Lakon Mak Biker #16: Bagaikan Jalan di Bulan

Mungkin memang begini ya nasib penduduk yang tinggal di perbatasan. Di kota A nggak diaku, di kota B juga nggak diaku. Akibatnya, pembangunan infrastrukturnya ya seadanya aja. Yang paling miris itu jalanan di daerah-daerah pinggiran. Meski pun kalau ada pemilihan-pemilihan calon apalah gitu, jalanan diaspal atau dicor, tapi kok ya masih ada aja yang nggak tersentuh? Apa cuma basa-basi aja ya?

pic credit: satelitnews.co

Kurang lebih spt ini, tapi lebih parah di depan kantor walikota Tangsel. pic credit: satelitnews.co

Yang bikin saya heran nih, jalanan di depan kantor walikota Tangsel. Setiap hari rute saya berangkat dan pulang kerja lewat situ. Jalanan di depannya aduuhhh menyedihkan. Padahal itu di depan kantor walikota lho! Enggak bercanda kalau saya bilang bagaikan jalan di bulan. Karena memang begitu keadaannya.

Aspalnya ditambal sulam, dan tambalannya mulai terkikis di sana-sini, sehingga jalanannya jadi nggak rata. Bayangin kalau hujan dan licin, betapa bahayanya jalanan itu, kan? Mungkin karena yang kerja di kantor walikota pakainya mobil ya? Jadi nggak tahu kalau bawa motor di jalan itu bahayanya minta ampun.

Gimana ya supaya kritik dan saran bisa didengar oleh yang mengurusi hal ini? Kalau di mal-mal sih ada kotak saran, nah kalau ke kantor walikota, nulis di mana? Saya nggak pinter nulis bagus yang menembus media, jadi saya tulis di sini aja deh, blog pribadi yang semoga ada yang baca. Dan semoga juga nggak ada kecelakaan yang terjadi akibat jalan rusak tersebut.

Beda lagi kondisi jalan di dekat rumah saya yang benar-benar jauh dari pusat pemerintahan (baik itu Tangsel, maupun Depok, apalagi Jakarta) kondisi jalan yang setiap hari saya lewatin tuh benar-benar mencerminkan pemandangan di bulan! Tanah becek, lobang-lobang, hanya kesadaran dan kedermawanan warga aja yang menambal dengan kerikil, puing, atau dengan tanah lagi sehingga kalau hujan jadinya licin dan tambah becek.

Nah, kira2 spt ini lah! (pic.credit: makassar.tribunnews.com)

Nah, kira2 spt ini lah! (pic.credit: makassar.tribunnews.com)

Bukan salah warga dermawan sih, karena mereka sudah berniat baik, kan? Dan memang kalau bukan musim hujan, lewat situ mendingan deh. Tapi kalau musim hujan, jangan tanya. Kalau perlu jangan lewat situ!

Ah, semoga calon-calon apalah itu yang pasang poster dan banner di daerah pinggiran, ingat untuk membereskan jalanan di pelosok-pelosok juga. Cuma bisa berharap.

Advertisements

4 thoughts on “Lakon Mak Biker #16: Bagaikan Jalan di Bulan

  1. Ini kudu ketawa atau kudu ngelus dada baca “pemandangan di bulan”. Udah pernah ngrasain waktu hidup di luar Jawa, suka sebel dg teman2 di Jawa, mati lampu sejam aja teriak2nya kyk gitu, pdhl kami mati lampu 4 jam daaaan….. setiap hari.

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s