Larasati

Perempuan muda itu menarik napas dalam-dalam, sebelum membuka amplop yang baru saja diberikan atasannya. Surat penyesuaian gaji tahun ini. Apakah seperti yang diharapkannya? Pekerjaannya yang hanya seorang karyawan tata usaha di sebuah sekolah, hanya memberinya sedikit gaji. Tidak banyak yang bisa dinegosiasikan saat jurusan hukum yang diambil saat kuliah dulu tidak sesuai dengan jabatannya sekarang. Mengapa tidak bekerja sebagai pengacara atau minimal di firma hukum? Jawabannya adalah larangan dari suami.

Ya, sejak menikah, Laras berhenti dari pekerjaannya di sebuah firma hukum. Padahal saat itu posisinya sudah lumayan tinggi, dan gajinya pun sudah hampir dua digit. Pertemuannya dengan Beny membuatnya mengingat kembali nasehat yang diberikan ibunya dulu saat beliau masih hidup.

“Jika ada seorang lelaki, yang baik dalam segi agama, maka janganlah menolaknya tanpa alasan yang bagus. Karena jodoh yang diberikan Tuhan mungkin tidak akan datang lagi.”

Ibunya adalah wanita desa yang polos. Sangat penurut pada suami, mengerti keadaan bapak yang hanya buruh tani di kampung, dan tidak pernah mengeluarkan kata-kata pedas atau tajam meski mereka tak memiliki lauk untuk makan malam. Laras dan dua adik lelakinya juga dilarang protes, karena kata ibu, “Bersyukurlah dengan kesehatan yang kita miliki. Dengan kesehatan itu, kita mampu melakukan apa saja.” Laras ingin menjadi seperti ibu.

*

Beny mengajaknya berkenalan saat Laras dan teman-temannya sedang makan siang di kantin gedung tempat firma hukumnya berada. Saat itu Beny sedang mengunjungi temannya yang bekerja di gedung yang sama, namun kantor yang berbeda. Gedung tempatnya bekerja berada di jalan Thamrin. Di gedung tersebut memang ada beberapa kantor, dan lantai 4 dikhususkan untuk kantin, tempat seluruh karyawan makan siang. Di sinilah terkadang menjadi ajang perjodohan antar karyawan. Dan Laras pun mengalaminya.

Beny bekerja di gedung yang berbeda. Jabatannya saat itu karyawan biasa saja. Jika dibandingkan dengan Laras, tentu saja gajinya beda jauh. Laras yang sudah di posisi aman, memiliki gaji yang lebih besar dari Beny.Pria itu dapat melihat dari penampilan Laras, bahwa gadis itu sudah di posisi yang tinggi di kantornya. Namun itu tidak membuat Beny gentar untuk mendekati gadis tersebut. Senyum Laras dan suaranya saat tertawa langsung menyentuh perasaannya, membuatnya berpikir, “aku harus memilikinya.” Dilihatnya jari gadis itu.

“No ring. Oke.”

Tanpa menunggu lama, Beny langsung mendatangi meja yang dihuni 5 perempuan muda tersebut.

“Permisi, maaf mengganggu.”

Kelima perempuan serentak menoleh ke arah Beny, menunggu pria tersebut mengutarakan maksudnya mengganggu makan siang mereka.

“Saya ingin berkenalan dengan kamu.” Beny langsung menatap mata Laras, dan gadis itu sontak menunduk malu.

“Cieeee…!”

Ke empat temannya menggoda Laras, membuatnya makin merona. Beny tambah menyukainya dan mengulurkan tangannya tanpa ragu. Laras menyambutnya dengan malu-malu.

“Beny.”

“Laras.”

“Cieeee…! Sama kita nggak perlu kenalan, nih?”

Lagi-lagi teman-temannya menggoda membuatnya salah tingkah. Beny segera mengeluarkan kartu namanya, diberikan pada Laras yang menerimanya malu-malu, dan pergi sebelum Laras menyadari apa yang terjadi.

Bersyukurlah dengan kesehatan yang kita miliki. Dengan kesehatan itu, kita mampu melakukan apa saja.

Di kantor Laras menatap kartu nama yang diberikan Beny. Bingung. Apa yang harus dilakukannya dengan kartu ini? Masa sih dia harus menelpon duluan? Atau kirim email saja?

“Ah!” Laras melempar kartu nama tersebut ke atas meja dan meneruskan pekerjaannya.

