MOTORKU SAYANG, JUNED YANG MALANG

Juned gembira, matanya berbinar-binar macam lampu petromak baru dinyalain. Pipinya memerah, matanya membulat, hidung kembang-kempis udah mirip sama sapi mau balapan. Penyebab kegembiraannya tak lain dan tak bukan adalah benda hitam yang bertengger di atas mobil bak yang berhenti di depan rumahnya.

“Maakk…!” Teriaknya memanggil Emak yang sedang nyuci di sumur belakang rumah. “Emaaaakkkk….!!!”

Emak tergopoh-gopoh berlari menuju sumber suara. Bukan karena kuatir Juned kenapa-kenapa, tapi mau menyumpal mulutnya yang bersuara cempreng itu supaya mereka tidak dilaporin ke Pak RT lagi. Kejadian kemarin sudah membuatnya trauma. Ibu-ibu tetangga yang sedang arisan merasa terganggu dengan suara Juned yang tanpa dosa berkaroke di kamarnya, menyebabkan mereka semua berbondong-bondong pergi ke rumah Pak RT untuk demonstrasi menuntut agar Juned dimutasi ke desa lain.

“Heh! Berisik banget sih?” Emak langsung membekap Juned dengan handuk bekas yang tadi dipakai Juned mengelap jendela.

“Ih, Emak… Kok Jun disumpel topo sih?” Juned melempar handuk bekas itu jauh-jauh.

“Habis teriak-teriak segala!”

“Itu Mak, Ituuuu… Itu apaaa?” Juned menarik-narik tangan Emaknya ke jendela dan membuka gorden lebar-lebar. Tampak dua orang sedang menurunkan benda hitam yang membuat Juned gembira itu ke bawah, dan satu orang memeriksa surat-surat di tangannya. Semua itu terjadi tepat di depan pagar rumah Juned.

“Itu motor,” jawab Emak santai.

“Buat Jun?”

“Bukan! Buat Mang sayur! Ya iyalah buat Jun.”

“Ciyus Mak? Mak, ciyus Mak?” Juned mengguncang-guncang lengan Emak sampai yang empunya tangan merasa kebas.

“Udah sana cepet buka pintu!”

Tanpa harus disuruh dua kali, Jun melesat ke pintu dan menyambut para pengantar motor.

“Oso-oseyooooo!” sampanya dengan bersemangat. Ketiga pengantar motor saling berpandangan.

Salah seorang dari mereka berbisik, “Apa kita salah kirim motor ke rumah orang stress ya?”

“Wah, bisa gawat!” Sahut yang lain. “Ini kan motor kredit.”

“Apa kita balik lagi aja?” Perlahan mereka berbalik badan berniat menaikkan kembali motor baru itu ke atas mobil bak. Tapi Juned yang peka langsung melesat menghampiri mereka sambil senyam-senyum pamer gigi.

“Ini motor saya, kan? Nama saya Juned. Benerkan ini untuk Juned? Bener, kan? Bener, kan bang?”

Petugas yang membawa kertas memeriksa catatannya.

“I-Iya bener sih, tapi…”

“Nunggu apa lagi? Ayo masuk!” Juned langsung mengambil alih motor barunya dan membawanya masuk ke dalam pagar rumah. Ketiga petugas tadi tidak memiliki pilihan lain selain mengikutinya. Masa iya motor baru belum lunas mau ditinggal sama orang stress? Mereka saling colek namun kepala geleng-geleng bingung.

“Eh, silahkan masuk!” Emak yang berdiri di teras menyapa mereka. Ah, paling tidak Emaknya waras. Mereka menghela napas lega.

Transaksi pun dimulai. Tanda-tangan sana-sini dilakoni Emak, sementara Juned sibuk sama petugas yang menjelaskan fungsi setiap tombol dan cara kerja motor matic tersebut.

