Pelayanan di Toko Swalayan

INDOMARET-3D

Toko swalayan

Dengan menjamurnya toko swalayan sekarang ini, hingga mencapai pelosok negeri, toko kelontong atau warung rumahan jadi makin jarang ditemui karena kalah bersaing dengan toko swalayan tersebut.

Jika dulu keberadaan setiap toko diatur jaraknya agar tidak terlalu dekat satu sama lainnya, sekarang mereka kalau tidak berhadap-hadapan dengan hanya dihalangi jalanan, mereka berdiri berdampingan.

Praktis, toko kelontong yang dulu terkesan serba ada, dengan barag dagangan yang rame dan lengkap, kini tergantikan fungsinya dengan toko-toko swalayan. Apalagi belanja di sana dingin kan tuh, pake AC secara. Kelebihan lainnya adalah di toko-toko itu tersedia mesin ATM, jadi bisa sekali jalan dua-tiga pulau terlampaui.

Nah, dengan fenomena itu, maka pembeli juga beralihlah ke toko swalayan untuk membeli keperluan dadakan mereka. Kalau untuk belanja banyak dan murah, toko agen sih tetap number one buat saya. Yang saya perhatikan adalah, pembeli cilik yang biasanya ke warung deket rumah, sekarang sudah berani ke toko, dengan membawa uang seadanya, kadang hanya 2 ribu – 5 ribu rupiah, untuk jajan.

Toko swalayan juga

Toko swalayan juga

Biasanya pembeli cilik ini suka datang bergerombol, masing-masing membawa jajanannya ke kasir (masing-masing beli 1 jenis) dan mbak/mas kasir harus melayani mereka satu persatu, karena mereka bayar sendiri-sendiri. Saya pikir, bisa jadi mereka belum jago berhitung, makanya mereka belanja di toko mungkin karena kembaliannya pas. Kan yang ngitung komputer 🙂

Pernah saya perhatikan, di salah satu toko, mbak kasir terlihat malas melayani, dan mendahulukan pembeli lain yang belanjaannya lebih banyak. Padahal anak-anak itu sudah mengantri. Dan namanya juga anak-anak, mereka tidak berani protes. Mungkin  mereka pikir kalau mbaknya marah mereka nggak boleh jajan di sana lagi.

Saya rada sebel sebenarnya dengan kelakuan mbak kasir tersebut. Sebab, pembeli cilik itu adalah pembeli potensial juga lho. Meski pun belanjanya satu-dua makanan kecil, tapi mereka belanja, kan? Mereka memiliki hak yang sama juga lho dengan pembeli lain. Apalagi mereka sudah antri duluan, dan nggak protes kalau ada ibu-ibu/bapak-bapak yang memotong antrian mereka.

Ya, sering saya perhatikan ibu-ibu/bapak-bapak yang memotong antrian. Bukan hanya antrian anak kecil, tapi juga pembeli dewasa lainnya (baca: saya) Kalau saya  yang diselak sih, saya selalu negur. Biarpun dia cuma beli satu barang, tetap harus antri dong?

Dan yang lebih ngeselin lagi, mbak/mas kasir tidak tegas dengan orang-orang yang memotong antrian ini. Mereka tetap dilayani. Harusnya disuruh antri dong! Para kasir itu harus tegas! *emosi*

Balik ke pembeli cilik, mereka juga pembeli lho. Mereka ke sana bawa uang. Dan mereka membeli barang yang dijual. Jadi tidak ada alasan untuk mengacuhkan mereka. Mudah-mudahan ada pemilik toko swalayan yang membaca postingan saya ini, sehingga pembeli cilik mendapat perhatian lebih saat mereka berbelanja.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s