Sekolah Tanpa Halaman

Sekolah, terlebih taman kanak-kanak dan sekolah dasar, selayaknya menyediakan juga tempat untuk bermain siswa didiknya. Karena fitrah anak-anak adalah bermain, dan secara naluriah mereka (terutama anak-anak yang bersekolah di taman kanak-kanak dan tingkat sekolah dasar) tidak bisa berjalan perlahan. Mereka selalu cenderung berlari.

Perkembangan kota yang pesat mendesak sekolah-sekolah untuk mengecilkan halaman sekolah mereka demi pelebaran jalan, atau bahkan ada yang kena gusuran untuk kemudian pindah ke daerah pinggiran dengan lahan sempit yang hanya cukup untuk membangun kelas-kelas. Anak-anak didik pun makin kesulitan mencari tempat untuk bermain. Walhasil mereka berlari-lari di lorong kelas dan ini menimbulkan masalah baru ketika mereka saling menabrak atau terjatuh dan terinjak oleh teman mereka. Belum lagi guru sekolah yang sudah stres dengan persiapan pelajaran, harus mendengarkan pula riuhnya siswa didik mereka yang berlarian di depan kantor guru.

Sekolah tanpa halaman ini juga menimbulkan masalah lain karena pastinya mereka tidak memiliki lahan parkir untuk kendaraan pengantar. Akibatnya, banyak kendaraan pengantar yang berhenti di pinggir jalan, dan menyebabkan tersendatnya kendaraan lain yang akan lewat. Akhirnya bisa ditebak, jalanan menjadi macet dan merugikan banyak orang yang kehilangan waktu di jalan.

Setiap pagi saya melewati beberapa sekolah yang berada di pinggir jalan. Di daerah jombang, Ciputat, terdapat satu sekolah yang berada di pinggir rel kereta. Memang ada tembok yang menghalangi, namun karena sekolah yang tidak disangka muridnya banyak itu tidak memiliki lahan parkir, akibatnya pengantar memarkirkan motor di pinggir jalan. Siswanya yang masih di taman kanak-kanak tidak bisa dilepas masuk ke sekolahnya sendiri hingga harus diantar, akibatnya motor yang parkir makin banyak dan jika pintu kereta ditutup, motor-motor tersebut menutup akses pengendara lainnya. Keadaan sekolahnya pun menyedihkan, seperti rumah kontrakan tingkat dua yang jangankan halaman bermain, untuk masuk ke kelas saja sepertinya harus melewati kelas lain.

Setelah melewati pasar Jombang, Ciputat, ada lagi dua SD yang pengantarnya menurunkan anak mereka di depan pagar sekolah. Dua sekolah! Bisa bayangkan kekacauan yang terjadi di hari Senin? Macet di rel, pasar, dan sekolah. Sungguh luar biasa negeriku.

**

Tulisan ini dimuat juga di Blog Detik.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s