Pondok Pesantren Bikin Galau

Assalamu’alaikum.

Mungkin ada yang belum tahu kalau dulu anak kedua saya, Mayra, pernah bersekolah di pesantren. Niatnya, setahun setelah dia mondok, kakaknya yang akan masuk SMA akan menyusul mondok juga.

TAPI…

Ternyata setahun jauhan dari anak kedua saya itu, saya galau habis! ๐Ÿ˜€ Hehe maklum, namanya juga belajar jadi emak. Semua hal terasa baru, apalagi baru kali ini nyekolahin anak di pesantren. Selama setahun itu, saya mengamati perkembangan Mayra dari minggu ke minggu (karena saya nengokin setiap dua minggu sekali) dari Mayra yang centil, usil bin jahil, anak itu berubah menjadi anak yang pendiam, berjarak, bahkan cenderung menarik diri dari keluarga.

pic.credit: notifikasiku.blogspot.com

pic.credit: notifikasiku.blogspot.com

Jika waktu liburan tiba dan dia pulang ke rumah, sikapnya pun berbeda. Saya tadinya berpikir mungkin karena pengaruh baik di pondok yang menjadikannya lebih kalem, lebih pendiam. Namun, ada yang mengusik hati saya. Apa ya yang nggak sreg dari gambaran di atas? Saya belum mampu menunjuk titik permasalahannya. Saat itu saya pikir, ya sudah lah. Mungkin masih beradaptasi, karena baru satu semester dia mondok.

Lalu, di semester dua setelah adiknya lahir dan saya sudah bisa membawanya ke pesantren untuk menjenguk kakaknya, Mayra tampak enggan dan cenderung cemburu pada adik yang tidak dikenalnya ini. Saat lahiran memang Mayra ada di rumah dan terlibat dalam pengasuhan si adik. Namun setelah berpisah lagi, dia mulai menarik diri lagi. Adiknya bahkan tidak disentuh-sentuh acan, padahal udah dideket-deketin!

Suatu hari, saya bertemu seorang guru yang berasal dari India. Entah mengapa saya tiba-tiba ingin bicara padanya, dan terungkaplah bahwa dia adalah seorang ibu yang dua anaknya di asrama sejak usia 10 tahun. Hal tersebut karena dia harus ke Indonesia mengikuti suami, sementara anak-anaknya tidak bisa dibawa karena Gandhi’s School jaraknya jauh dari rumah mereka di Indonesia, dan kalau di sekolah internasional lain dia kurang percaya pendidikan moralnya.

Singkat cerita, ditinggallah dua anaknya di asrama. “Memang,” katanya, “anak saya mandiri jadinya. Tapi mereka terlalu mandiri, hingga mereka sampai pada titik tidak membutuhkan saya lagi.”

“Saya hanya merasakan bersama mereka selama 10 tahun, setelahnya hanya membayar tagihan spp, tagihan keperluan bulanan, tagihan, tagihan, tagihan. Dan mereka setelah lulus SMA, kuliah di Amerika. Sekarang saya jauh dari mereka.”

DEG!

Sebelum protes dengan bilang bahwa itu kan asrama, kalau pesantren kan mengajarkan pendidikan agama, pondasi yang kuat itu penting untuk kehidupan mereka kelak, coba dengar ini:

“Memang pesantren/asrama mengajarkan nilai-nilai ke anak kita, tapi apakah itu yang kita mau? Bukankah kita yang seharusnya menanamkan nilai-nilai kita ke anak-anak kita sendiri?”

Dan bagi saya itu cukup. Saya tidak mau Mayra makin jauh dari saya karena dengan sifatnya yang keras, dia cenderung memiliki pemikirannya sendiri. Jika saya tidak bisa menanamkan nilai-nilai yang saya anggap baik padanya, maka saya pasti akan kehilangan dia. Seperti yang teman saya bilang:

“Gue masuk asrama sejak SMP (di Kupang) dan setelah lulus SMA gue ke Bogor untuk kuliah dan tinggal sama sepupu di sana. Gue enggak pernah bisa dekat lagi sama nyokap, karena gue merasa bisa menyelesaikan masalah gue sendiri.”

Dan yang paling jleb adalah saat teman saya tersebut (sebut saja Mawar :p) mengalami nasib yang sama dengan Mayra, yaitu adiknya lahir saat dia di asrama.

“Gue enggak kenal sama adik gue. Dia itu seperti orang asing bagi gue.”

Oh Nooo! I don’t want that to happen in my family! Dalam fantasi saya, keluarga adalah orang-orang yang saling support, saling mendukung, menghormati satu sama lain, dan saling menyayangi. Saya nggak mau anak-anak saya jauh satu dari yang lainnya, dan saya juga nggak mau mereka jauh dari saya. Ya, kalau saya punya umur panjang untuk melihat mereka sukses di masa depan. Kalau umur saya cuma segini-gininya aja, dan itu pun dihabiskan dengan berjauhan dengan anak-anak? I can not imagine.

Maka setahun berlalu saya pun menarik Mayra keluar dari pesantren. No other reason, just a mother who wants to be close to her children, before the time is up.

Dan saya tidak galau lagi ๐Ÿ™‚

Advertisements

2 thoughts on “Pondok Pesantren Bikin Galau

  1. bener mbak masa bersama keluarga itu penting hehhe…. karena zaman ini membuat anak pengen jauh dari ortu hehe… pdahal tiket terdekat ke surga yakni melayani ayah dan ibu di usai tua mereka…

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s