Mimpi Buruk dan Peraturan BPJS yang Aneh

pic.from: danbomurah.blogspot.com

pic.from: danbomurah.blogspot.com

Malam itu hujan rintik-rintik. Angin berhembus dengan kencang. Cuaca memang sedang tidak bersahabat belakangan ini. Siang panas terik, malam angin kencang membawa hembusan dingin yang menusuk hingga tulang. Ini bukan penggalan lagu atau cerita, tapi pengalaman buruk saya di suatu malam.

Saya dengan pak suami membawa Mayra, si tengah saya, yang sedang demam. Sudah 3 hari dia demam, dan dari hasil cek darah di klinik dekat rumah 3 hari sebelumnya, dia positif tipes (saya nggak tahu cara nulis penyakit tipes ini, jadi saya tulis sesuai bacanya aja deh). Karena panasnya sudah 3 hari, saya paksa dia bawa ke rumah sakit.

Di satu rumah sakit di daerah Ciputat dengan inisial S.A., saya ke UGD. Penanganannya cukup cepat, dan dokter juga segera memeriksa May. Dari hasil lab 3 hari yang lalu, dokter langsung menyuruhnya dirawat. Saat itu dia khawatir karena trombositnya May 167rb. Saya pun ke bagian pendaftaran untuk mencari kamar. Di sana saya menyerahkan kartu BPJS, dan tak lama diberitahu bahwa kamar kelas 1 hingga kelas 3 untuk anak penuh.

Saya tanya, “kalau saya tidak pakai BPJS, ada kamar?” Karena saya pikir untuk BPJS dikasih kuota atau apa. Tapi susternya bilang kalau mereka tidak membedakan BPJS dengan yang biasa. Kalau ada kamar kosong pasti mereka akan berikan. Oke sip. Dan suster pendaftaran itu menyarankan untuk minta obat saja sama dokter buat malam ini, dan besoknya balik lagi, siapa tahu ada yang pulang.

Saya pun menyampaikan hal ini pada dokter. Tapi dokter bersikeras untuk memberi rujukan, karena alasannya trombositnya sudah sangat mepet ke batas normal (normalnya 150rb – 400an ribu gitu saya lupa) Saya pun bertanya rumah sakit mana yang menerima BPJS karena saya sama sekali belum pernah menggunakan kartu ini. Dokter tersebut menyebut RSUD Tangerang Selatan dan Fatmawati. Saya tanya RS yang dekat dengan rumah apakah menerima, ternyata ada yang menerima BPJS, ada juga yang tidak. Oh, masih begitu ya? Kirain kalau sudah wajib punya BPJS, semua rumah sakit akan bekerja sama, mau itu swasta atau yang premier sekali pun.

Anyway, singkat cerita saya ke RSUD, karena yang terdekat. Sampai di UGD sana, tanpa diperiksa (kami masih berdiri di depan pintu!) dan dokternya terlihat enggan, bilang kalau semua kamar penuh. OK. Dari pada dibahas soal attitude dokter RSUD yang memang sudah jempol turun, saya ceritakan saja bagaimana di tengah angin kencang dan gerimis itu kami harus mencari rumah sakit lain, dan akhirnya pilihan jatuh ke RS yang tidak begitu jauh dari rumah, kita sebut saja inisialnya B.B.H.

Sesampainya di UGD dengan membawa surat rujukan dan hasil test darah 3 hari yang lalu, dokter jaga (sekali lagi tanpa memeriksa anaknya) hanya melihat hasil lab tsb bilang kalau dia tidak melihat keharusan untuk dirawat. Karena dia lihat trombosit masih 167rb.

Jpeg

“Panasnya sejak kapan?” tanyanya.

“Kamis malam.” Dan itu sudah hari Minggu.

Dia hitung-hitung. “Oh, baru 3 hari ya?”

Baru? BARU? Dia bilang 3 hari panas itu BARU? Terus terang saya emosi, tapi saya coba tahan. Bisa bayangkan jam sudah menunjukkan pukul 12 malam, dan tanpa periksa sama sekali, dokter itu bilang seperti itu.

“Saya tidak masalah kalau memang anak saya harus pulang.” Saya bicara dengan nada rendah. Asli mau nangis! “Tapi saya minta tolong untuk dicek lagi saja darahnya, karena itu hasil lab hari Jumat.”

Baru deh si dokter lihat tanggal di kertas hasil lab. “Oh, ini test hari Jumat ya?”

*PLAK!* Rasanya dia yang kuliah kedokteran ya? Saya kan cuma pustakawan yang bloon soal medik.

