Lakon Librarian #5: Beli Buku Terus, Kok Raknya Kosong?

Sudah dua kali pertanyaan ini diajukan ke saya.

“Rasanya kita selalu beli buku ya? Kok library kelihatannya kosong saja?”

Bagi saya kok pertanyaan tersebut terdengar janggal ya? Seolah saya melakukan sesuatu pada buku-buku yang sudah dibeli tersebut, sehingga mereka tidak muncul di rak. Saya jelaskan begini:

ImageDi sekolah ini, buku-buku perpustakaan tidak hanya disimpan di perpustakaan saja, melainkan juga di kelas-kelas. Jadi, masing-masing kelas memiliki perpustakaan kecil sendiri yang mereka sebut Reading Corner.  Untuk apa ada Reading Corner di setiap kelas? Tujuannya adalah jika siswa sudah selesai mengerjakan tugas yang diberikan guru, daripada mengganggu temannya yang masih belajar, lebih baik mereka membaca buku.

Buku yang dikoleksi di Reading Corner masing-masing kelas itu tidak hanya yang fiksi, tetapi juga yang non fiksi. Biasanya koleksi non fiksi disesuaikan dengan unit pelajaran yang akan mereka ajarkan, misalnya tentang Ancient China, atau Rainforest. Maka di awal tahun guru-guru akan mengambil semua buku dengan subjek tersebut guna dipajang di Reading Corner mereka. Sehingga jika ada penelitian atau mencari informasi, mereka tidak perlu membuang waktu ke perpustakaan, karena di kelas telah disediakan bahannya.

Lalu dari mana mereka mengambil buku-buku untuk Reading Corner mereka? Dari mana lagi kalau bukan dari koleksi perpustakaan. Dan ada berapa kelas di sekolah ini? Jawabnya adalah 19 kelas, dan tahun depan akan bertambah 2 kelas lagi. Tiap kelas akan mengambil buku sesuai jumlah murid mereka. Jadi fiksi maksimal 26 novel (atau buku cerita bergambar untuk kelas 1 & 2) per kelas, dan non fiksi dengan jumlah yang sama. Silahkan menghitung sendiri berapa buku yang keluar dari perpustakaan selama setahun pelajaran. Jadi, bagaimana perpustakaan bisa terlihat memiliki banyak koleksi, jika buku-bukunya sudah ‘dijarah’ sejak awal tahun? Dan itu semua akan kembali dalam waktu bersamaan di akhir tahun ajaran.

ImageProgram Reading Corner ini sudah ada sejak jaman dahulu sebelum saya terlahir di sekolah ini. Untuk buku fiksi, sebenarnya saya tidak terlalu masalah, karena masih banyak yang tersisa di perpustakaan. Hanya saja yang kadang membuat kesal, buku-buku yang baru dibeli pun diambil juga. Bisa bayangkan apa yang mau saya display jika yang tersisa hanya buku lama? Padahal buku baru lah yang menarik perhatian pengunjung. Triknya, saya sembunyikan saja buku-buku yang baru. He-he. Sebab, buku baru jika disimpan di kelas selama setahun, bagaimana siswa yang lain bisa pinjam, ya kan?

Sementara, untuk Reading Corner yang berisi non fiksi, saya sudah sering mengkampanyekan penggunaan perpustakaan untuk penelitian atau pencarian literature. Setiap awal tahun saya sampaikan jika mereka bisa membooking ruang perpustakaan untuk kelas mereka guna pencarian data, dan bahan-bahannya akan disediakan untuk siswa sehingga mereka tak perlu mencari-cari lagi di rak buku. Namun, ternyata mereka lebih menyukai cara lama,  yaitu menyediakan di kelas. Tapi tenang, saya akan terus berkampanye meskipun tanpa kehadiran kelas-kelas untuk pencarian data di perpustakaan, tempat ini sudah ramai juga sih.

So, kemana buku-buku di perpustakaan? Sudah sering beli, kok masih kelihatan kosong saja raknya?

Jawaban errornya:

“Kalau kesal, saya suka mengunyah kertas, bu. Saya ini kan reinkarnasi dari penunggang kuda lumping!”

Image

Advertisements

6 thoughts on “Lakon Librarian #5: Beli Buku Terus, Kok Raknya Kosong?

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s