Ujian Terberat Dalam Hidup

pic credit: donordarah.info

pic credit: donordarah.info

Assalamu’alaikum.

Banyak mungkin yang tahu (atau minimal mendengar) apa itu leukemia. Yes, penyakit yang juga dikenal dengan sebutan kanker darah ini memang sudah lama melanglang buana, mengintai dan memangsa manusia yang lengah. Kenapa saya bilang lengah? Karena memang sel kanker ada di dalam tubuh setiap manusia, hanya saja pemicunya yang membuat dia muncul ke permukaan, atau tetap non aktif. Apa saja pemicunya? Antara lain bisa jadi pola hidup, makanan, atau genetik.

Leukemia sendiri adalah kanker yang dimulai di jaringan pembentuk darah seperti sumsum tulang dan menyebabkan sejumlah besar sel darah abnormal diproduksi dan masuk ke dalam darah. (sumber: idmedis.com) Secara mudahnya, sel darah putih yang terbentuk lebih besar dibandingkan sel darah merah. Atau kata orang awam banget macam saya nih, sel darah merahnya dimakan sama sel darah putih. Nah, gitu deh.

Leukemia biasa saya temui di sinetron-sinetron dan film layar lebar yang mengangkat tema penyakit ini sebagai pembawa kematian pada aktor utama. Maka, saat saya mendengar bahwa anak saya menderita penyakit ini, bisa bayangkan kehororan yang saya rasakan? Saya merasa saat itu dunia seperti runtuh, dan semua jalan buntu. Saya sempat putus asa. Bagaimana ini? Apakah saya akan kehilangan dia?

Leukemia

pic credit: penyebableukemia.com

Lalu saya mulai browsing, mencari informasi, dan ternyata banyak yang sudah sembuh dari penyakit ini. YES! Ini penyakit yang ada obatnya. Bukan cuma mitos belaka. Anak saya bisa sembuh! Alhamdulillah.. Saya mulai optimis. So, bagaimana sih awalnya kok bisa anak saya ini terkena penyakit menyeramkan seperti ini? Kejadiannya terhitung cepat, sebenarnya.

Jadi kalau balik ke sebelum periksa, sebulan belakangan dia sering mengeluh pusing. Saya menyuruhnya meminum madu, sari kurma, habatussauda, karena saya anggap dia kelelahan. Anak saya ini memang aktif di organisasi sekolahnya. Dua minggu kemudian, dia sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan acara organisasi di sekolahnya, dan pulang malam. Berhari-hari seperti itu: pulang jam 10 malam, besoknya jam 5 sudah berangkat. Ngalahin saya yang orang kantoran!

Dan puncaknya, selesai acara tersebut, dia pulang dengan wajah pucat pasi. Putih, kuning, entah apalah yang bisa menggambarkannya saat itu. Bibirnya putih, tangan dan kakinya putih, tidak ada tampak pink-pink darah di sana. Bagian bawah kelopak matanya juga putih. Saya panik! Bawa ke klinik dekat rumah hanya dibilang flu. Obat habis masih seperti itu kondisinya, saya langsung bawa ke rumah sakit untuk cek darah.

Dan bom itu pun dijatuhkan di kepala saya. Dokter jaga (waktu itu saya bawa dia ke UGD) bilang kalau dia menderita kelainan darah, dalam kurung leukemia. Saya dirujuk ke Fatmawati untuk bertemu dokter ahli darah. Karena dia masih dibawah 18 tahun, maka kami ke poli anak ke dokter spesialis darah. Kami bertemu Dr. Sri Enggar yang langsung menyuruhnya di transfusi darah. Beliau mengatakan bahwa dia tidak akan mencari penyebab anemianya, karena yang urgent adalah menambah darah merahnya yang turun drastis dari batas normal. (HB normal 12-17, anak saya hanya 5).

Maka malam-malam panjang di rumah sakit pun dimulai. Kami tidak bisa pulang lagi, dan setiap hari berdoa semoga keadaannya makin membaik. Namun alas, setelah transfusi 3 kantong, trombositnya malah turun! Dia pun lalu harus transfusi trombosit. Asli, saya baru tahu di sini kalau trombosit juga bisa ditransfusi. Warnanya kuning gitu. Ini yang disebut donor darah apheresis. Jadi, dari darah yang didonor, hanya diambil komponen yang diperlukan saja, misal trombositnya, atau plasmanya, atau sel darah merahnya, atau sel darah putihnya saja. (sumber: donordarah.info)

Setelah keadaan anak saya membaik, dia pun harus melalui BMP, atau Bone Marrow Puncture, yaitu pengambilan sumsum tulang untuk mengetahui secara pasti apa penyakit yang dideritanya. Bisa sih hanya lewat cek darah, namun akan lebih akurat jika dicek melalui BMP. Samplenya dikirim juga ke Rumah Sakit Dharmais, dan setelah tiga hari, keluarlah hasilnya yakni anak saya positif Leukemia ALL L1.

