Tetangga oh Tetangga…

Tetangga adalah orang yang tinggal paling dekat dengan kita. Jika terjadi kesulitan, kita pasti minta tolong ke tetangga. Nggak mungkin kan kita sebentar-sebentar lari ke rumah orang tua kita? Apalagi kalau orang tuanya tinggal di luar kota. Atau mungkin di luar negeri? Padahal cuma mau minta garem *jyaahh*

Oleh karenanya, wajarlah jika Rasulullah bersabda:

Iman seorang hamba tidak akan istiqamah, sehingga hatinya istiqamah. Dan hati seorang hamba tidak akan istiqamah, sehingga lisannya istiqamah. Dan orang yang tetangganya tidak aman dari kejahatan-kejahatannya, tidak akan masuk surga. (H.R. Ahmad, no. 12636, dihasankan oleh Syaikh Salim Al-Hilali di dalam Bahjatun Nazhirin, 3/13). -Sumber: http://www.muslim.or.id

Namun kadang terasa sulit ya jika punya tetangga yang suka sirikan dan suka membicarakan orang di belakang. Gimana ya enaknya?

Enaknya sih dirajam! Dikelitikin pake garpu! Atau dibikin tetangga guling aja! *kambing, kalee*

Hehehe. Sabaar. Denger nih apalagi kata Rasulullah tentang menahan lisan kita:

Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata yang baik atau diam.” -Sumber: http://www.muslim.or.id

Gampang gak? Ya sulit lah! He-he tapi mungkin kalo tahu imbalannya bagi orang yang bersabar, bisa jadi penyemangat juga. Nih dia:

Siapa yang menjamin untukku apa yang ada di antara dua rahangnya dan apa yang ada di antara dua kakinya, niscaya aku menjamin surga baginya. (H.R. Bukhari, no. 6474; Tirmidzi, no. 2408; lafazh bagi Bukhari). -Sumber: http://www.muslim.or.id

Memang ya, ini posting isinya copas hadits aja kesannya, tapi sebenarnya ini reminder buat saya sendiri, yang masih jauuuhhh dari kesempurnaan. Mana berani lah saya nulis tanpa dasar yang jelas, kan?

Udah gitu, tetangga saya nih jeunk… *eh… PLAK!* kudu banyak belajar nih saya. Belajar bersabar, belajar menahan lidah, belajar menerima kekurangan orang lain (eh sotoy banget deh, emangnya saya orang sempurna apah?) tapi emang iya kan? Kadang kita menilai orang kuraaanng aja. Padahal sebenarnya kita yang kurang. Kurang pintar menilai orang lain, kurang sabar dalam mengenal orang lain, dan kurang baik dalam berprasangka. Padahal kalau kita kenal sama tetangga kita, belum tentu dia seperti itu. Ingat, tak kenal maka tak sayang.

Dan satu lagi.. saya harus banyak belajar mencintai tetangga. Tapi bukan mencintai suami tetangga lho! *BAHAYA!* Dengan mencintai tetangga kita, insya Allah terbangunlah rasa sayang di antara warga, dan lingkungan jadi lebih nyaman. Siapa sih yang nggak mau punya lingkungan rumah nyaman? Saya mau!

Jadi kalo ada tetangga yang notabene biang gosip, harus gimana dong?

Ya udah sih, ngobrol sama yang lain aja. Emang tetangga cuma dia doang? :p

NOTE: Tulisan ini diperuntukkan bagi diri saya sendiri. Syukur-syukur jika bisa bermanfaat bagi orang lain yang membacanya.

Advertisements

2 thoughts on “Tetangga oh Tetangga…

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s