Artikel di Majalah MORE Indonesia, edisi Agustus 2014

Beberapa bulan yang lalu, tepatnya di bulan Juli, saya mendapatkan email yang berisi undangan untuk menulis artikel di rubrik Attitude, majalah MORE Indonesia yang (sayangnya) mulai 1 November 2014 tidak akan terbit lagi.

Berikut ini artikel saya yang ditayangkan di majalah MORE Indonesia, edisi Agustus 2014. 

Warning: artikelnya agak panjang 😉 siapin camilan yang banyak :p

**

Memaafkan Tapi Tak Melupakan?
Maaf. Satu kata yang terdiri dari empat huruf ini memiliki kekuatan dahsyat yang mampu meluluhlantahkan kebencian, serta mengikis ego seseorang. Hanya dengan satu kata ini, orang mampu meredam kemarahan yang meluap-luap. Tak semua orang memiliki kemampuan untuk mengucapkan satu kata ini. Bagi sebagian orang, ini adalah satu kata yang paling sulit dikatakan, namun bagi sebagian lain, ‘maaf’ adalah kata yang sering diumbar.

Tidak semua orang memiliki kemampuan dan keikhlasan untuk meminta maaf. Sejelas apapun kesalahannya, tak terbersit sedikit pun dalam benaknya untuk meminta maaf. Ini biasanya terjadi pada orang yang selalu merasa benar dalam hidupnya. Tak ada kalimat, termasuk sindiran, yang mampu menggoyahkan pendiriannya. Dia tidak akan pernah merasa bersalah. Titik.

Sementara, ada orang-orang yang gemar mengumbar kata maaf. Sedikit salah, minta maaf. Memang, berani meminta maaf menunjukkan bahwa orang tersebut berjiwa besar. Namun ada pula negatifnya, yakni orang tersebut akan menyepelekan kata maaf itu sendiri. Kadang kata maaf yang meluncur dari mulutnya bukanlah pernyataan tulus dari dalam hatinya. Lebih ke kebiasaan meminta maaf saja.

Lalu bagaimana cara meminta maaf yang benar?

Tidak ada cara yang benar atau salah dalam meminta maaf. Jika hati nurani berkata bahwa yang kita lakukan adalah salah, dan mengakibatkan hal buruk pada orang lain, itulah saatnya untuk meminta maaf. Ada kalanya kita juga merasa tidak salah. Tetapi untuk menghindari konflik, memilih untuk meminta maaf terlebih dahulu adalah lebih baik. Karena tak ada masalah yang tak ada penyelesaiannya.  

Meminta maaf sebenarnya adalah hal yang paling mudah dilakukan. Setiap orang bisa mengatakan dirinya menyesal setelah melakukan satu perbuatan salah dan meminta maaf. Tapi bagaimana dengan orang yang dimintai maaf? Apakah semua orang bisa memaafkan dengan tulus tanpa embel-embel sakit hati? Konon, kata-kata yang terucap saat kita marah akan mampu melukai hati seseorang dengan dalam. Dan jika seseorang sudah tersakiti hatinya, akankah dengan mudah ia memaafkan? Itulah kenapa, saat marah sebaiknya seseorang menahan lidahnya dari mengucapkan sesuatu yang nantinya akan disesalinya. Tarik napas dalam-dalam, dan menghitung mundur adalah salah satu trik yang pernah saya baca dalam mengatasi kemarahan.

Sering saya mendengar orang mengatakan, “Saya sudah memaafkan kamu, tapi saya tidak akan melupakan apa yang sudah kamu perbuat.” Apakah itu termasuk dalam kategori memaafkan? Ataukah itu hanya semacam jawaban yang diberikan agar orang tersebut tidak lagi mengganggunya dengan permintaan maaf yang pastinya terdengar basi di telinga orang yang sedang sakit hati? Tak ada memaafkan yang masih mengungkit masalah. Tak ada memaafkan yang masih mengingat kesalahan orang lain. Memaafkan ya harus melupakan. Titik.

Semua orang pasti pernah mengalami kondisi dimana mereka harus memaafkan seseorang, atau meminta maaf pada seseorang. Saya sendiri pernah berada dalam kondisi seperti itu. Dulu, bagi saya pribadi, meminta maaf jauh lebih mudah dibanding memberi maaf. Jika harus meminta maaf, saya tidak akan sungkan meminta, bahkan kepada orang yang sudah menyakiti saya. Biarlah saya yang mengalah untuk menghindari konflik berkepanjangan.

Tetapi untuk memberi maaf, entah kenapa dulu itu terasa sulit bagi saya. Saya mencoba mencari formula yang tepat agar saya bisa memaafkan orang tanpa harus mengingat lagi keburukan yang sudah dilakukannya pada saya.

Titik balik dalam kehidupan saya adalah ketika sahabat saya menghianati saya, dan itu menyakiti hati saya. Berkali-kali dia meminta maaf, saya tak juga bergeming dengan pikiran dia harus menerima ganjaran dari kesalahannya, yaitu tak mendapatkan ketenangan hidup tanpa pemberian maaf dari saya.