Seminggu kemudian, Beny kembali menghampirinya di kantin. Lagi-lagi temannya menggoda mereka.

“Kok nggak telepon?” tanya pria itu tanpa basa-basi.

“Oh, hehe.” Laras bingung harus menjawab apa. Gengsi?

“Gengsi ya?” Beny seperti bisa membaca pikirannya. “Kalau gitu, minta kartu namanya dong, biar aku yang hubungi kamu. Gimana?”

Melihat Laras ragu, salah seorang teman Laras dengan sigap mengambil dompet Laras dan mengambil kartu namanya.

“Jangan PHP ya, beneran lho Laras ditelepon!” katanya.

“Hush, Ellen!” Laras mencubit pinggang temannya yang tertawa-tawa. Beny tersenyum dan pergi sambil melambaikan tangannya pada Laras.

“Cowok aneh!” Pikirnya saat itu.

Namun pendapatnya tentang Beny berubah saat Beny menghubunginya melalui telepon dan mengajaknya bertemu untuk makan malam di luar. Laras menemukan bahwa Beny orangnya asik untuk diajak berbicara. Pandangannya luas, dan pemikirannya berani. Itu yang dikagumi Laras darinya. Lama kelamaan Laras merasa nyaman dan merasa sudah mengenal Beny sejak lama. Obrolan mereka nyambung, dan beberapa minggu kemudian Beny memintanya untuk menjadi kekasihnya.

Laras menerima.

*

Setahun berpacaran, Beny memutuskan untuk melanjutkan hubungan mereka ke tingkat pernikahan. Laras yang berkeinginan kuat untuk menjadi seperti ibu, yang mengabdi pada keluarga dan suami, mengikuti permintaan Beny untuk berhenti kerja di firma hukum. Apalagi saat itu Beny memintanya dengan menggunakan kata-kata romantis.

“Aku yang akan bekerja. Kamu nggak perlu kerja keras seperti ini. Pergi subuh, pulang malam. Aku kasihan sama kamu, sayang. Aku yang akan memenuhi kebutuhan kamu dan anak-anak kita kelak.”

Aww, siapa yang tidak kepincut hatinya mendengar kata-kata manis seperti itu? Namun Laras masih ingin bekerja. Baginya yang tak pernah menjadi pengangguran, tidak bekerja berarti berhentinya kreatifitas otak, dan itu bisa membahayakan dirinya.

“Oke, kalau begitu kamu kerja di tempat yang nggak memerlukan kamu sampai malam. Di sekolah aja. Cocok untuk perempuan. Apalagi nanti kan anak-anak kita bisa di sekolahin di tempat kamu kerja.”

Masuk akal. Laras pun setuju.

Teman-teman bahkan atasannya menyayangkan keputusan Laras untuk berhenti kerja. Namun Laras sudah mantap, dan dia pun mulai mencari kerja di sekolah. Karena tidak memiliki latar belakang guru, maka Laras melamar di bagian administratif. Tidak mudah, namun akhirnya dia diterima untuk bekerja di bagian tata usaha. Dan di sinilah semua bermula.

*

Gaji hampir dua digitnya kini hanya kenangan. Laras harus puas dengan penghasilan sepersepuluh dari gajinya dulu. Saat masih berdua Beny, semua tidak menjadi masalah, namun saat anak-anak mereka lahir dan mulai tumbuh besar, Laras mulai kewalahan mengolah keuangan. Ditambah lagi Beny yang tidak naik-naik jabatan, malah dimutasi ke posisi yang lebih rendah karena bermasalah dengan atasannya. Laras menahan lidahnya untuk tidak berkomentar apa pun. Dia tahu, menyuarakan pikirannya berarti fatal, karena Beny sedang dalam kondisi sensitif tingkat dewa. Namun Laras harus berpikir panjang, karena kedua anak mereka akan besar dan memerlukan biaya pendidikan. Laras pun nekat membuka tabungan pendidikan untuk mereka.

Tabungan pendidikan yang dibuatkan untuk kedua anaknya tidaklah besar. Laras memilih setoran paling minimum, dan itu berjangka. Jadi akan cair saat mereka harus membayar uang pangkal. Bagi Laras, saat yang berat untuk masuk sekolah adalah pembayaran uang pangkal, seragam dan buku. Karena itu memerlukan biaya yang tidak sedikit. Dia ingat perkataan ibu dulu, “Ibu dan bapak tidak bisa mewariskan harta benda yang melimpah untuk kalian. Satu-satunya yang bisa ibu wariskan adalah pendidikan, makanya biar susah makan, kalian harus tetap sekolah!”