Akhirnya May diambil darah lagi, dan hasilnya trombosit 110rb. See? SEE? Kalau saya nggak ngotot, apalah jadinya? Tapi saya diam aja. Saya biarkan dokter itu bicara. Dan bukannya nyuruh buru-buru ke pendaftaran untuk cari kamar, beliau, dokter yang terhormat ini, bilang begini:

“Ibu pulang saja dulu, besok ke sini lagi. Dan kita cek lagi darahnya.”

HA? Saya melongo. M-mak-maksud si dokter apa ya? Saya masih belum bisa mencerna. Pulang? Sebego-begonya saya yang nggak punya ijazah kedokteran, saya tahu kalau trombosit udah dibawah batas normal itu artinya udah nggak normal!

“Maksud dokter?” Saya kasih kesempatan dia buat njelasin pernyataan (maaf) bloonnya barusan.

“Iya, ibu mau pakai BPJS kan? Kalau pake BPJS, trombosit harus di bawah 100.”

WHAT THE #@$%^&*!!!

“Jadi tunggu anak saya kritis dulu, baru ditangani, begitu?” Saya sudah emosi. Sakit jiwa kali ya? Peraturan sampah macam apa ini? Saya udah bayar kartu itu sejak beberapa bulan yang lalu, tapi nggak bisa dipakai karena peraturannya sampah!

“Ibu, bukan kami yang membuat peraturan.”

Oke, OKE! Bukan mereka yang buat peraturan. Tarik napassss… Keluariiiinnn… Tarik lagi…. ISTIGHFAR.

“Saya nggak pakai BPJS, tolong tangani anak saya.”

Baru deh, setelah saya keluarkan pernyataan itu, ada tindakan dari mereka.

Boneka-danbo-patah-hati

pic.from: danbomurah.blogspot.com

So, kita wajib nih bikin kartu BPJS, tapi peraturan yang dibuat benar-benar nggak masuk akal saya sebagai seorang ibu yang panik, dan sedih anaknya sakit. Bahkan di UGD rumah sakit pertama yang saya datangi, saya baca peraturan emergency yang bisa menggunakan kartu BPJS, di antaranya adalah jika panas badan sudah 39 derajat. Oh my! Padahal May panasnya gak sampe 39 udah tipes, gimana kalau harus nunggu 39 dulu baru dibawa karena ingin pakai BPJS? Bagus kalau masih sempat ditangani, kalau keburu ‘lewat’? Naudzubillah…

Sebenarnya saya sangat mendukung lho program BPJS ini, buktinya saya langsung membuatkan untuk keluarga saya. Cuma yang bayi aja belum nih, karena belum sempat. Tapi sekarang saya jadi galau. Satu sisi semua orang wajib pakai BPJS, tapi kalau peraturannya harus nunggu panas 39 dan trombosit di bawah 100, dan mungkin banyak peraturan lain yang tidak tersosialisasikan dengan jelas, gimana saya nggak merasa rugi bayar? Mending uangnya saya tabung untuk uang kesehatan sendiri aja. Atau pakai asuransi swasta saja yang jelas manfaatnya.

** tambahan (tgl 16 Januari 2015)**

Sepertinya curhatan saya ini sudah berkembang menjadi diskusi yang tentu saja ada positifnya. Untuk para praktisi medis (dokter, suster, dan tenaga medik) yang telah ikut memberikan opini dan masukan, saya ucapkan terima kasih, dan mohon maaf jika ada tulisan saya yang telah menyinggung profesi anda semua.

Bagi pembaca yang sudah sharing pengalamannya, dan merasakan kejadian yang mirip dengan saya, terima kasih sudah berbagi. Saya jadi tahu kalau saya tidak sendiri.

Buat pembaca  yang sharing pengalaman positifnya dengan BPJS, saya juga mengucapkan terima kasih, paling tidak ada harapan bahwa saya juga bisa mendapatkan pengalaman baik itu. Saya hanya harus mempelajari prosedur, SOP, aturan main, atau apalah istilahnya.

Untuk yang sinis dan hanya memaki (maaf, ada beberapa yang saya hapus karena diluar konteks) saya yakin ada informasi yang anda dapatkan dari komentar yang ada di sini.

Sekali lagi terima kasih sudah mampir dan meninggalkan komentar positif.

