Lakon Librarian #10: Pustakawan di Era Digital

MISB Library Multimedia Room

MISB Library Multimedia Room

Pustakawan di jaman dulu tentu saja berbeda dengan pustakawan di era digital sekarang ini. Banyak perubahan yang terjadi seiring perkembangan teknologi di Indonesia. Contoh sederhana: pembuatan kartu katalog. Kalau dulu untuk membuat katalog memerlukan mesin ketik dengan kartu katalog yang di akses secara manual, kini untuk input data katalog buku pustakawan dapat melakukannya dengan data base yang menampung semua data perpustakaan. Mulai dari data buku, data anggota perpustakaan, data statistik peminjaman buku, dan lain-lain.

Pustakawan jaman dahulu memiliki tugas yang terbatas pada mengumpulkan dan meminjamkan pada pengguna perpustakaan. Pekerjaannya seputar buku dan koleksi perpustakaan. Kini, tugas seorang pustakawan sudah berkembang, mulai dari pembelian, pendataan, promosi, dan sebagainya.

Menonton Film saat Library Class

Menonton Film saat Library Class

Tidak hanya terpaku pada pendistribusian koleksi perpustakaan, pustakawan sekolah kini dituntut untuk dapat mengajarkan segala hal tentang perpustakaan. Bukan untuk mencetak siswa yang akan menjadi pustakawan, melainkan untuk mengenalkan perpustakaan agar nantinya siswa mahir dalam menemukan informasi di perpustakaan, yang pastinya akan sangat membantu dalam proses belajar mereka mulai dari jenjang sekolah dasar hingga ke universitas.

Di sekolah Mentari, untuk pengajaran library class, saya lebih banyak menggunakan materi pengajaran yang mengandalkan audio visual. Karena setelah saya amati, mengajarkan siswa dengan hanya berbicara dan membagikan lembar kerja hanya dapat menarik minat dan menjaga daya konsentrasi mereka dalam waktu paling lama sepuluh menit. Selebihnya mereka akan merasa bosan. Apalagi jika lembar kerja yang dibagikan sudah selesai mereka kerjakan. Oleh karena itu saya selalu menggunakan sarana proyektor (infokus) dan laptop. Untuk materi pengajarannya, saya dapatkan melalui sumber-sumber informasi yang saya manfaatkan secara gratis.

youtube-logoYouTube.

Saya mengumpulkan video yang berhubungan dengan pengajaran perpustakaan dari YouTube. Tak hanya video pengajaran, saya pun mencari film pendek, lagu-lagu, atau apa pun tentang perpustakaan yang sesuai dengan tema yang akan saya ajarkan.

TubeMate/YouTube Downloader.

Untuk mengunduh video yang saya temukan, aplikasi TubeMate/YouTube Downloader sangat membantu saya. Dengan sekali klik saja, video tersimpan dengan rapi dalam laptop dan siap untuk dimainkan atau dimasukkan ke dalam presentasi.

Google.google_200x200

Search engine yang satu ini sangat membantu dalam mencari berbagai informasi, termasuk materi pengajaran. Selain dari buku materi pengajaran perpustakaan, saya juga menambah sumber dari materi yang dibagikan pustakawan lain. Dengan modifikasi dan penambahan yang menyesuaikan situasi sekolah, siswa akan belajar hal baru setiap harinya.

Selain untuk mencari materi kelas, saya pun menggunakan Google untuk mencari ide display perpustakaan. Berbeda dengan perpustakaan jaman saya masih sekolah dulu yang hanya tembok dipenuhi poster pahlawan, kini tampilan perpustakaan harus lebih meriah dengan tujuan menarik siswa untuk datang dan berlama-lama di perpustakaan.

Prezi_LogoPrezi.

Untuk mengajar, dulu saya menggunakan PowerPoint. Namun sejak menemukan Prezi, saya dapat membuat presentasi yang interaktif dan menarik. Tidak hanya di kelas, saya pun menggunakan Prezi saat orientasi perpustakaan untuk guru-guru di awal tahun ajaran. Dengan background yang menarik yang dapat dipilih, saya semakin percaya diri mempromosikan perpustakaan dengan Prezi.

