My Lil’ Boy

untitledArham namanya. Dia terlahir dengan jarak cukup jauh dari dua kakaknya. Sejak dia lahir, Arham tidak henti-hentinya membuat kami semua ‘amaze’ sama tingkah polahnya yang tak pernah gagal membuat kami tersenyum dan tertawa.

Di usianya yang sekarang sudah 10 bulan, Arham sudah merambat dan bahkan berpegangan hanya dengan satu tangan pada taplak meja untuk menopangnya berdiri. Lalu dengan cekatan tangan yang satu lagi akan meraba-raba apa pun yang ada di atas meja untuk diambil.

Giginya memang belum tumbuh, tapi ocehannya sama merangkaknya sudah lancar. Dan satu lagi, dia sudah bisa mengajak orang bercanda. Jika selama ini bayi tertawa kalau dibercandain, ini dia yang mengajak orang bercanda.

arham2Sejak di dalam kandungan, saya memperdengarkan lagu klasik yang konon bisa bikin anak cerdas. Tapi tidak hanya itu, Al Qur’an juga saya dengarkan ke dia, lho! Itu justru yang paling penting. Mungkin dari itu ada pengaruhnya? Wallahualam. Yang jelas, setiap hari ada saja hal baru yang bikin saya dan keluarga ‘amaze.’

Saya awalnya merasa khawatir kakak-kakaknya tidak akan bisa menerima dia, karena sejarah mereka yang berbeda ayah. Namun saat Arham lahir, kedua kakaknya langsung jatuh cinta sama sosoknya mungil, dan sekarang pada keceriaan yang dibawanya ke dalam rumah.

Tawanya yang membahana ke seantero rumah tidak hanya menyenangkan keluarga kecil kami, namun juga melebar ke keluarga besar. Sehingga kalau kami berkunjung yang ditanya cuma, “Arham mana?” Seolah yang lain nggak penting! *hihi nasib*

arhamTapi ada satu yang bikin saya bingung, yaitu warna biru-biru pada pantat, paha, dan sedikit di kakinya. Kenapa saya bingung? Karena Arham ini kan anak ketiga saya, sedikit banyak saya sudah tahu lah kalau tidak boleh meper tangan yang habis dicuci ke badan karena bisa membuat kulit anak biru-biru *katanya sih begitu, tapi saya cari di internet, belum dapat juga jawaban ilmiahnya sih, jadi saya percaya aja*

Nah, selain pengetahuan tadi, saat mengandung Arham saya juga bermusuhan dengan dapur. So, rasanya kecil banget kemungkinan anak saya berbadan biru-biru. Tapi alangkah kagetnya saya ketika dia lahir, badannya biru  lebam seperti habis ditabokin di dalam rahim.

Semua berpikir saya lah penyebabnya. “Pasti meper tangan ya?” “Pasti ini.” “Pasti itu.” Semua menyalahkan saya (meskipun sambil ketawa-ketawa sih ngomongnya) seolah saya lah penyebab ini semua. Namun saat berdua saja dengan pak suami, saya bilang kalau saya sudah berhati-hati banget nggak meper di rok, atau baju setelah cuci tangan/piring.

Pak suami nanya: Memang kalau meper kenapa?

Saya: Ya gitu, badannya jadi biru-biru

Pak suami: Berarti aku penyebabnya, soalnya aku selalu meper ke sarung habis cuci piring.

arham1Towewewewww! Ternyata biang keroknya ayahnya sendiri, sodara-sodara! Pantesan, saat saya bermusuhan dengan dapur, dia kok malah lagi cinta-cintanya sama dapur. Rajin banget nyuci piring dan bebersih. Saya juga nggak kepikiran buat ngingetin karena saya pikir kalau ibu yang meper barulah anaknya terpengaruh. Tapi ternyata tidak demikian ya. *Baru tau, tapi telat*

Ya sudah lah. Mau biru-biru lebam, mau berkulit hitam *emang kulitnya nggak putih sih* yang penting anakku sehat. Untung *masih juga untung* pak suami nggak ngelap air bekas cucian tangannya ke muka, ya? Bisa bayangin? *ketok-ketok meja kayu*

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s