Hari Ibu Nasional

Assalamu’alaikum.

Hari ini, seperti tanggal 22 Desember tahun-tahun yang lalu, Indonesia merayakan Hari Ibu. Ini sebenarnya berbeda dengan Mother’s Day nya orang bule yang jatuh pada bulan Maret atau Mei (sumber: Wikipedia) tapi bagi saya, Hari Ibu atau Mother’s Day, sama saja. Intinya adalah merayakan peran wanita sebagai ibu. So, terlepas dari polemik yang selalu muncul di setiap perayaan di Indonesia (dan mungkin di negeri mana pun di belahan bumi ini) Ibu adalah sosok yang penting dalam kehidupan setiap orang. Dan kalau para petinggi negara merasakan hal yang sama, mbok ya hari ini dijadikan tanggal merah, gitu lho! *ngarep sih, I know*

mothers-day-2015-indonesia-5073904733257728-hp

Bahkan Google tampil dengan doodlenya yang keren! Di Kompas Online, saya membaca bahwa sebenarnya tanggal 22 Desember ini awalnya bukan hari Ibu, melainkan hari diadakannya Kongres Perempuan di Yogyakarta. Berita selanjutnya bisa klik di link ini.

Anyway, apa sih makna hari ibu buat saya? *Ih, pede amat ada yang nanya! Tapi terserah lah ya, ini kan blog saya :p*

Buat saya, ibu bukanlah wanita sempurna yang seperti saya lihat saat saya masih kecil, tapi dia akan selalu menjadi wanita paling penting dalam hidup saya. Saat saya masih kecil, ibu seperti tidak pernah melakukan kesalahan. Ibu selalu benar. Ibu adalah malaikat pelindung. Apapun akan dapat ditemukan oleh seorang ibu (kaos kaki hilang sebelah, tanya ibu, pasti ketemu!) Ibu adalah segalanya bagi seorang anak. Setiap anak pasti dilahirkan dari rahim seorang ibu.

Setelah dewasa dan menjadi ibu, saya pun menyadari hal lain, bahwa ibu saya hanyalah perempuan biasa yang juga bisa melakukan kesalahan. Awalnya saya tidak bisa menerima itu, karena seseorang yang kita pandang terlalu tinggi, biasanya jika terlihat berbuat kesalahan, nilainya akan langsung terjun bebas. Namun sekarang, ibu yang dulu mengasuh saya, mengajari saya berbagai hal (sampai saat ini bahkan!) dan yang menyayangi saya tanpa syarat, kini menjadi teman curhat.

Betapa saya merasa beruntung masih memiliki ibu di saat saya sudah memiliki anak. Saya jadi bisa tahu, betapa sulitnya dulu ibu saya mengasuh saya. Ibu juga mengingatkan saya betapa sulitnya dulu saya makan, hingga sampai kuliah masih disuapin! *ini sebenarnya rahasia!* Jadi saya tidak perlu ngomel panjang lebar kalau anak saya susah makan. Toh, dulu saya pun begitu. 😀 Tinggal berkreasi saja dengan makanan supaya menarik.

iberita-comYang paling saya sesali adalah saya tidak menuruni bakat ibu dalam ketrampilan: menjahit, salon, membuat kue, dan memasak lauk yang bumbunya rumit. Bisa sih belajar sekarang, toh belum terlambat. Tapi kenapa rasa malas terkadang lebih besar dibanding keinginan untuk bisa ketrampilan-ketrampilan itu ya? Sungguh ter-la-lu!

Pak suami kehilangan ibunya sejak usianya masih sangat belia, yaitu saat dia di kelas 6 SD (di hari pengumuman kelulusan UN pulak!) Mereka berjanji akan membuka amplop pengumuman bersama setelah pak suami pulang dari sekolah. Namun begitu pak suami sampai rumah, tidak ada seorang pun yang menyambutnya. Tanpa merasa apa pun, dia pergi main dan lupa bahwa belum membuka amplop kelulusan. Ya, namanya juga anak kecil, main adalah prioritas utama. Saat sedang asyik bermain dengan teman-temannya, abangnya menjemput dan mengajaknya pulang. Dia pun berlari pulang untuk menemui jasad ibunda tercinta sudah terbujur di ruang tengah. 😦

Beberapa anak kurang beruntung karena kehilangan ibu saat masih kecil, namun untunglah di sekitar mereka muncul ibu-ibu lain pengganti ibu kandung, dalam bentuk kakak, tante, bibi, nenek, bu guru di sekolah, yang siap membantu mereka melewati masa-masa sulit tanpa kehadiran seorang ibu dalam hidup mereka. Apakah mereka bukan ibu juga bagi anak-anak tersebut?

Saya jadi ingat video yang baru saja saya tonton, tentang Mulan Jameela meminta maaf pada Maia Estianti *he-he, kekinian apa kekepoan yang menuntun saya untuk nonton video itu? I have no idea* Di dalam video tersebut Mulan meminta Maia untuk memaafkannya, dan bersama-sama mendidik anak-anak mereka. Saya tidak tahu apa agenda dibalik permintaan maaf Mulan tersebut, dan apakah tindakannya itu bodoh atau apa. Tapi yang saya tahu, dia bertindak sebagai seorang ibu, yang ingin anak-anaknya tumbuh bahagia, memiliki masa kecil yang menyenangkan, terlepas dari permasalahan yang dihadapi orang tua mereka. Dan dia mengajak orang-orang yang berkepentingan untuk berperan serta. Buat saya, di video itu dia adalah sosok ibu sejati. Dan saya salut pada keberaniannya meminta maaf di media. Atau mungkin saya hanyalah salah satu korban infotainment. Whatever.

Di usia yang sudah di kepala 4 ini, muncul ketakutan saya, karena Allah SWT saja sudah memberi peringatan bagi orang yang memasuki usia 40-an dalam firmanNya:

“Apabila dia telah dewasa dan usianya sampai empat puluh tahun, ia berdoa, “Ya Tuhanku, tunjukkanlah aku jalan untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapaku dan supaya aku dapat berbuat amal yang soleh yang engkau redhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim.” (al-Ahqaf: 15)

iberitaNah tuh! Bagaimana saya tidak was-was, coba? Anak saya yang masih kecil apakah akan terus bisa saya dampingi hingga semua dewasa dan menemukan jodoh mereka masing-masing? Saya sangat berharap seperti itu. Dan saya pun merasakan kekhawatiran para ibu yang melihat anak-anak mereka belum juga berkeluarga padahal usianya sudah cukup. Karena hanya satu yang diinginkan orang tua: melihat anaknya sukses, bahagia, berkeluarga, sehingga ada yang mengurus mereka saat dirinya dipanggil oleh Sang Kuasa.

Maka doa saya pun begini:

“Ya Allah, ijinkan hamba mendampingi anak-anak hamba hingga mereka dewasa, sukses dalam pekerjaan dan cita-cita mereka, serta mendapatkan jodoh yang terbaik dari sisiMu. Aamiin.”

***

Untuk lebih mendalami makna Hari Ibu, ijinkan saya merekomendasi buku bacaan yang tepat untuk dibaca hari ini. Judulnya Please Look After Mom, karya Kyung Sook Shin. Sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan judul Ibu Tercinta. Monggo lihat reviewnya di Syl’s Reading Corner.

Advertisements

2 thoughts on “Hari Ibu Nasional

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s