Library Orientation using Prezi

Library Orientation menggunakan Prezi

si8wcV053QI5Th_HMffHxTOH9qTB-tEot7FfQSgDOwOXT_Vk2gc2fyCyonfigWzRN88=w300Edmodo.

Ini adalah website yang diperuntukkan bagi para pengajar. Tampilannya mirip Facebook. Guru dapat mengirimkan pesan untuk seluruh siswa di kelasnya, mengirim tugas, atau memposting kuis melalui Edmodo. Sebagai pustakawan, saya menggunakan Edmodo untuk mempromosikan perpustakaan dengan memuat resensi buku koleksi perpustakaan dan mengajak siswa untuk menuliskan pula resensi dari buku yang mereka baca.

Mail_Chimp-672x200MailChimp.

Ini adalah aplikasi yang saya gunakan untuk mempromosikan perpustakaan melalui newsletter yang dapat dikirimkan melalui surat elektronik. MailChimp sangat mudah digunakan, berisi berbagai macam template yang dapat dipilih, dan untuk pengirimannya pun dapat disesuaikan. Misalnya hanya untuk guru, untuk siswa, untuk orang tua siswa, dan lainnya. Dengan membuat newsletter secara rutin, komunitas sekolah dapat mengetahui koleksi terbaru, kegiatan yang diadakan, serta perkembangan lainnya yang terjadi pada perpustakaan sekolah mereka.

Twitter.ht_twitter_logo_jef_120321_wblog

Media sosial yang satu ini memang banyak diminati. Jangan menganggap Twitter negatif sebelum merasakan manfaatnya yang positif. Saya membuat akun twitter atas nama perpustakaan sekolah tempat saya bekerja, dengan tujuan berbagi informasi tentang dunia perpustakaan dan dunia buku secara umum. Jadwal library class juga saya umumkan di twitter sebagai pengingat para follower yang terdiri dari guru dan siswa.

Gadget.

Perkembangan teknologi juga mengubah tren bercerita. Kalau dulu kegiatan story telling menggunakan buku-buku, kini dapat dikombinasikan dengan penggunaan tablet. Gambar-gambar tambahan yang tidak ada dalam buku dapat ditunjukkan dengan tablet.

Tablet juga saya gunakan untuk mengunduh aplikasi origami yang kegiatannya saya adakan seminggu sekali. Karena saya bukan pembuat origami yang ahli, saya membutuhkan bantuan ide dan langkah-langkah dalam pembuatannya.

Story-tell menggunakan tablet

Story-tell menggunakan tablet

Dengan begitu banyak sumber dan cara untuk mengajar, pustakawan janganlah membatasi diri dengan pekerjaan yang hanya berhubungan dengan pendataan buku dan pelayanan peminjaman. Cakupan tugas pustakawan otomatis berkembang seiring dengan pesatnya kemajuan teknologi di Indonesia. Masih banyak sumber-sumber yang dapat digunakan dalam pengajaran materi perpustakaan. Pustakawan dapat menggali lebih banyak lagi demi kemajuan diri dan perpustakaan yang dipimpinnya.

***

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba ‘Guru Blogger Inspiratif 2014’ yang diadakan oleh IndiTIK.

Advertisements

8 thoughts on “Lakon Librarian #10: Pustakawan di Era Digital

  1. Sekarang kota2 berlomba membuat perpus modern. Request dong mak, bikin postingan membuat katalog sederhana untuk koleksi pribadi di rumah. Termasuk buku pelajaran anak.

    Like

    • Prezi ini berdasar web. Jd bikinnya online, klo mo presentasi jg hrs ada koneksi inet. Dan bs dishare sm pemakai prezi lain. Gt jg sbaliknya kt bs liat prezi buatan org.

      Mungkin bs donlot prezi kita sndr klo pk yg berbayar. Coba2 aja buat. Gratis kok.

      Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s