Mengunduh Santriwati ke Ponpes

gambar-wanita-solehah-kartun-i141Biasanya yang namanya ngunduh itu kan kalo nggak file komputer, ya menantu. Tapi kali ini saya melakukan hal yang berbeda, yaitu mengunduh santriwati ke pondok pesantren. Yep! Anak bungsu saya, Mayra, akan melanjutkan pendidikan sekolah menengah pertamanya di pondok pesantren, di daerah Parung. Sengaja nggak milih yang jauh, karena saya nggak akan tahan kalau sulit menjenguknya. Jadi akhirnya saya putuskan untuk memilih yang dekat dengan lokasi rumah.

Dulu saat survey saya sampai ke Bogor, Gunung Menyan, dan sekitarnya untuk mendapatkan pesantren yang bagus dan sekiranya akan disukai Mayra. Namun pada akhirnya pilihan jatuh ke ponpes yang terjangkau dari rumah hanya sekitar 20 menitan. Hehehe… secara saya juga kan Mak Biker, jadi bisa kesana sendiri kalau mau anter-anter lauk, misalnya. Makluuummm, namanya juga emak-emak, pasti yang dipikirin kan makanan anaknya layak atau tidak.

Di hari mengantar Mayra, kami boyongan: bapak-ibu-kakak-nenek-kakek. Lengkap! 🙂 Kami ingin mengantarkan dia ke tempat barunya dengan riang gembira. Dan memang saat pulang, dia masih melambai-lambaikan tangan dengan wajah tersenyum. Bahkan saya sempat berfoto selfie dengan dia. Wajah lucu dan ceria dia tunjukkan.

Namun keesokan harinya ketika saya datang kembali untuk membawa barang-barang yang masih tertinggal, matanya sudah sembab, dan tiap membuka mulut untuk bercerita, air mata menetes di wajahnya. Hadeeeehhhh, jadi galau deh emak ini. Saya menahan diri untuk tidak menangis di depannya. Karena saya tahu, setiap anak membutuhkan waktu untuk beradaptasi di lingkungan baru. Kalau biasanya mereka hidup enak di rumah, apa-apa disediakan, kini mereka harus melakukan semua sendiri.

Saat buka puasa bersama keluarga, saya malah teringat Mayra karena melihat sepupu-sepupunya berkumpul dan tertawa-tawa. Menolak untuk menangis di hadapan keluarga, saya menahan air mata saya. Karena beberapa dari mereka masih menyayangkan keputusan saya mengirimkan dia ke ponpes.

Dalam perjalanan pulang setelah buka puasa, di atas motor saya tak lagi bisa membendungnya, dan saya pun sesenggukan di pundak suami. Saya teringat lauk apa yang dimakan Mayra saat buka puasa dan sahur semalam. Susahnya jadi emak yaaaa? Akkhirnya meleleh jugaaaaa :))

Seorang teman menasehati saya agar jangan selalu memikirkan Mayra, agar dia juga tidak kepikiran rumah terus. Dan juga jangan terlalu sering ditengokin agar dia bisa menyatu dengan lingkungannya dan beradaptasi dengan cepat. Ya, ya, saya akan berusaha. Mohon doanya yaaa.

Advertisements

One thought on “Mengunduh Santriwati ke Ponpes

  1. Pingback: Pondok Pesantren Bikin Galau | Melakoni Hidup

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s