Rusuhnya Si Rujukan

kompasiana-com

pic credit: kompasiana.com

Assalamu’alaikum.

Salam sehat semua.

Apakah semua yang di sini tahu bagaimana itu mengurus rujukan ke rumah sakit? Kalau tahu, keren! Apalagi kalau jawabannya khatam. Wah! Tapi sebaiknya gak usah khatam-khatam lah ya, itu kan berarti sering ke RS, dan itu sedih, euy!

Saya pikir, pengalaman saya ke rumah sakit bawa anak saya berobat sejak mereka kecil sudah memadai untuk menghadapi medan peperangan ini, namun ternyata nggak, sodara-sodara! Kalau dulu karena dari kantor dapat asuransi yang tinggal datang ke rumah sakit (swasta) pilihan, lalu tunjukin kartu, beres. Sekarang tidak lagi. Karena pakai BPJS, “Kita mulai dari NOL yaaa.” Jadi motto saya hari Rabu kemarin.

Tapi tentu bukan saya kalau nggak dibekali info-info dan tips dari pasien lain. So, sebelumnya saya tanya-tanya kepada para khatamers yang udah sering ngurus rujukan ke RSUD. Namanya juga awam, ya nggak? Kalau nggak berbekal info bakal keder sendiri pasti! Merasa siap, saya pun pede.

Salah seorang ibu menyatakan bahwa dia mengantri sejak jam 4 pagi. Karena bulan puasa, saya putuskan sehabis santap sahur dan shalat subuh, saya meluncur. Tiba di sana, tentu saja loket pendaftaran belum mulai. Mesin pengeluar tiket pun masih mati. Tapi antriannya sudah banyak. Kalau belum pernah antri tiket konser band kesukaan, cobalah antri di RSUD, sepertinya sama. 😀

Seorang pengantri menginfokan bahwa saya harus minta nomer ke salah satu ibu-ibu yang memegang pulpen dan dikerumuni banyak orang. Ternyata beliau tidak sedang ceramah subuh, melainkan menuliskan angka di telapak tangan kiri pengantri lain untuk nanti ditukar dengan tiket dari mesin. Saya bermaksud ke poli anak dan dapat nomor 37. Setelah itu? Menunggu.

pic credit: depoklik.com

pic credit: depoklik.com

Tapi saya nggak bisa menunggu! Karena saya harus ke Puskesmas. Fyi, niat saya setelah dapat nomor, langsung ke Puskesmas untuk meminta rujukan. Rujukan tersebut yang nantinya saya tunjukkan di petugas pendaftaran RSUD. Kalau saya pergi, nomor sakti yang tertulis di tangan saya hangus. Sementara, nomor itu tidak berguna juga kalau saya tidak memiliki rujukan dari Puskesmas. Yang ada kena omelan petugas nanti. Hadeh! Saya sempat dilema. Akhirnya ngobrol lagi sama khatamer di sana, dan keputusannya adalah, “ibu ke Puskesmas saja, pagi-pagi antri. Nanti setelah dapat rujukannya, ibu ke sini lagi. Masih sempat, kok!”

Enggak ada pilihan, karena saya memang harus punya surat rujukan dari faskes tingkat I jika ingin mendaftar di RSUD. Saya pun tiba di Puskesmas tujuan dan langsung mengambil nomor antrian. Dapat nomor 1 euy! *seneng juga bisa dapat pertamax* Saya lihat jam, baru pukul setengah 6. Sementara Puskesmas baru buka jam setengah 8. Macam orang bener aja nih kalau nunggu di Puskesmas. Sendirian, masih gelap pula. Serem kan! Saya pun memutuskan untuk menunggu di pom bensin tak jauh dari situ. Paling tidak, banyak manusia wara-wiri di sana.

Jam 7 saya kembali ke Puskesmas, dan masih sepi juga, sodara-sodara! Tapi nggak mungkin kan ke pom bensin lagi? Ya sudah tunggu saja deh. Satu persatu calon pasien datang untuk mengambil nomor. Habis dapat nomor mereka langsung pulang lagi. Enaknya kalau rumah dekat. Setengah 8 pun tiba, saat dipanggil ke poli anak, saya langsung maju, memberitahu bahwa saya butuh rujukan. Kirain langsung dibuatin di pendaftaran. Ternyata tetap harus menunggu dokter anak. Lagi-lagi… Menunggu.

Jam 8 lewat banyak, pintu poli anak terbuka dan saya dipanggil. Karena menurut info khatamers, saya tidak perlu membawa pasien ke Puskesmas, saya hanya diwawancara dan menunjukkan hasil lab anak saya, saya pun mendapat rekomendasi dari dokter untuk dibuatkan rujukan di… pendaftaran. Jadi balik lagi ke pendaftaran, tunggu, kelar.

Yeay! Pertamax...!!

Yeay! Pertamax…!!

Tanpa basa-basi, saya langsung cuzz ke RSUD, dan di sana dapat nomor 20 ke poli anak. Tapi di pendaftaran saya dibilang tidak bisa ke poli anak, karena anak saya sudah 16 tahun. Harusnya ke poli dalam. Kenapa di RSUP masuknya ke poli anak ya? Saya disuruh minta rekomendasi dari BPJS untuk diperbolehkan ke poli dalam. Di kantor BPJS nya sih tidak dipersulit. Langsung dapat cap rekomendasi dan ketika kembali ke pendaftaran, saya dapat nomor 46 ke poli dalam.

