Terpesona Review

Review by Hilda Ikka 

Belum pernah aku jatuh cinta seperti ini.

Begitu menginginkan seseorang di luar kendali hatiku.

Tapi, hati kita telah lebih dahulu merintis jalan.

Saling bicara dengan bahasa yang tidak mereka mengerti.

Jadi, bukan kebetulan kau dan aku ada di sini.

Saling tatap dan saling balas tersenyum malu-malu.

Ini takdir, kita sama-sama tahu itu.

Kau adalah jodohku—bahkan sebelum aku mengenalmu.

***

Minggu ini aku berkunjung ke perpustakaan. Begitu tahu ada stok baru di rak buku, langsung deh tanpa pikir panjang aku meminjam. Apalagi novel roman, lumayan untuk penyegaran. Dari dua buku yang kupinjam, entah mengapa aku memilih untuk membaca novel ini terlebih dahulu.

Novel yang merupakan hasil kolaborasi dari aL Dhimas dan Sylvia L’Namira ini berisi dua novelette. Judul pertama “The Promise” ditulis oleh aL Dhimas, menceritakan tentang seorang Regan Daniswara yang sedang menata kehidupan baru di kampung halamannya, Medan. Ia pergi meninggalkan kenangan di Jakarta serta jabatannya sebagai flight attendant. Di Medan ia tinggal bersama kakek neneknya dan mengasuh Hiro, anak kakaknya yang sedang mencari nafkah di Kalimantan.

Regan mulai mencicil impiannya untuk menjadi seorang bookstore owner. Berbekal sisa tabungan dan gaji dari pekerjaan freelancer di sebuah wedding organizer milik Fandi, tunangan sepupunya, ia mulai mencari lokasi serta belajar desain interior. Oleh Fandi, ia dikenalkan kepada Bagas, seorang desainer interior yang juga pemilik cakery bernama Serenade.

Meski kehidupan barunya berjalan baik-baik saja, namun setiap langkah yang ia tapaki selalu mengingatkannya kepada Bian. Bian..Bian, masa lalu yang harus ia tinggalkan. Karena ia tahu Bian harus mendampingi orang lain hingga akhir hayat, bukan untuk bersamanya. Ternyata tetap saja yang namanya move on  itu susah.

Regan sering menemui Fandi di Serenade untuk berdiskusi mengenai desain interior bookstore-nya nanti. Suatu ketika ia seolah terdorong untuk mendekati Carol, wanita paruh baya yang merupakan pelanggan tetap Serenade dan selalu ada saat Regan di sana. Carol yang selalu menikmati sajian seorang diri dan tenggelam dalam karya-karya sastra yang kelam.

Di penghujung cerita, Bagas akhirnya menyatakan bahwa dirinya menaruh perasaan pada Regan. Tentu Regan tak bisa, karena nama Bian masih terus mengusik hidupnya…

Judul kedua yakni “Chimera” yang merupakan goresan tangan Sylvia L’Namira menceritakan sebuah romansa yang dipertemukan lewat mimpi. Ganesh adalah seorang pelukis jalanan di Jakarta yang suatu hari mendapat order dari seseorang bernama Richard. Ia meminta Ganesh untuk melukis wajah tunangannya yang akan digunakan sebagai hadiah. Begitu Ganesh menerima foto ukuran postcard sontak darahnya berdesir. Ia mengenal perempuan dalam bentuk dua dimensi tersebut.

Sudah lama Ganesh dibayang-bayangi sosok Indi melalui mimpi. Indi yang merupakan teman masa sekolahnya. Dari mimpi-mimpinya tersebut ia telah melukis Indi dengan berbagai pose dan tema. Salah satu yang paling bermakna dari hasil karyanya adalah lukisan berjudul Sang Pengantin. Dimana sosok Indi ia gambarkan berlarian dengan gaun pengantin dan mengenakan liontin berbandul huruf GI.

Ganesh sempat gundah, bila memang perempuan dalam foto  tersebut bidadari pujaannya, tentu akan ia berikan lukisan Sang Pengantin sebagai hadiah pertunangan tanpa maksud mengacaukannya. Meski Ganesh tidak yakin Indi tunangan Richard ini merupakan Indi yang menari-nari di alam mimpinya, ia tetap bertekad untuk memberikan lukisan pengantinnya kepada Richard sebagai bonus.
Di hari pertunangannya tatkala Indi membuka bingkisan lukisan Sang Pengantin, ia amat terkejut. Selama ini ia pun dibayang-bayangi oleh mimpi yang sama. Bagaimana si pelukis tahu? Padahal Indi tak pernah menceritakan perihal mimpinya pada siapapun. Akhirnya Indi pun bertekad menelusuri jejak sang pelukis yang ternyata harus melalui jalan berliku untuk dapat bertemu.

Dari kisah cinta pasangan yang berbeda, seri GagasDuet pasti memiliki benang merah dari dua novelette yang ditulis oleh dua orang berbeda. Apakah itu? Temukan saja dengan membaca novel ini!
aL Dhimas bertutur dengan gaya lambat merayap. Ia tak begitu banyak menyelipkan plot dalam cerita. Kisahnya mengalir tenang hingga saat mencapai klimaks, ia memberi kejutan spesial. Aku berhasil terkecoh dibuatnya. Kita akan dibuat tak menyangka di bagian ending.

Sylvia L’Namira menuliskan Chimera sama seperti gaya aL Dhimas. Mengalir tenang menuju muaranya namun ia mewarnai perjalanan cerita dengan konflik batin para tokohnya. Konflik batin Ganesh yang harus percaya pada mimpi atau membuangnya jauh-jauh. Konflik batin Indi untuk meneruskan hubungan pertunangannya dengan Richard ataukah tidak. Serta konflik batin ibu Indi untuk merelakan keputusan anaknya demi kebahagiaan putri semata wayangnya tersebut.

Aku suka cara Sylvia L’Namira menyuguhkan epilog dengan deskripsi yang manis, membuat para pembaca mengkhayalkan kendahan yang sama di cerita meski hanya selembar.

Quote yang paling aku suka adalah saat terjadi percakapan antara Regan dengan Hiro di “The Promise”.

“Papa salah. Kangen itu buat orang yang kita sayang tapi kalo rindu buat orang yang BENER-BENER kita sayang.” Hiro memberikan penekanan pada kata ‘bener-bener’. Halaman 16.

Membaca seri Gagasduet satu ini, bener-bener gak rugi deh!

Judul buku: Terpesona
Penulis: aL Dhimas & Sylvia L’Namira
Tebal dan jumlah halaman: 13×19 cm , 268 hlm
Penerbit: Gagasmedia
Cetakan dan tahun terbit: Cetakan I, 2012

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s