Saat Beny mendengar cerita Laras bahwa dia baru saja membuka tabungan pendidikan untuk anak-anak mereka, dia tidak setuju. Baginya, Laras hanya membuang-buang waktu saja.

“Aku lah kepala rumah tangga. Dan aku yang akan membiayai keperluan sekolah mereka. Untuk apa tabungan pendidikan? Buang-buang uang saja, setiap bulan setoran ke bank. Uangnya kan bisa digunakan untuk keperluan lainnya!”

Memang perkataan Beny ada benarnya juga. Dengan menyetor hampir sebagian besar gajinya untuk tabungan pendidikan, mereka nyaris tak bisa bernapas untuk sekedar jalan-jalan ke swalayan dan membelikan jajanan untuk anak-anak. Mereka harus mengetatkan ikat pinggang. Laras hampir menyetujui perintah Beny. Apa lupakan saja tabungan pendidikan ini? Masa harus hidup susah terus? Kasihan anak-anak. Begitu pikirnya. Bukankah dia ingin menjadi istri penurut seperti ibu? Lihat dirinya, ibu dan bapak yang hanya buruh tani saja mampu menyekolahkannya hingga menjadi sarjana. Aku percayakan saja semua ke suamiku. Laras berdebat dengan dirinya sendiri.

“Sudah, kamu batalkan saja besok. Uangnya bisa buat beli beras kan? Tuh sudah hampir habis.” Beny meninggalkannya sendiri duduk di ruang depan sambil memegang polis tabungan pendidikan anak-anaknya.

Laras tercenung memikirkan kata-kata Beny barusan. Tunggu dulu, bukankah dia yang berkata akan memnuhi semua kebutuhanku dan anak-anak? Bukankah dia menyuruhku keluar dari firma hukum karena dia sebagai kepala rumah tangga yang akan bertanggung jawab? Bukankah itu berarti gajiku di sekolah adalah sepenuhnya hakku? Kenapa sekarang urusan beras jadi aku yang harus memikirkannya? Tabungan pendidikan ini kubuka dengan gajiku, uang yang aku hasilkan dari pekerjaanku, aku tidak mengutik-utik uang belanja dari Beny, kok. Kalau Beny tidak mau memikirkan masa depan pendidikan anak-anak, biarlah! Tapi dia akan tetap meneruskan tabungan ini. Bagaimana pun juga. Jika nanti aku mati, anak-anak akan terus bersekolah dengan tabungan ini.

Laras sadar, dirinya bukanlah ibu. Dia tidak bisa mengikuti apa kata Beny, seperti ibu yang selalu menurut apa kata bapak. Dia akan menutup mulutnya tentang ini dan menyembunyikan semuanya. Jika itu menjadikannya istri yang durhaka, Laras terima. Karena baginya, pendidikan anak-anak adalah nomor satu.

Ibu dan bapak tidak bisa mewariskan harta benda yang melimpah untuk kalian. Satu-satunya yang bisa ibu wariskan adalah pendidikan, makanya biar susah makan, kalian harus tetap sekolah!

*

Musim hujan sudah tiba. Setiap hari Laras was-was saat suaminya berangkat ke kantor dengan mengendarai motornya. Dia tahu ban motor suaminya sudah tidak layak. Kalau kata bengkel sudah botak. Namun keuangan mereka tidak memungkinkannya mengganti ban baru. Beny pun menolak saat Laras hendak memberikan uang untuk penggantian ban.

“Tidak usah. Masih bisa dipakai, kok. Buat keperluan lain saja.” Tolaknya mentah-mentah.

Mungkin Beny gengsi, namun Laras benar-benar khawatir. Apalagi hujan makin deras, dan hingga jam 10 malam Beny belum pulang. Biasanya jam 6 sore sudah di rumah, bermain dan bercanda dengan anak-anak. Si sulung, Laskar, usianya kini sudah 4 tahun. Tahun depan akan masuk TK. Dan adiknya, Nadya, masih berusia 2 tahun.

Suara telepon berdering membuat jantungnya berhenti sejenak.