Leukemia-types.

pic credit: leukemia.purzuit.com

Leukemia ALL sendiri termasuk leukemia akut yang banyak ditemui pada anak-anak. Berbeda dengan jenis AML yang banyak ditemui pada orang dewasa. ALL, atau Acute Limphocytic Leukemia, dibagi lagi menjadi beberapa kategori, dan L1 adalah kasus teringan dari tiga kategori. Ya, saya bilang ringan, karena nih, baca deh penjelasannya di bawah ini yang saya dapat dari websitenya Resti Agista.

ALL sendiri terbagi menjadi 3, yakni :

– L1
Sel-sel leukemia terdiri dari limfoblas yang homogen dan L1 ini banyak menyerang anak-anak.

– L2
Terdiri dari sel sel limfoblas yang lebih heterogen bila dibandingkan dengan L1. ALL jenis ini sering diderita oleh orang dewasa.

– L3
Terdiri dari limfoblas yang homogen, dengan karakteristik berupa sel Burkitt. Terjadi baik pada orang dewasa maupun anak-anak dengan prognosis yang buruk.

Tuh, kalau dari kaca mata orang awam macam saya, saya menangkapnya L1 yang paling ringan. Meski memang yang namanya leukemia itu berat! Lalu, bagaimana saya bisa menulis dengan ringan tanpa menangis meraung-raung mengingat nasib anak saya? *awalnya sih setiap ingat langsung rembes ni mata, tapi harus tetap fokus, kan?*

Ketika seorang sahabat bertanya, “lo ridho gak?” Saya berpikir dan berpikir, ya, saya harus ridho, harus ikhlas, karena itulah yang akan menyukseskan proses kesembuhan anak saya. Maka saya ikhlas, saya kembalikan semua kepada Allah. Tingkat kesembuhan leukemia juga tinggi kok, makanya saya optimis banget kalau anak saya bisa sembuh.

Alhamdulillah sahabat, teman, keluarga, termasuk atasan di kantor sangat mensupport saya sehingga saya bisa fokus. Dan saya sering mendengar perkataan orang tua pasien di gedung teratai lantai 3, RSUP Fatmawai yang merupakan lantai khusus pasien anak, yang memicu semangat saya. Nih, saya kutip:

“Anak kan titipan Allah mbak, kapan saja bisa diambil. Kalau nggak sekarang, ya nanti.”

“Penyakit Allah yang berikan, dan Dia juga yang akan menyembuhkan. Yang penting kita usaha.”

Dan saya percaya, Allah akan menyembuhkan anak saya. Karena Allah sayang sama dia. 🙂

Advertisements

10 thoughts on “Ujian Terberat Dalam Hidup

  1. Pingback: Lebaran Sendu di Tahun 2016 | Melakoni Hidup

  2. Pingback: Hari Pertama Sekolah Anak | Melakoni Hidup

  3. Pas tahun 1990, mamaku divonis kanker rahim & kanker serviks (dua kanker sekaligus). Meski begitu, mama nggak pernah kelihatan sakit karena selalu ceria dan nggak pernah ngeluh. Sejak tahu sakit justru malah semakin aktif organisasi pramuka. Dokter bilang mamaku rahimnya harus diangkat, ternyata tahun 1994 & 1996, bisa melahirkan normal dan memberiku adik-adik yang lucu. Mama bertahan dari tahun 1990-2006, 16 belas tahun. Dari mama aku belajar bahwa kita harus semangat, dan yang paling berpengaruh besar adalah dukungan lingkungan sekitar, terutama keluarga.

    Masih inget kata-kata almarhumah mama, sebenarnya saat kita dikasih ‘cobaan’, justru itulah Allah percaya ama kita saatnya ‘naik kelas’ ke jenjang hidup berikutnya. Meski berat diterapkan, perlahan aku mulai memahami filosofi itu. Dan sampai sekarang masih harus banyak belajar tentang kehidupan. Terkadang memang berat dalam prakteknya.

    Tetangga sebelahku, dari lahir ginjal anaknya bocor. Mamaknya telaten banget merawatnya. Alhamdulillah sekarang si anak udah mau lulus SMP dan sehat meski harus check up tiap bulan, semangat di sekolah dan bermain seperti anak-anak normal lainnya.

    Dan aku percaya Mbak Syl dan dedek bisa melalui ini, dan tetap semangat ya Mbak. Aku padamu :)) #PelukErat

    NB: Maaf kalo komenku kepanjangan ya, Mbak.. :))

    Like

  4. Tulisan yg bagus banget, jadi tahu sedikit tentang leukimia. Semangat terus ya mbak, semoga Allah kasih kesehatan untuk anaknya.

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s