Book Talk: 30 Paspor di Kelas Sang Profesor

Sabtu, 16 Mei 2015 kemarin, mendadak saya dan sulungku Alyssa, pergi ke Gramedia Matraman. Saya sebenarnya masih dendam sama kejadian buruk di tempat itu dulu semasa masih SMA. Tapi ternyata sekarang sudah bagus ya tempatnya. Dulu sih tempat penitipan tasnya saja duh, kayak tempat penitipan sepatu di mushola terminal.

Anyway, berhubung saya terbiasa ngojek dan nggak tahu jalan *ngojek apa yang nggak tahu jalan? payah sekali!* akhirnya saya browsing rute ke sana. Ternyata gampang bingit ya sodara-sodara! Dari Lebak Bulus naik Transjakarta turun di Harmoni. Nah, di sana ambil pintu yang ke PGC. Jangan sungkan-sungkan nanya ya.. soalnya banyak transjakarta yang transit di Harmoni, jadi jangan asal naik. Setelah pasti bisnya ke PGC, nanti turun di terminal Tegalan. Nah, Gramedia Matraman itu persis di depan terminalnya. Gampang, kan?

30psprtAnyway, pukul 13.30 tepat acara dimulai. Saya suka nih, nggak pake ngaret nunggu tempat duduk terisi semua. Karena terus terang, acara launcing, book talk, bedah buku, dll, itu jarang yang penuh banget KECUALI penulisnya sudah super terkenal. Good job, Noura Books! *thumbs*

Acara di mulai dengan 3 orang pembicara sharing pengalaman mereka, diselingi tanya jawab, dan sharing lagi. Buku 30 paspor di kelas profesor ini saya sudah punya 2 serinya, namun belum saya baca. He-he kebiasaan buruk penimbun buku. Tapi saya langsung tertarik dan penasaran dengan isinya yang menceritakan pengalaman para mahasiswa ini.

Khairen sebagai penulis dan asisten dosen yang membimbing mahasiswa juniornya memutuskan untuk menuangkan semua pengalaman dia dan teman-temannya dalam buku ini, dan akan segera difilmkan, lho! Wow.. can’t wait to see who’s playing. So, I really have to read this, after my other books are finished!

Yang menarik untuk disimak adalah, dua pembicara (selain penulis) adalah mahasiswa yang baru kembali dari perjalanan mereka. Angga dan Bunga. Angga mendapat negara Australia, sementara Bunga ke negara Afrika (Kaverde or something).

Sepulang dari trip itu, Angga yang pergi ke negara maju menginginkan tinggal di negara maju.

“Di sana nggak ada yang namanya nyodok antrian, kalau ada yang mau menyebrang jalan, dari jauh pengendara sudah memelankan kendaraannya. Nggak kayak di sini, ada yang mau nyebrang malah ngebut.”

Angga jelas sangat terkesan dengan kehidupan di negara maju. Semoga dengan pengalamannya di luar negeri, akan menyemangatinya untuk menjadikan Indonesia negara yang maju. Ketika Angga pergi ke Thailand, dia melihat di sana warganya ramah-ramah. Katanya, “kalau kita pikir Indonesia negara ramah, kalian mesti pergi ke Thailand. Di sini tuh nggak ada apa-apanya.” *ouch!*

Lain lagi dengan Bunga yang pergi ke Afrika, which is negara miskin. Bunga merasa Indonesia sudah paling bagus, paling indah. “Di sana tuh nggak ada yang antri, orangnya kasar-kasar! Pokoknya Indonesia keren deh!” Kira-kira begitu paparnya.

So, dari 2 mahasiswa itu saja sudah ada 2 pandangan yang berbeda, tentu dari pengalaman yang juga berbeda. Bisa bayangkan satu kelas memiliki pengalaman yang beda karena konon mereka tidak boleh berada di satu negara yang sama? Buku ini akan menjawab pertanyaan yang mungkin menggelitik: apa ya yang mereka alami selama nyasar di sana? Jadi jangan ragu, yuk deh cus beli & baca 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s