“Halo,” sapanya.

“Selamat malam, apakah ini keluarga bapak Beny?”

DEG! Pertanyaan semacam itu yang tidak diharapkannya saat ini.

“Ya, saya istrinya.”

“Kami dari kepolisian, mengabarkan bahwa bapak Beny mengalami kecelakaan dan sekarang di rumah sakit Cipto.”

“K-Kenapa Pak? Ada apa?” Laras tergagap. Beny kecelakaan? Kenapa ke RS Cipto? Kenapa tidak ke rumah sakit yang dekat dengan kantornya? Kenapa…? Yang dia tahu kalau ada korban kecelakaan dibawa ke RS Cipto, itu berarti…

Segera Laras menghubungi tetangga guna menitipkan anak-anak mereka, dan pergi ke RS Cipto. Di dalam taksi perasaan Laras tidak karuan. Mungkin karena Beny sedang dalam tugas kantor, jadi saat kecelakaan ada di deerah sana. Laras menguatkan hatinya, mencari alasan yang dapat diterima akalnya. Beny tidak apa-apa. Beny akan baik-baik saja.

Namun Tuhan menentukan lain. Di RS Cipto, Laras menemukan jasad Beny yang sudah terbujur kaku di kamar mayat. Menurut suster, saksi mata mengatakan bahwa Beny meninggal di tempat. Rupanya saat hendak menyalip truk, Beny tergelincir dan dari belakang sebuah kendaraan lain menabraknya. Orang yang menabrak ada di kantor poisi sekarang, dan akan bertanggung jawab. Bahkan dia yang membawa Beny ke sini. Namun bagi Laras, berapapun uang yang diberikan tidak akan bisa menggantikan suaminya.

Laras menjerit, Laras meraung. Hatinya sakit. Menyesali kenapa tidak dipaksanya Beny mengganti ban motor. Seandainya ban sudah diganti. Seandainya Beny mendengarkan kata-katanya. Seandainya Beny menurunkan gengsinya. Tapi semua sudah terlambat.

“Bagaimana dengan anak-anak kita, Ben…?”

Di hadapannya Beny tampak seperti tidur. Matanya terpejam, bibirnya mengatup, tangan bersedekap. Tak ada bekas luka yang merusak tubuhnya. Menurut dokter terjadi pendarahan di dalam. Sama seperti saat ini, hati Laras berdarah melihat suaminya pergi untuk selama-lamanya.

*

“Bu, Laskar berangkat sekolah dulu ya.” Bocak TK itu mencium tangan dan kedua pipinya. Adiknya melonjak-lonjak di samping Laras ingin ikut ke sekolah abangnya. Namun dilarang abangnya, karena Laskar merasa dirinya sudah besar dan tidak mau diantar ke sekolah.

Laras tersenyum melihat putra sulungnya mengenakan pakaian seragam TK, mengalungkan botol minum dan menggendong tas ransel berisi makanan di punggungnya, berjalan dengan bangga ke sekolah yang hanya berjarak dua gang saja dari rumah mereka. Teman-temannya yang sudah menunggu berjalan berdampingan. Seperti sudah menjadi kebiasaan, sebelum berbelok Laskar menoleh dan melambaikan tangannya sambil tertawa lebar.

Laras menghela napas lega. Anaknya bisa bersekolah. Ini yang selalu menjadi impiannya. Melihat anak-anaknya kelak mengenyam pendidikan yang layak. Satu tahun sudah Beny meninggal, dan Laras harus berjuang sendiri untuk membesarkan anak-anaknya. Kehidupan mereka masih mengencangkan ikat pinggang setiap hari, namun Laras lega karena anak-anaknya bisa terus bersekolah. Perempuan muda itu tak bisa membayangkan jika dulu menuruti kata Beny untuk membatalkan tabungan pendidikan anak mereka. Apakah sekarang Laskar bisa bersekolah? Hatinya melembut mengingat almarhum suaminya. Beny memang keras, namun dia sangat bertanggung jawab pada keluarga. Dan sekarang, tugas Laras untuk melanjutkannya.

“Aku janji, akan merawat mereka, Ben.”

*TAMAT*

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen “Pilih Mana: Cinta Atau Uang?” #KeputusanCerdas yang diselenggarakan oleh www.cekaja.com dan Nulisbuku.com

 

Advertisements

2 thoughts on “Larasati

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s