Juned yang baru lulus SMA berniat mencari pekerjaan untuk membantu ibunya yang tidak sanggup lagi membiayainya kuliah. Dia sudah wawancara di sebuah mini market dan diterima sebagai pegawai. Namun salah satu syarat yang harus dipenuhinya adalah memiliki SIM dan kendaraan sendiri. Maka Juned pun merengek-rengek meminta dibelikan motor. Emak yang pusing tujuh keliling akhirnya menyetujui setelah memberikan syarat-syarat agar Juned tidak bernasib sama dengan almarhum babenya yang meninggal karena kecelakaan motor. Saat itu, babe yang sedang mengendarai motornya ditabrak oleh pengendara mobil yang sedang sibuk main handphone.

“Awas ya, kalo Jun nggak nurut apa yang Emak bilang, motor Emak balikin ke dealer!” kata Emak saat menempel peraturan di tembok kamar Juned. “Ini semua peraturan Emak bikin supaya Jun tertib di jalan raya. Biar aman! Ngerti?” Jum mengangguk sambil membaca peraturan dalam hati.

ATURAN NAIK MOTOR

  1. Baca doa
  2. Pakai helm, jaket dan masker
  3. Jangan ngebut
  4. Jangan sambil merokok
  5. Jangan sambil main HP
  6. Jangan sambil denger lagu
  7. Jangan sambil melirik perempuan cantik

Untuk persyaratan ke 7, Juned sempat protes. Melirik perempuan cantik kan otomatis! Enggak pakai rencana maupun strategi. Mana bisa dilarang-larang? Tapi karena pilihannya nurut atau batal, Juned pun setuju. Toh kalau di jalan ada perempuan cantik dan dia melirik, Emak nggak bakal tahu. Siapa tahu perempuan itu jodohnya, kan?

Sambil bersiul-siul, Juned mengendarai motornya perlahan. Maklum, masih baru. Takut lecet. Permintaan Emak untuk mengantar ke pasar saja diturutinya dengan setengah hati.

“Kalo kotor gimana, Mak?” rengeknya. Tadi subuh dia bela-belain bangun untuk nyuci motor, masa sekarang sudah disuruh antar ke pasar? Mana di pasar becek pula!

“Kan tinggal cuci! Aer gratis kagak pake bayar juga. Buruan!” Emak nggak mau tahu, langsung nangkring di jok. Sambil menahan tangis, Juned pun mengantar Emak.

Tapi sekarang dia bisa bersiul-siul karena yang duduk di jok belakang bukan Emak, melainkan Rina, tetangganya, yang juga mau berangkat kerja ini tampil cantik dengan rok sepan dan kemeja kantorannya. Sepatu hak tinggi yang menghias kakinya membuat Rina kelihatan tinggi semampai. Rambutnya yang panjang dicat warna coklat muda, pagi ini tampak bersinar terang terkena cahaya matahari. Juned memang sudah lama menaruh hati pada Rina. Namun entah Rina tahu atau tidak, gadis itu memang selalu bersikap baik dan sopan padanya. Tidak pernah menolak kalau Juned mentraktirnya makan. Dan sekarang dengan motor barunya, Juned berharap bisa menaklukkan Rina.

“Rin, pulang kantor jam berapa?”

“Jam 5 bang.” Aih, merdunya suara Rina bikin jantung Juned cekot-cekot.

“Abang jemput ya?”

“Memangnya abang pulang kantornya jam berapa?”

“Jam 6 sih.” Juned ingin menggaruk kepalanya, tapi terhalang helm. Jadilah dia menggaruk hidungnya yang tiba-tiba terasa gatal. Gagal deh nih jadi ojek pribadi si kembang desa.

Saat Juned sedang berpikir untuk mencari jalan agar usahanya mendekati Rina lancar, sebuah motor menyalipnya dari kiri dan langsung memotong di depannya. Untung saja Juned lihay, secepat kilat dia mengerem motornya dan Rina yang terkejut refleks memeluk pinggangnya.