Advertisements

498 thoughts on “Mimpi Buruk dan Peraturan BPJS yang Aneh

  1. saya nyantol ke blog ini karena rasa penasaran saya apakah benar masuk rs dengan BPJS dengan gejala DBD trombosit harus dibawah 100rb?, ternyata saya tidak sendirian,hari ini saya ditolak rs elizabeth semarang saat akan masuk igd, padahal saya sudah menunjukkan hasil lab anak saya 136rb trombositnya,(fyi saya cek pagi,dan siang baru ke elizabeth setelah menunggu hasil lab dan minta rujukan ke faskes pertama),dari igd saya disuru daftar ke poli umum, dari poli umum saya dilempar ke poli anak di lantai 3, dari poli anak saya dikasi tau suster kalo di elizabeth tidak bisa pake bpjs kalo trombosit belum dibawah 100rb, lalu disarankan untuk mendaftar antrian priksa dengan dr novita di poli anak, istri saya turun mau mendaftar dan satpam dengan santainya bilang pendaftaran pasien bpjs sudah habis, saat itu pukul 12 siang, katanya pasien bpjs harus antri mulai jam 5 pagi ( la apa kita bakal tau mau sakit jam brp) akhirnya saya bilang ke istri saya,” udah bun, bayar aja, daripada anak kita kenapa2″ saya ngomong gtu karena beberapa teman masa kecil saya ada yang meninggal gara2 dbd, akhirnya karena kita sudah males dengan pelayanan yang diberikan rs elizabeth, kita pindah ke rs gunung sawo, dan benar saja ternyata anak saya dalam tahap syok, sehingga langsung dipasang monitor untuk memantau ECG dan SPO2 nya,dan di cek ulang darah rutin nya,di sini saya biaya pribadi, takut kalau pakai bpjs nanti ditolak lagi, yang saya sesalkan dalam proses hari ini, kenapa misalnya mereka menolak pasien mbok ya ditolak secara halus atau misal kan prosedur nya trombosit di atas 100 rb tidak bisa dirawat, tapi kalo biaya prbadi bisa, di omingkan dari awal juga saya ga masalah, yang penting anak saya segera ditangani tidak dibuat ping pong kesana kemari

    Like

  2. ASU-ransi..
    Mari kita diskusikan hal yang mendasar dari kasus kasus bpjs..
    sebenarnya, kesehatan, pendidikan, dan segala kebutuhan dasar warga negara adalah tanggung jawab NEGARA, ya to?
    karena kita, sebagai WN sudah memberikan hak negara, dan negara seharusnya memberikan hak WN..
    apa hak negara atas WN nya? Pajak..
    dan apa hak WN atas negara? Pelayanan.. baik pendidikan, kesehatan, sandang pangan dan papan.
    nah, ini, negara coba mengalihkan kewajibannya kepada sebuah perusahaan berbentuk Asuransi..
    rakyat harus bayar lagi untuk mendapat pelayanan kesehatan..
    dan kita semua tahu, bahwa yg namanya perusahaan adalah “profit oriented”,
    alih alih memberi pelayanan, perusahaan asuransi malah menjadikan WN sebagai ajang “bisnis”..

    KACO !!!

    okelah, kita gak bisa menggugat negara dengan BPJS nya..
    ini, malah layanan asuransinyaaaaa… kisruh, ruwet, menyebalkan…

    dak tahu lah…

    Like

  3. Ya allah, ternyata begitu sy baca tulisan diatas, sama kasusnya seperti yg sy alami… bpjs sebenarnya memeras rakyat.
    anak sy dari hari selas panas, hari rabu sy bawa ke klinik, demamnya sampai 40,3, sama dokter klinik dikasih obat dari anus untuk menurunkan panas dan disarankan agar cek darah, hari kamis cek darah trombosit 170rb suruh pulang, dikasih rujukan agar bsk cek darah lg, hari jumat cek darah lg hasil trombosit turun jd 151rb, selisih 1rb dg batas normal, anak suruh bawa pulang lg, padahal sy ngelihat anak sy dah gak tega, mlm gak bisa tidur, muntah terus, dah sy kompres panasnya nggak turun2, mimisan jg.
    akhirnya sabtu pagi sy bawa lg ke rumah sakit yg sama, hasil cek darah trombosit 98rb, positif demam berdarah (DBD), ada gejala tifes dan maag jg. akhirnya dirujuk untuk dirawat. kami ditanya pakai jaminan apa, sy jwb sy pns ada askes. baru di respon baik, ya silahkan untuk urus administrasi di ruang pendaftaran, begitu urus kami termasuk di gol 1 (kelas 1), tapi dijwb ruangan penuh, kalo mau naik kelas. akhirnya kami sbg orangtua, ya ok lah demi anak akhirnya mjd ruang vip.
    mulai sabtu pagi dirawat, minggu pendarahan melalui mimisan sampai darah ngucur terus akhirnya hidung disumbat dg kassa yg dikasih cairan obat ktnya, sy hadapi dg sabar, sampai selasa trombosit mjd 31rb, … sebenarnya sy tidak hanya mengandalkan obat dari rmh sakit tapi selain minum air putih terus, sy beri jus jambu, sari kurma, wakasa produk dari CNI (inilah yg paling cepat naikan trombosit, tapi emang mahal,) wakasa tinggal sdikit sy lanjutin msh produk CNI : ester c, sunchlorella dan bioplus untuk mual), akhirnya hari rabu pagi trombosit naik jd 46rb, dokter bilang boleh pulang, suruh urus administrasi.
    begitu ke kasir di jumlah biaya Rp. 5.560.749, hasil coding (yg dicover askes/bpjs) hanya Rp. 1.751.000. jadi selisihnya Rp. 3.809. 000 (itu yg harus kami bayar.ketika kami tanya: jwbnya ya begitu bu hasil coding. akhirnya yach mau tak mau harus mau menerima keputusan itu, kami telpon saudara, tetangga, unuk mencarikan pinjaman uang tunai, krn memang kami (sy maupun suami blm waktunya gajian).

