Ibu, Cinta Tanpa Akhir

image

Selamat Hari Ibu

Mama,
Terima kasih.
Sudah memberikan masa kecil yang manis, semanis permen, padaku dan saudara-saudaraku.
Kami disekolahkan, diberikan kebebasan untuk bermain, dan menjadi anak-anak seperti anak kecil lainnya.
Kau selalu memastikan itu semua berjalan sesuai pada waktunya.
Tak pernah ku mendengarmu mengeluh. Apalagi sekadar mengeluhkan uang belanja.

Mama,
Engkau adalah perempuan paling kreatif.
Tak pernah berhenti belajar, meskipun kami, ketiga anakmu selalu mengganggu konsentrasimu.
Saat Engkau belajar merangkai bunga dengan bahan dasar buah, aku yang rajin memakan wortel-wortelnya.
Saat Engkau belajar menyulam, aku pun ikut meramaikan dengan membuat bola dari benang wol.
Saat Engkau kursus keahlian salon, kupikir aku pun harus mempraktekkan keahlianku dalam menggunting poni.

Mama,
Ingat tidak dengan warung kecil di depan rumah kita?
Itu adalah surga dunia bagiku dan saudara-saudaraku.
Kau tak pernah marah, meskipun modal tak kembali.
Sementara bagi kami:
“Supply makanan tiada akhir…!”

Mama,
Kini Engkau adalah seorang nenek.
Kasih sayangmu yang melimpah masih kau berikan pada kami anak-anakmu.
Meskipun kadang kami harus membaginya dengan anak-anak kami.
Dari 100% cintamu, mungkin kami hanya mendapat 20%. Selebihnya yang 80% untuk cucu-cucumu.
Namun tak apa.
Kami pun ingin anak-anak kami mendapatkan masa kecil mereka yang semanis permen.

Mama,
Aku memang tidak mengikuti kursus merangkai bunga, kursus salon, atau pun menyulam.
Aku bahkan tidak bisa membayangkan mengikuti semua kursus itu.
Namun aku banyak belajar darimu.
Menjalani kehidupan sebagai seorang ibu, aku jadi tahu.
Bagaimana sulitnya mengatur keuangan,
bagaimana repotnya menghadapi anak-anak,
bagaimana caranya memenuhi kebutuhan tiap-tiap anggota keluarga tanpa ada yang merasa tersisihkan.

Mama,
Baru kusadari, semua kemelut rumah tangga yang mungkin pernah kauhadapi, kau simpan rapat-rapat.
Sementara diriku?
Sedikit-sedikit mengeluh padamu.
Sebentar-sebentar membebanimu dengan masalahku.
Maafkan aku Ma,
Belum bisa membahagiakanmu.
Seperti di lagu:

“Jika aku besar nanti, ku pergi dengan ibu.
Ibu boleh pilih sendiri, kemana yang dituju.
Jika ibu pilih Jogja, Bandung dan Semarang.
Aku yang beli karcisnya.
Karcis kapal terbang.”

Mama,
Semoga Mama selalu sehat.
Semoga Mama selalu dilindungi Allah.
Semoga Mama selalu bahagia.
I love you.
Always.
In all ways.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s