“Abang ih! Modus ya?” Rina buru-buru membenarkan letak duduknya dan memukul punggung Juned dengan kepalan tangannya yang bisa mengirim orang ke rumah sakit. Untung tidak semua kekuatannya dikeluarkan. Mungkin dia masih butuh Juned untuk mengantarnya sampai ke kantor dengan selamat.

“Maaf Rin. Tadi ada motor nyalip. Untung nggak nabrak.” Juned yang masih deg-degan (karena disalip dan karena dipeluk) sesaat merasa pikirannya kosong. Harus ngapain ya sekarang? Hingga suara klakson di belakang menyadarkannya bahwa dia harus segera tancap gas mengantar Rina.

Wah, untung saja aku nurut nasehat Emak nomer 3, kalau nggak bisa berabe! Pikirnya lega setelah menurunkan Rina di kantornya. Perlahan dijalankan motornya kembali, dan saat sedang macet menunggu lampu merah, Juned melihat jendela penumpang mobil di sebelahnya turun, dan sebuah tissue bekas pakai jatuh ke jalan, disusul bungkus gorengan yang sudah diremas-remas, dan gelas plastik bekas air mineral pun ikut dibuang ke jalan. Juned menggelengkan kepala dan melirik ke mobil mewah yang jendelanya sudah kembali tertutup itu. Kacanya yang gelap menghalangi pandangannya. Maka Juned pun mengetuk jendela mobil itu dan ketika jendela turun sedikit, dilihatnya seorang perempuan cantik dengan dandanan ala sosialita menatapnya curiga.

“Mbak, maaf ya. Sampahnya buang di tempat sampah, jangan di jalan raya! Nggak malu apa? Kelihatan berpendidikan, mobil bagus, tapi mentalnya sampah!” Juned memungut sampah wanita itu dan melemparnya masuk ke mobil melalui celah jendela.

“Heh! HEH! Apa-apaan ini?” Wanita itu marah pada Juned yang dengan santai melaju karena lampu sudah berwarna hijau. Juned tertawa-tawa. Salah sendiri! Buang sampah kok sembarangan! Kalau banjir kan yang repot semua orang.

Sesampainya di mini market tempatnya bekerja, Juned mengunci motor barunya dengan dua gembok sekaligus: depan dan belakang. Enggak ada salahnya berjaga-jaga, kan? Dari pada menyesal seumur hidup karena motor belum lunas dicuri? Minggu lalu di depan mini marketnya ini ada curanmor yang mencuri motor pembeli karena dia lupa mengunci ganda motornya. Juned nggak mau kejadian tersebut menimpanya. Lebih baik mencegah dari pada mengobati. Karena sakit hati gara-gara motor hilang itu sulit dicari obatnya.

*

Minggu pagi itu matahari bersinar lembut, terasa hangat di wajahnya. Hari ini dia akan menjemput Rina, dan mengajaknya olah raga di Senayan. Juned sudah dari jauh hari meminta ijin libur hari ini dengan alasan mengantar Emak ke dokter demi pujaan hatinya yang setiap hari berolah raga di Senayan. Memang jarak rumahnya dengan Senayan bisa dibilang cukup jauh, sekitar satu jam perjalanan tanpa macet. Namun sekali lagi, demi Rina, Juned mau melakukan apa saja. Apalagi kalau di Senayan nanti cintanya diterima. Dia janji bakal lari keliling stadion 7 kali!

Dari kejauhan tampak Rina sedang menunggunya dengan pakaian olah raga berwarna pink. Pulasan lipstick di bibirnya yang menyunggingkan senyuman itu berwarna sama, membuat jantung Juned berdebar nggak karuan. Harus hari ini. Dia harus menembak Rina hari ini, tekadnya. Mereka sudah tiga bulan jalan bareng. Jalan bareng di sini artinya, Juned mengantar Rina ke kantornya setiap pagi. Tidak lebih, tidak kurang. Tapi itu sudah lebih dari cukup bagi Juned untuk memberinya alasan buat meminta Rina menjadi kekasihnya.