Membawa surat dari pendaftaran, saya ke poli dalam. Letaknya paling ujung, dan itu sudah PENUH sama orang sakit. Ya iyalah, masa penuh sama orang yang mau nonton konser? Untuk jalan ke sana saja mesti menyelinap di antara antrian. Kursi cuma sedikit dan itu pun terisi semua. **sangat berharap antrian poli di RSUD bisa diperluas, dan dibuat nyaman. Meski pasiennya menggunakan BPJS, tapi kan tidak gratis juga ya?**

Menurut info khatamers, ke RSUD tidak bisa hanya meminta rujukan, harus membawa pasiennya. Saya mempelajari flow di poli, dan ternyata pasien harus ditensi dan ditimbang berat badannya terlebih dahulu. Catatan kesehatan pasien yang sudah ditensi dan ditimbang berat badannya dibawa masuk ke ruang dokter. Tapi apakah dokternya sudah ada? BELUM. “Biasanya sih jam 10, bu.” Ujar salah satu pengantri. Sementara saat itu baru jam 9 lewat dikit. Saya pikir, yang catatan medisnya masuk duluan, akan dipanggil duluan. Saya telepon ayah saya untuk membawa anak saya ke RSUD. Dia datang jam 10an, tak lama setelahnya datang si dokter.

Ketika mulai dipanggil, ternyata dipanggilnya dari NOMER SATU, sodara-sodara! I was like W H A A A T T…? Anak saya dapat antrian nomor 46, dan dia kemarin habis kemo, which is kondisinya sedang drop, dan rentan sama penyakit. Saya pun mengajaknya menunggu di depan apotik yang orangnya lebih dikit. Tapi masalah baru muncul. Depan apotik itu ternyata depan UGD juga, jadilah saya dan anak saya menjadi saksi datangnya pasien dengan kepala bocor, dengan dipapah, kursi roda, horor pisan, euy!

bojongkulur-info-blogspot-comJam 11 saya cek ke dalam, baru nomor 20. Oh my God. Anak saya sudah lemas dan memutuskan untuk menunggu di mobil. Saya bolak balik ke poli untuk cek sudah nomor berapa yang masuk. DAN AKHIRNYA, pada pukul 12.40, anak saya dipanggil. Begitu masuk ke ruang periksa, belum juga saya duduk, anak saya juga baru menyusul masuk, dokter bertanya kapan ketauan penyakitnya? Tanda-tandanya apa? Lalu tanpa melirik ke saya atau ke anak saya (dan kami berdua masih berdiri bagai orang bodoh sedunia) dokter itu menyuruh kami menunggu di luar untuk dibuatkan surat rujukannya sama suster jaga. Cuma 2 menit. TWO F*CK*NG MINUTES! Pasien di luar saja bingung ngeliat kita yang baru masuk, udah keluar lagi.

Kalau tahu begini kejadiannya kan saya nggak perlu bawa anak saya yang udah lemes abis, plus mual dan pusing ke sana!

Kami jalan keluar sambil lirik-lirikan, sampai di luar ruang periksa, anak saya bergumam, “ya ampun bun, kita barusan ngapain?”

Dan saya hanya menjawab, “entahlah kak, kita kan cuma manusia bodoh.” **jadi pingin nyanyi lagunya Ada Band**

Saya meminta ayah saya langsung membawa anak saya pulang dan saya mengurus rujukan yang dituliskan suster, dan meminta rekomendasi dari BPJS untuk ke poli anak di RSUP. Jam 1 siang, semua selesai. End. Tamat. Finish.

Perjuangan saya dari jam 1/2 5 subuh berakhir di jam 1 siang. Dan ini flow meminta rujukan ke RSUP bagi pengguna BPJS:

Faskes Kesehatan Tingkat I (puskesmas, klinik yang ditunjuk) –> Meminta Rujukan –> Foto copy rujukan 2x dan kartu BPJS 2x (aslinya simpan) –> Daftar ke RSUD ke poli yang diinginkan (berikan berkas fotocopi rujukan dan fotocopi kartu BPJS) –> Antri di Poli (untuk kasus tertentu –mungkin karena awalnya periksa di RSUD– pasien harus dibawa guna diperiksa dokter. Kalau anak saya mungkin karena tidak periksa di sana dari awal, jadi dokternya juga males periksa. Toh bukan dia yang menangani kasus awalnya. I should’ve known) –> Selesai, ke Pendaftaran (akan diarahkan ke loket khusus yang print rujukan –> Minta ACC dari BPJS –> Selesai.

pic credit: obatpenyakitmigren.com

pic credit: obatpenyakitmigren.com

Tips dari saya:

  • Luangkan waktu khusus seharian untuk ini. Jangan berharap satu-dua jam kelar.
  • Banyak-banyak istighfar kalau disuruh bolak balik ke pendaftaran, loket ini, loket itu. Jalani saja.
  • Banyak stok sabar. Nggak perlu tarik urat leher, karena kita pasti kalah.
  • Fotocopi berkas apapun, minimal 2 rangkap. Kalau perlu siapkan fotocopi KTP dan KK yang banyak.
  • Isi batre HP penuh-penuh, kalau perlu bawa chargeran atau powerbank.
  • Bawa buku buat obat mati gaya.
  • Keep in mind, the hashtag of the day is: #MENUNGGU

Last but not least: Jaga kesehatan. Mencegah lebih baik dari mengobati itu bukan cuma slogan. It’s true!

 

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s