A Mother’s Love

pic credit: generationalwomanhood.org

pic credit: generationalwomanhood.org

Cinta seorang ibu seharusnya menenangkan. Memberikan kedamaian bagi sang anak, dan menjauhkannya dari rasa was-was, karena ibu akan selalu ada di sisi anak. Apapun yang terjadi, dalam situasi apa pun! Ada sebuah kasus di sekolah tempat saya bekerja. Seorang anak, sebut saja namanya Dio, kelas 1 SD.

Di awal tahun ajaran, Dio tidak ada masalah apa pun. Bertemu dengan teman baru, lingkungan baru, guru baru yang berbeda dari masanya di TK sama sekali tidak membuatnya menangis di hari pertama. Bahkan dengan penuh semangat Dio bangun pagi, dan berangkat ke sekolah. Di sekolah pun, Dio dengan mudah mendapatkan teman, apalagi beberapa anak pernah sekolah di TK yang sama dengannya. No problem.

Namun, masuk ke triwulan ketiga, tiba-tiba Dio seperti mengalami kemunduran. Setiap pagi menangis dan minta ditemani ibunya belajar. Pokoknya ibu harus ada di sekolah. Setiap hari. Titik! Guru kelas berusaha menangani, lewat. Kepala sekolah, lewat. Counselor, lewat. Diminumin air yang sudah didoain, lewat. Hingga akhirnya ibu membawanya ke psikolog, itu pun lewat! Dio tetap menangis, meminta ibunya berada di sekolah. Setiap hari.

Hari berganti bulan, Dio tidak menunjukkan perubahan dan ibu mulai emosi saat fieldtrip sekolah, dirinya diharuskan ikut juga oleh Dio. Karena saat dia tak bisa melihat ibu di depannya, Dio akan menangis dan meminta guru mengantarkannya ke ibu. Sungguh hal yang membuat frustasi semua orang! Ibu pun berkata bahwa jika Dio menangis, sebaiknya pulang saja, dan esok tidak akan lagi bersekolah di sini. Mereka pun pulang. Saya bertanya dalam hati, apakah ibu akan benar-benar melaksanakan ucapannya? Uang pangkal masuk sekolah ini nggak murah lho!

pic credit: girlwhothinks.com

pic credit: girlwhothinks.com

Usut punya usut, awal dari semua itu adalah sang ibu pernah mengancam dia (mungkin saat itu ibu sedang lelah atau pms) dengan berkata bahwa dia tidak akan lagi menjemputnya. Ndilalah saat waktunya penjemputan, ibu terlambat datang karena macet. Sementara Dio berpikir bahwa ibunya benar-benar tidak akan menjemputnya. Menangislah dia, hingga sekarang. Kadang matanya sampai bengkak, dia pun mengaku lelah menangis, tapi dia selalu merasa cemas karena takut ibunya tidak menjemput. Sungguh dilema. Ibu juga pernah berkata bahwa Dio akan dicoba kelas gratis di sekolah lain agar dia bisa memilih mau sekolah di mana.

Sehari setelah fieldtrip Dio tidak masuk sekolah. Saya pikir mereka sedang trial di sekolah lain. Tapi keesokan harinya, mereka datang lagi. Dan Dio masih menangis. Di sinilah saya melihat ketidakkonsistenan sang ibu yang berakibat anak menjadi bingung. Kalau ibu sudah berkata A, maka A lah yang harus dijalani. Jika dia berkata tidak akan kembali lagi ke sekolah, kenapa lusanya balik lagi? Anak jadi tidak percaya padanya, kan? Maka wajar kalau Dio tidak percaya saat ibu bilang bahwa dia pasti akan menjemputnya. Bagaimana dia bisa percaya, kalau soal keluar dari sekolah saja ibu bohong?

That’s why, ucapan seorang ibu (juga ayah) pada anak sebaiknya konsisten. Jika mengeluarkan anak dari sekolah terlalu besar konsekuensinya, ya jangan bilang kalau dia akan dikeluarin dong! Cari ancaman lain yang bisa dipenuhi oleh orang tua. Lihat Dio sekarang. Saat ujian pun ibu harus duduk di dalam kelasnya. Bagaimana jadinya jika berlangsung hingga nanti sampai kelas 6? Atau SMP? SMA?

Saya yakin, ibu pasti sangat menyayangi Dio. Buktinya, walaupun mengeluh dia tidak suka menunggu anak di sekolah karena melelahkan, berat badannya turun, tidak bisa tidur karena masalah ini, dan lain sebagainya, ibu tetap ada di sekolah, dengan setia menunggu di kantin, menemaninya makan siang, dan pulang bersama anaknya. Demi anak tercinta bisa terus bersekolah. Dan yang terakhir saya dengar, mereka terus terapi ke psikolog untuk mencari tahu apa yang bisa dilakukan untuk mengembalikan Dio menjadi anak yang ceria kembali.

pic credit: blog.azadoptionhelp.com

pic credit: blog.azadoptionhelp.com

“A MOTHER thinks about her CHILDREN day and night. Even if they are not with her, and will love them in a way they will never understand.” ~Unknown.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s