“Aku ngajak temen, nggak apa-apa kan Bang?” tanya Rina setelah gadis itu duduk di boncengan.

“Oh, temennya mana?” Juned celingukan membuat Rina terkikik geli.

“Temenku langsung ke sana, nanti ketemu di Senayan.”

“Oh.” Juned pun menjalankan motornya sambil senyum-senyum simpul. Nanti bisa minta tolong temannya Rina untuk membantunya. Kepala Juned penuh dengan strategi bagaimana cara menembak yang cepat namun tetap romantis. Sehingga tidak diperhatikannya sebuah bis menyalip dari kanan membuatnya langsung banting stir ke kiri dan mereka terjatuh di rumput sepanjang jalan raya. Sementara bis melaju tanpa merasa berdosa.

“Auuuu!” Rina menjerit-jerit kesakitan. Juned yang juga terjepit motor berusaha sekuat tenaga membangunkan kendaraannya. Akan tetapi karena tenaganya melemah karena syok, dia hanya bisa berteriak, “Tolong! Tolong!” Untunglah kemudian banyak orang datang membantunya. Juned dan Rina dinaikkan ke taksi oleh seseorang, dan dibawa ke rumah sakit. Juned tidak lagi bisa berpikir jernih. Yang ada di kepalanya hanyalah keselamatan Rina, dan semoga lukanya tidak meninggalkan bekas di kulitnya yang mulus.

“Rina! Rina! Kamu nggak apa-apa?”

Sebuah suara menggelegar memanggil Rina. Juned yang sedang mengurus administrasi di depan meja petugas rumah sakit menoleh melihat seorang pria berbadan tinggi besar berlari menghampiri Rina dan langsung memeluknya. Tanpa mengucapkan apa-apa, pria atletis itu membopong Rina dan pergi meninggalkan ruang UGD. Meninggalkan Juned yang masih harus menandatangani surat-surat, dan membayar biaya pengobatan.

Lupakan rasa sakit yang dideritanya karena tertimpa motor. Lupakan berapa uang yang harus dia keluarkan. Juned hanya merasakan sakit di hatinya melihat gadis impiannya dibopong pria lain di depan matanya. Harusnya dia yang membopong Rina. Harusnya dia yang merawat Rina. Harusnya sekarang dia sedang berlari mengelilingi stadion Senayan merayakan diterimanya pernyataan cintanya oleh Rina.

“Itu temen yang Rina bilang akan nunggu di Senayan, bang. Dia nyusul setelah Rina sms,” ujar Rina saat Juned menelponnya.

Juned menangis meraung-raung di kamar. Kali ini yang menjadi topik tangisannya bukan hanya Rina, tetapi juga karena suara emak yang terdengar stereo dari depan pintu kamarnya.

“Bisa-bisanya lu ngasih motor ke orang nggak dikenal, cuma buat bawa perempuan itu ke rumah sakit! Dasar nggak punya pikiran lu, Juneeedddd! Sekarang lu mau cari motor lu di mana? Emak kagak daptarin asuransinya, cicilannya juga belom lunas! Lapor ke polisi juga percuma, Juneeeedddd!”

“Lagian Emak nggak beli Honda aja sih. Kan ada asuransi kehilangan kalau masih dalam masa garansi.”

“Siapa bilang?!! Ngarang aja lu! Kan emak bilang juga inget-inget aturan nomer 7! Tertib, aman! Safety, Juneeeddd…! SAFETY!” saking marahnya, Emak mengeluarkan jurus bahasa asingnya.

“Bukannya nurut, malah lu angkut tu perempuan. Bisa-bisanya otak dititip di mini market! Sekalian aja lu jual buat beli motor baru!”

“Hwaaaa! Emak tegaaaa…!” Juned menggelosor lemas di lantai kamar, meratapi nasibnya yang malang.

-end-

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen ‘Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan.’ #SafetyFirst Diselenggarakan oleh Yayasan Astra-Hoda Motor dan Nulisbuku.com

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s