    dan sekarang anak kami rawat rawat di rmh dg obat herbal krn obat dari rmhsakit hanya 1 botol antibiotik.

    begitulah pengalaman kami baru se kali ini menggunakan bpjs dg kekecewaan sistem dan peraturan yg menguntungkan yayasan bpjs.

    Like

    • Jadi serba bingun ya? Padahal setelah menjadi anggota ternyata kepesertaan BPJS tidak bisa dibatalkan. Jadi kalau seperti saya tidak bayar-bayar karena kekecewaan saya yang begitu besar dan berniat tidak melanjutkan, itu tetap dihitung utang (katanya bagitu) Aneh, tapi ya sudah, lihat saja ke depannya bagaimana. Untungnya premi BPJS yang mau dinaikkan tempo hari ditolak. Fiuh, apa jadinya kalau pelayanan masih tidak memuaskan tapi minta iuran yang tinggi. Yang rugi siapa? Yang untung siapa?

      Semoga anaknya lekas sembuh ya bu. Salam buat keluarga.

      Like

  4. buat para pelayanan kesehatan suster maupun dokter yang pemalas, konyol, belagu, klo ga mau kerja pada keluar aja, orang yang waras dan masih mau kerja banyak jadi jangan pada belagu deh, BPJS juga bayar angsuran dan kami juga manusia dan kami juga beragama dan sama seperti anda, kecuali anda bukan manusia dan tidak beragama !!!

    Like

  5. Memang saya rasa ada yang kurang dengan aturan BPJS. mungkin dokter tidak dilibatkan dalam penyusunan aturannya. kita juga tidak bisa menyamakan pelayanan bpjs tetapi penyakitnya tidak sama. contohnya penyakit asam urat disamakan dengan tifus. sekedar bagi pengalaman, ibu saya pernah terselandung sehingga jempol kakinya cidera dan terasa sangat sakit, jadi saya bawa kerumah sakit, sesampainya di RS ibu saya dianjurkan untuk operasi kecil yaitu kuku harus dicabut karena dapat memperparah sakit jempol kaki ibu saya itu. biaya yang saya tanggung memnag tidak terlalu besar, sedikitlah bagi saya. tapi yang aneh ketika saya mengajukan pembayaran dengan bpjs, pihak rumah sakit mengatakan tidak bisa, karena penyakit ibu saya sebenarnya tidak urgent alias dapat ditangani puskes dan jika ingin ditangani di rumah sakit maka harus melalui rujukan dari puskes dulu.

    “Masalahnya adalah kejadiannya terjadi di hari MINGGU..!” bagaimana mungkin saya menunggu jam buka puskes kalo ibu saya saja sudah teriak kesakitan.

    Like

  6. Saya pengguna BPJS waktu anak saya batuk pilek berobat di Rs.Hermina dengan BPJS semua di permudah sama seperti yang lain nya,,gak ada yang namanya ribet dengan BPJS malah Alhamdullilah BPJS sangat membantu saya dan keluarga,,Sekian

    Like

  7. BPJS memang mempunyai alur prosedur yg agak aneh streek, mohon dipelajari sedetail mungkin agar persepsi pasien dengan dokter yg menangani tidak berbeda, dan semoga semua masyarakat dapat memahami alur prosedur BPJS yang sebenarnya sehingga dapat dipergunakan kartu BPJS tersebut dengan bermanfaat.