Saya sering mendengar bahwa Tuhan Maha Memaafkan. Yeah, well, saya bukan Tuhan. Saya hanyalah makhlukNya yang hina dan kecil. Mana bisa disamakan dengan Tuhan yang Maha segalanya? Namun dari perenungan saya, saya pun mendapat pencerahan bahwa untuk bisa memaafkan orang lain, kita terlebih dahulu harus bisa memaafkan diri kita sendiri. Tuhan pastilah memiliki andil dalam perenungan saya, karena setelah memutuskan untuk berusaha memaafkan diri saya sendiri atas semua kesalahan yang saya lakukan, tidak putus asa pada ampunan Tuhan, serta belajar mencintai diri sendiri, saya pun mampu memaafkan orang lain yang telah berlaku tidak adil pada saya.

Memaafkan dan mencintai diri sendiri itulah kuncinya! Jika kita mampu melakukan kedua hal tersebut, tak sulit untuk bisa memaafkan orang lain. Menghargai diri sendiri adalah kunci untuk bisa mencintai diri kita sendiri. Jika kita sudah merasa nyaman dengan diri kita dan mampu berdamai dengan diri sendiri, percayalah tak ada satu orang pun yang akan bisa membuat kita merasa rendah. Dan pada akhirnya, kita pun mampu berlapang dada,

Perenungan yang saya lakukan bukan hanya sehari, seminggu atau sebulan. Saya membutuhkan bertahun-tahun untuk bisa mencapai kondisi seperti sekarang ini. Dan sekarang, kata maaf tak lagi membuat saya alergi. Hingga akhirnya saya yang pertama kali menghubungi sahabat saya tersebut, dan memulai lembaran baru tanpa mengingat lagi kesalahan di masa lalu. Saya telah memaafkannya. Dan hingga kini, kami masih bersahabat.

Saya juga pernah mengalami, meminta maaf namun malah balik disemprot oleh orang yang saya mintai maafnya. Saat itu terus terang saya dongkol setengah mati karena permasalahan yang terjadi sebenarnya disebabkan karena orang tersebut. Dalam hati saya menggerutu, “Wong sudah minta maaf, kok masih juga diceramahi bahkan disalah-salahkan.” Orang tersebut terlihat bahagia sekali bisa menindas saya saat itu. Dan karena niat saya adalah meminta maaf, terpaksa saya telan bulat-bulat isi omelannya sebelum akhirnya dia mau memaafkan saya. Yah, namanya juga manusia, pasti beda-beda kualitas dan cara dia memaafkan. Ada yang tanpa basa-basi memberikan maaf, ada juga yang seperti di atas tadi, memberi maaf setelah menceramahi dan mengeluarkan uneg-unegnya. Sabar aja deh kalau bertemu yang seperti ini.

Hari Raya Idul Fitri telah berlalu. Di Indonesia, maaf memaafkan seperti sudah menjadi tradisi yang bahkan dimulai sebelum bulan Ramadhan tiba. Saling mengirimkan ucapan permohonan maaf menjelang puasa adalah hal yang lumrah. Mengunjungi orang tua dengan membawa buah tangan adalah hal yang hampir wajib dilakukan. Saat hari raya tiba, kembali meminta maaf dengan harapan bisa kembali pada fitrah manusia yang suci.

Sesungguhnya, tradisi meminta maaf sebelum dan sesudah bulan Ramadhan adalah pembelajaran yang sangat baik bagi setiap orang untuk bisa meminta dan memberi maaf. Tak hanya dalam agama Islam, dalam agama lain pun sama. Penganut agama mana pun diajarkan untuk saling menyayangi sesama manusia. Jadi sebenarnya tidak ada alasan bagi orang yang tidak pernah merasa perlu untuk meminta maaf. Sebab pada dasarnya, tiap manusia tak pernah luput dari kesalahan dan dosa. Jika kita merasa tak pernah bersalah pada manusia lain, ingat saja dosa kita pada Sang Maha Pencipta. Itu saja cukup untuk mengikis ego yang ada dalam diri.

Aturan emas dalam hidup: perlakukan orang lain seperti anda ingin diperlakukan.

Dengan memaafkan, kita membebaskan diri kita sendiri dari beban batin yang memberatkan langkah hidup kita ke depan. Dengan memaafkan, kita juga membebaskan orang lain dari beban yang mungkin menghimpit hati mereka. Itu yang saya rasakan saat saya akhirnya dapat membebaskan diri saya sendiri dari kebencian dan perasaan dendam. Setelah memaafkan diri sendiri, lalu memaafkan orang yang sudah menyakiti, saya merasa plong, lega, tanpa beban. Dan hidup yang memang sudah berat terasa lebih ringan dijalani.

Jika masih ada perasaan yang mengganjal, jangan ragu untuk meminta maaf. Jika ada yang datang untuk meminta maaf, jangan ragu untuk memberikannya. Karena suatu saat kita pasti membutuhkan maaf seseorang, dan sikap seperti apa yang kita ingin dapatkan? Jika saat kita meminta maaf nanti kita ingin langsung dimaafkan, sikap itu pula yang sebaiknya kita praktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Ingatlah selalu untuk memperlakukan orang lain sebagaimana anda ingin diperlakukan.**
Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s