Nikah? Takuuuttt…!

onislam-orkiservers-com

pic.credit: onislam.orkiservers.com

Seorang teman curhat ke saya bahwa dia ingin segera meninggalkan masa lajangnya. Dia ingin segera memiliki keluarga sendiri. Kalau dilihat penampilannya, dia oke, penghasilan dari pekerjaannya mengajar juga lumayan, pergaulannya luas dilihat dari banyaknya teman-teman yang ada di fotonya saat liburan. Trus, masalahnya apa?

Kemarin dia cerita lagi kalau sedang dekat dengan seorang cowok. Masih baru sih, hitungan minggu saja. Namun mengingat usia teman saya yang sudah cukup matang, belum apa-apa mereka sudah ditembak keluarga untuk serius. Si cowok dengan kalem berkata siap, tapi teman saya ini malah ketakutan. Apa sih yang dia takutkan?

“Aku takut soal materi, takut nanti nggak dibolehin kerja.”

“Aku juga takut nanti dia itu mengekang.”

“Aku juga takut kalau dia itu tidak seperti yang aku kenal selama ini.”

Dan ketakutan lainnya, yang sebenarnya hanya di benaknya saja. Kalau dipikir secara logis, inti dari sebuah hubungan adalah komunikasi, right? Jika komunikasi itu berjalan lancar, insya Allah ketakutan-ketakutan yang tak beralasan itu bisa dieliminir sedini mungkin melalui dialog.

Dulu, setelah menjadi single mom selama 9 tahun, saya pun merasa takut memutuskan untuk menikah lagi. Saya main aman dengan bergaul hanya dengan kaum perempuan. Enggak mau ada komplikasi jika berteman dengan lawan jenis. Saya cuma ingin membesarkan kedua anak saya. Titik.

Namun saat seorang pria datang dan serius ingin membina rumah tangga dengan saya (yang berbuntut dua ini) saya jadinya maju-mundur *cantik… cantik…* Terus terang saya takut. Kegagalan pernikahan pertama saya menjadi alasan utama. Dan takut soal materi juga ada, karena sekarang saya sudah settle, ngapain juga mengguncang kapal yang sudah seimbang, kan?

pic.credit: huseinmuhammad.net

pic.credit: huseinmuhammad.net

Tapi hidup adalah penuh dengan pilihan dan resiko dari pilihan kita. Jika mau main aman saja, ya sudah saya hidup saja sampai tua sama anak-anak saya, membesarkan mereka, menyekolahkan mereka, melepas mereka entah ke mana nanti kaki mereka melangkah, dan saya pun hidup tua sendiri, menunggu mereka pulang kembali pada saatnya. Dan saya tidak akan pernah mengalami yang namanya pernikahan indah, karena dalam benak saya, pernikahan adalah neraka.

Untunglah saya bukan safe player, dan memilih untuk menjalani hidup yang beresiko dan saya menerima pinangan pria yang sekarang menyandang status pak suami itu. Di awal pernikahan yaa masih lah banyak batu sandungan, penyesuaian, bahkan mungkin merasa salah pilih, dan lain sebagainya. Dimaklumi saja, namanya juga rumah tangga baru.

Terlepas dari batu sandungan yang kami hadapi, kami akan berusaha terus agar pernikahan ini terus berjalan. Saya nggak akan menyerah seperti dulu. Apalagi dengan hadirnya bocah lanang di antara kami, menambah kebahagiaan keluarga kecil ini.

Pada intinya, setiap pilihan ada resiko yang harus dijalani DAN setiap hubungan harus diusahakan agar berhasil. Jika salah satu saja merasa sudah lelah berusaha, yah repot ya? Kesadaran dari dua belah pihak bahwa mereka harus berusaha bersama lah yang akan menjamin keberhasilan sebuah hubungan.

Jadi, ngapain takut? Hidup cuma sekali, kenapa diisi dengan rasa takut? Mana jiwa adventure mu? MAJU TERUS!

Hidup adalah penuh dengan pilihan, dan resiko dari pilihan kita.

Advertisements

4 thoughts on “Nikah? Takuuuttt…!

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s