi hari, saat baru datang, papasan dengan seorang siswa. Saya tegur dong, “Good morning.” – Diam. Ya sudah.

Saat sudah di perpus, siswa lain membuka pintu untuk mengembalikan buku, saya sapa, “Hallo.” – Diam. Naro buku di kotak pengembalian, balik badan keluar perpus. Ya sudah.

Lalu saat jam istirahat, siswa kembali masuk ke perpus untuk pinjam buku. Saya sapa lagi, “Hi, sudah makan?” – Diam sambil nyelonong ke rak buku tanpa menoleh kiri-kanan. Ya sudah, nasib.

Saat sedang bekerja dengan serius, tiba-tiba seorang siswa berdiri di depan dan menyodorkan buku, tanpa mengatakan sesuatu. Sejenak saya cuekin, ingin tahu reaksinya. Ternyata dia juga tetap diam. Ya sudah, yang dewasa ngalah deh. Saya tanya, “Do you need anything?” – Diam.

Saya ulang pertanyaannya, dia hanya menyodor-nyodorkan buku yang ada di tangannya.

“What about this book?” Saya belaga pilon.

Diam, masih nyodor-nyodorin bukunya. Arrgghhh… *pingin jambak jilbab* Dia pikir saya bisa baca pikirannya kali ya? *tatap mata saya*

emo

Hmpphh..

“Do you want to borrow the book?”

Mengangguk.

“How do you say it?”

Diam.

“Miss, I want to borrow this book, please.” Saya ajarin.

Dia mengulang dengan suara super pelan. *sigh* ya sudahlah. Lalu saya cek recordnya dia, ternyata dia masih punya buku yang sudah overdue. Saya terangkan dalam bahasa Inggris bahwa dia masih punya pinjaman yang sudah terlambat, dan dia harus mengembalikan buku tersebut sebelum bisa pinjam buku lagi.

Diam.

Saya ulangi penjelasan tadi dalam bahasa Indonesia.

Masih diam.

Secara saya nggak ngerti bahasa kingkong atau bahasa kalbu, saya pun mulai putus asa menghadapinya.

“Kamu mengerti bahasa Inggris atau bahasa Indonesia?”

“Both.”

“Kamu dari Negara mana?” Padahal saya sudah tahu jawabannya.

“Indonesia.”

“Trus kenapa tadi tidak jawab waktu Miss tanya?”

Diam.

Pustakawan mana yang nggak stress menghadapi pengunjung perpus seperti ini? Saya akui, siswa kelas 1 dan 2 memang masih sulit diajak komunikasi. Well, kadang kelas 3 dan 4 juga ada sih yang begitu. Kemampuan berkomunikasi ternyata nggak mengenal level kelas.

Mungkin di rumah jarang diajak ngobrol sama orang tuanya. Atau mungkin waktu bayi nggak dikasih ceker ayam. *eh, itu mah biar cepet jalan ya?*

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s