Lakon Mak Biker #15: Sidang Tilang

pic credit: klikmenarik.blogspot.com

pic credit: klikmenarik.blogspot.com

Sesuai judulnya, yap saya ditilang, dan diharuskan datang ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan untuk menghadiri sidangnya.

Kejadiannya sebenarnya konyol banget. Jadi suatu sore, saya melewati jalan yang nggak biasanya saya lewati karena mampir dulu ke rumah ibu saya. Saya mampir ke tukang buah pinggir jalan, untuk membeli keripik singkong *dari sini aja udah nggak singkron, kan?* Di tukang buah, saya melihat banyak motor yang melipir dan duduk-duduk aja di sekitar tukang buah ini. Saya longok-longok, ternyata nggak jauh dari tukang buah ada razia.

Setelah membeli keripik singkong inceran (sumpe ini keripik enak banget, singkongnya empuk tapi kriuk, cuma 10 rebu saja) saya berniat melanjutkan perjalanan. Sepertinya saya kena tulah, karena melihat orang-orang yang duduk melipir itu saya mikir, “Ini orang-orang, bawa kendaraan nggak bawa surat, gimana sih?” Dan jalan lah saya membawa motor dengan santai karena yakin surat-surat saya lengkap.

Kalau ada razia kan cuma satu aja ya cara supaya nggak kena, yaitu jalannya deket pak Polisi, jangan ke tengah. Biasanya sih dilewatin tuh. Eh, kok ya hari itu saya diberentiin. Nah, pas pak Pol nyemprit priwitannya, tetiba di otak saya langsung seperti ada bohlam menyala kasih warning, “STNK lo kan di pak suami!” DUH! Pingin jedotin kepala tapi bingung kemana, akhirnya pasrah melipir dan dengan super pelan membuka sarung tangan, buka tas, ambil dompet, keluarin SIM. Beneran tu STNK nggak ada. Uggghhhh!!! Kzl bgt. Rasanya mo nangis, tapi ditahan.

Pak Pol nanya, “STNK nya mana?”

Saya, “ketinggalan, pak.” Pasang muka melas, sambil mikir ada 20rebuan nggak ya? Kali aja gitu mau diajak damai.

Eeeh, tanpa ba-bi-bu-be-bo pak Pol nulis-nulis sesuatu di kertas gitu, trus kertas merah itu dikasih ke saya, SIM dikantongin.

Pak Pol, “tanggal 19 sidang di Pengadilan Negeri Jakarta.”

Saya, “di mana tuh pak?”

Pak Pol, “jalan Ampera.”

Saya, “SIM saya pak?”

Pak Pol, “Saya tahan lah.”

Saya, “Kalo besok saya kerja trus ada razia lagi, gimana?”

Pak Pol, “Tunjukin aja surat tilangnya.”

*lmz*

Saya pun jalan pulang sambil misuh-misuh. Kenapa juga pake mikir negatif tentang orang-orang  yang melipir tadi. Maafkan saya yaaa, no more bad thoughts deh! *kapok*

Poster di Pengadilan Negeri

Poster di Pengadilan Negeri

Singkat cerita, sampailah di tanggal 19. Saya datang bersama pak Suami ke pengadilan negeri. Sebelum hari itu saya sudah mengumpulkan informasi tentang sidang tilang. Dari cerita beberapa teman yang sudah mengalami, sidang tilang nggak semenakutkan yang saya pikirkan. Saya bahkan minta pak Suami buat ngambil foto saya pas diri di depan pak Hakim nanti buat dipajang di blog *hihi dasar!*

Di parkiran, kami dihampiri seorang bapak calo yang langsung menanyakan kasusnya apa, surat apa yang ditahan, dan dia pun menyebutkan pelanggaran yang saya lakukan berikut pasalnya. Wah, keren! Dia pun menawarkan diri untuk mengurus kasus saya *tsah, kasus* dengan bayaran 100 ribu. Tapi kami sepakat kalau saya akan menjalani ini semua *secara HP udah fully charge, buat foto di ruang sidang*

Sampai di dalam, antriannya bikin keder. Wuidiihh sebanyak ini yang mau sidang? Pak suami mengambilkan nomor antrian dengan menukar surat tilang ke loket dan dapet nomor 285. Dan saat itu yang antri sidang baru di nomor 100-an. Oke, teman saya bilang dipanggilnya 20 orang sekali masuk, berarti cepet dong? Sip.

Eh, nggak lama, nomor urut 201 ke atas dipanggil lagi ke loket! Nah lho, apakah ada ruang sidang lain untuk nomor urut 201 ke atas? Ternyata sodara-sodara, urusan diselesaikan di loket! Untuk pengambilan SIM bayar 70 ribu rupiah. Untuk STNK bayar 80 ribu rupiah. Nggak lama pak suami jalan ke arah saya yang duduk manis nunggu, dengan membawa SIM saya. Kelar deh! Sementara yang di luar ruang sidang, nomor urut 1 hingga 200 masih antri buat sidang, saya udah naik motor pulang.

Moral of the story:

1. Jangan mengejek pengendara yang melipir saat ada razia, meski pun dalam hati. Karena karma itu ada, teman!

2. Jangan terlalu pede bakal sidang, sampe ngecharge HP segala buat foto-foto, soalnya yang di lapangan selalu berbeda dengan teori.

3. Jangan percaya calo. Kalo ngurus sendiri kan lebih murah, dan jadi tau besok-besok kalo kena tilang lagi nggak perlu mikir buat damai.

4. Jangan ketinggalan surat-surat kalo bawa kendaraan lah pokoknya.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s