Upacara Bendera: Dulu dan Sekarang

Saya bekerja di sekolah, dan setelah beberapa tahun di sini, saya perhatikan upacara bendera ternyata nggak setiap hari Senin ya?

pic.credit: kidnesia.com

pic.credit: kidnesia.com

Kalau ingat jaman saya sekolah dulu, setiap hari Senin atribut seragam kudu lengkap: topi, dasi, kaos kaki sebetis dan sepatu hitam plus ikat pinggang adalah asesoris wajib. Upacara dilaksanakan tepat pukul 7 pagi di lapangan. Yang telat nunggu di depan pagar sekolah yang terkunci. Kalau cuaca sedang bersahabat, upacara menjadi lumayan menyenangkan. Tapi kalau matahari lagi eksis, betis terasa panaassss..! Macam steak di Holycow, yang dimasak rare.

Saat upacara, jangan harap jalan-jalan atau jongkok kalau capek. Nengok dikit aja langsung dipelototin guru yang berbaris di depan. Cuma kalau dipikir-pikir, dulu itu guru curang  ya? Barisnya di pinggiran koridor, jadi nggak kepanasan. Nah kita? Udah macam ikan asin dijemur, seusai upacara lepek semua, jee… Keringetan! Makanya kalau hujan rasanya tuh indaaahh banget. No upacara. YES!

Trus, kalau ada yang sedang kurang sehat, nggak segampang itu minta ijin buat bobo di UKS. Kecuali ada surat dari orang tua murid, semua siswa kudu-wajib-harus ada di lapangan. Jadi, kalau lupa bawa surat dari mama yang bilang: anak-saya-sedang-sakit, mohon-diijinkan-tidak-mengikuti-upacara, mending pingsan aja deh. Ntar juga bangun-bangun di UKS. Soalnya jelasin ke guru juga percuma, dianggap alasan aja. Paling pala benjol, atau siku besot dikit laahh.. :p namanya juga pingsan.

Nah, sekarang kalau upacara di sekolah diadakannya sebulan sekali, itu pun dicari timing yang pas. Misalnya hari ini upacara hari Pahlawan, yang jatuh pada tanggal 10 November. Upacaranya tanggal 12 November, menyesuaikan dengan jadwal di sekolah. Emang boleh? Ya boleh laaaahhh…! :p

pic.credit: sekolahkristencalvin.org

pic.credit: sekolahkristencalvin.org

Trus, saat upacara banyak yang menarik perhatian saya:

  1. Baru lima menit, mereka sudah gellisah, dan keringetan. Padahal upacaranya di bawah naungan atap basket ball court.
  2. Lalu mereka ngeluh: gerah, capek, sambil mengipas-ngipas pakai tangan, which is percuma juga karena kalo ngipas pake tangan, seberapa banyak angin sih yang lo dapet? Tambah keringetan malah. Saya blg: Kalau pelajaran olah raga lebih keringetan, kok nggak ada yang ngeluh? Jawabnya: Kalo PE kan cepet. Apa coba? Gak nyambung!
  3. Satu persatu minum dari botol yang mereka bawa, trus jongkok atau duduk di bangku pinggir lapangan.
  4. Guru-gurunya (yang tentu saja BUKAN WNI) mulai mengipas-ngipasin anak murid mereka dengan kipas selebar daun pintu, membelakangi pembina upacara yang sedang memberikan pidato kenegaraan. Yap, mereka berdiri di barisan paling depan, tapi memunggungi pembina upacara. Sah? Ya sah-sah aja. Kan anaknya gerah *eye-rolling*
  5. Dulu, sewaktu upacaranya di lapangan parkir (karena belum punya basket ball court) mereka (si BUKAN WNI itu) upacara pake kacamata item DAN bawa payung fantasi, bo! Lo pikir lagi piknik, neng…?
  6. Saat memberikan penghormatan, baik itu pada pimpinan upcara, pembina, maupun bendera, beberapa siswa hormat pake tangan KIRI!
  7. Dan seperti yang sudah ditebak, satu persatu guru cowok membopong siswa yang pingsan. Dan itu banyak!
  8. Petugas upacara saat melaksanakan tugasnya tidak berjalan dengan tegap. Tapi seperti sedang jalan-jalan di mal. Lenggak-lenggok bak model.

*sigh*

Ngenes kalau melihat upacara jaman sekarang. Udah nggak jelas kapan waktunya, kadang upacara 17 Agustus aja bisa mundur tanggalnya. Dulu mah, kalau 17 Agustus jatuh di hari Selasa, Senin tetap upacara normal. Pas 17 Agustus datang lagi ke sekolah buat upacara doang! Bayangin, dari SD sampai SMA kerjanya upacaraaaa aja tiap Senin. Saya aja nih, masih punya kenang-kenangan saat upacara waktu masih SMP: betis terbakar dan nggak mulus lagi sampe sekarang. *hiks*

pic.credit: jateng.tribunnews.com

pic.credit: jateng.tribunnews.com

Tapi, anak-anak jaman dulu lebih kuat dibanding anak jaman sekarang yang melempem kayak krupuk kena air. Dikit-dikit nangis, dikit-dikit sakit. Saya mah terus terang, nggak bisa deh jadi guru atau asisten kelas. Lihat anak manja dikit bawaannya pingin nyuruh mereka push-up atau skotjam. Maklum, bekas tentara 😀

Apakah memang upacara sudah tidak terlalu dipentingkan lagi seperti jaman orba dulu, atau rasa nasionalisme kita (kita? yang punya sekolahan kaleee) yang sudah menurun sehingga upacara pun bukan menjadi kegiatan rutin yang wajib dilaksanakan setiap Senin?

Padahal kalau dilihat manfaatnya, upacara bendera itu banyak lho gunanya:

  1. Menumbuhkan rasa nasionalisme di dalam diri semua siswa.
  2. Hapal teks Proklamasi.
  3. Hapal Pembukaan UUD 45.
  4. Bisa nyanyi lagu wajib dan lagu nasional.
  5. Bisa baris berbaris dengan baik dan benar.
  6. Pengalaman menjadi petugas upacara.
  7. Dan masih banyak lagi.

Semoga rasa mencintai dan memiliki negeri ini tidak luntur dari jiwa anak-anak Indonesia ya?

Gimana pun, bukankah seperti kata pepatah: Hujan Batu di Negeri Sendiri Lebih Baik Daripada Hujan Emas di Negeri Orang.

Setuju?

Yaaa, meski pun lebih baik lagi kalau hujannya bartu berlian sih :p

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s