Lakon Librarian #8: Iklan di Library

hqdefaultPernah perhatiin nggak beberapa iklan yang mengambil setting tempat di library? Yang saya tahu sih iklan coklat cadbury, iklan malkist saluut, dan pas saya browsing di Google, ternyata ada juga iklan KFC yang mengambil tempat library sebagai setting tempatnya. Apakah ini artinya library sudah mulai dilirik sebagai tempat favorit untuk hang out?

Memang, salah satu fungsi library adalah sebagai tempat rekreasi, yang artinya di perpus kita bisa menemukan hal-hal yang menyenangkan, selain membaca buku. Misalnya, main game, nonton TV, mendengarkan musik, dan lain sebagainya, tergantung layanan yang tersedia di tiap perpus.

Nah, kembali ke masalah iklan-iklan tadi, saya sebenarnya nggak terlalu memikirkan tadinya. Tetapi salah seorang teman saya sempat nyeletuk ke saya, gini, “Miss, itu kok iklan coklat, makan di dalam library sih? Bukannya makan di dalam library itu dilarang, ya?”

Saya jadi speechless.0-1

Kalau dipikir bener juga ya? Di sekolah, saya melarang siswa untuk membawa makanan/minuman ke dalam perpus. Saya bahkan memasang tanda dilarang makan/minum di pintu perpus.

Memang sih, di perpus kampus dulu, saya pernah menyelundupkan makanan dan mengkonsumsinya sambil baca buku. Yah, sebutlah itu kesalahan di masa lalu dan saya sudah bertobat. Etapi ternyata sekarang ada juga beberapa anak yang coba-coba melakukan itu di library. Mungkin ini yang disebut hukum karma. HA-HA!  Tapi tetep aja sih ketauan, mau mereka makan di meja, di pojokan, atau di antara rak. Lha wong saya kan mantan penjahat :p

Di beberapa perpustakaan, saya tahu membolehkan pengunjung untuk makan/minum di dalam. Bahkan saya pernah mengunjungi perpus Diknas, ada cafenya. Seru 🙂 Dan di ruang baca perpustakaan UI juga diperbolehkan membawa makanan/minuman. Bukan di ruang koleksinya, jadi buku-buku koleksi perpus tetap aman. Cuma sayangnya, kelonggaran itu tidak dibarengi dengan tanggung jawab pengunjung untuk membuang bekas makanannya ke tempat sampah, melainkan membiarkannya tergeletak di meja dengan (mungkin) harapan nanti akan dibersihkan OB. Oh, well… gak mo bahas soal pendidikan karakter di sini lah :p

So, saya rasa seiring berjalannya waktu, perpus yang dulu di jaman SMA saya adalah tempat membosankan yang cuma buat menyimpan buku paket, dan sama sekali nggak saya lirik kecuali kalo harus minjem buku paket, kini sudah berubah menjadi tempat yang asik, nyaman, dan menyenangkan untuk dikunjungi. Dulu sih boro-boro! Liat pustakawannya aja udah males!

Saya pun pernah mengundang beberapa teman untuk makan pizza di perpus dalam rangka merayakan kemenangan saya dalam lomba menulis. Meskipun habis itu dapet teguran dari atasan, he-he. Tapi saya perhatikan memang perpustakaan sudah mulai berbeda imejnya. Terutama sekarang, pustakawannya masih muda-muda, dan kreatif dalam mempromosikan perpustakaan. Semoga di masa depan, perpustakaan di Indonesia bisa maju dan menjadi jantung pendidikan, baik di sektor formal maupun non formal, dengan gedung-gedungnya yang keren and super cool, nggak kalah sama di luar negeri.

0

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s