    Like

  8. Saya coba sharing dengan pengalaman saya.

    sekitar juli 2014 bapak saya terkena stroke ringan dan harus dirawat inap saat itu juga sewaktu periksa di RS Ken Saras Kabupaten Semarang. kebetulan keluarga kami sudah terdaftar di bpjs kelas 2 dan baru terdaftar selama 3 bulan. Total biaya yang digunakan selama bapak saya menjalani rawat inap dan periksa kurang leih hingga 12juta rupiah. Dan dengan bantuan bpjs bapak saya hanya membayar obat yang diberikan untuk rawat jalan saja.

    Mungkin kalau dari pandangan saya itu tergantung dari rumah sakit/ dokternya juga.
    Semoga diberikan yang terbaik.

    Like

  9. beda daerah, beda juga perlakuan BPJS dan klinik/rumah sakit yg bekerjasama
    di tangerang, utk minta rujukan ke rmh sakit saja prosesnya ribet, musti diperiksa di klinik tingkat pertama terlebih dahulu minimal 2x, baru dpt rujukan ke rmh sakit besar jika dianggap perlu oleh dokter di klinik tingkat pertama. jika tdk perlu, ya tdk akan keluar surat rujukannya.

    di bekasi, utk minta rujukan ke rmh sakit tinggal ngomong ke dokter yg ada di klinik tingkat pertama, ga pake periksa minimal 2x, lsg kluar surat rujukannya dan ga perlu menunggu pemeriksaan dokter di klinik tingkat pertama.

    kenapa bisa begitu?
    padahal sama2 peserta bpjs mandiri kelas 1
    ada yg pernah mengalami hal yg sama di daerah lain?

    Like

  10. Kl dari pengalaman saya, kebetulan dialami bpak saya. Sakit ke rsup di jogjakarta, rs swasta di solo 3x semua dilayani dengan baik dg BPJS. Saat di igd juga segera dilayani. Dan dokter IGD disana yg menentukan apakah bpjs berlaku atau tidak meskipun sudah masuk IGD dan sudha ada surat rujukan. Alhamdulillah berlaku terus. Karena memang gawat. Disana, dokter tetap memberitahukan apakah gawat/tidak kondisi pasien. Dan menentukan apakah berlaku BPJS atau tidak berlaku BPJS seacra langsung. Dan pasien tetap di rawat dg baik.

    Nah, bapak saya pake bpjs mandiri utk hak kelas 1. Karena penuh dan biasanya pelayanan kelas 1 kurang, kami minta naik kelas. Ambil kamar ranap diatas kelas 1. Misalnya VIP. Disana ada setiap RS ranap bapak saya rata2 1mingggu. Tapi di RS tsb tidak ada batasan max ranap dg bpjs. Bahkan ada yg ranap sampai 1 bulan juga boleh, jika kondisi memang tidak memungkinkan.

    Saat pulang, kami tinggal bayar selisih harga kamar VIP dgn kelas 1 saja. Karena obat yg dipakai di kamar VIP dg kelas 1 tetap obat generik yg masuk kriteria BPJS. Dan beberapa obat paten yg disebabkan pasien sudh tidak mampu diobati dg obat generik.

    Kl untuk aturan umum peserta bpjs yg masuk IGD memang ada tulisan berlaku jika panas pasien sudah 39 derajat. Saya pernah baca. Sekian pengalaman saya. Tapi saat ini jg ada beberapa aturan baru jg.

    Like

  11. saya cuma bayangin dalam waktu 10 th kedepan BPJS jd perusahaan yg assetnya sangat besar krn polis tsb hangus banyangin aja misal polis termurah aja 25.500 x 40jt jiwa (misal) = Rp1.020.000.000.000/bln yaa keluar biaya operasional dan tanggungan polis anggep masih sisa separonya tinggal 500milyar* *semua angka asumsi aja… padahal asuransi swasta dengan sistem menabung+manfaat asuransi aja udah dapat profit banyak aplg BPJS yaa. kalo dihitung bulanan emang asuransi swasta kliatan lebih mahal tp u/ jangka panjang uang tsb akan kembali lagi.. bpjs 25rb/ bln seumur hidup hangus duitnya. ditambah pelayanan yg ribet masuk RS harus ke faskes 1 dl minta rekomendasi itu aja blum tentu RS nrima.. duuh BPJS ribet banget prosedurnya… andaikan polis seharga BPJS tp pelayanan dan manfaat spt asuransi swasta mantab banget deh meskipun uang tsb hangus gpp deh.

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s