Hari Pertama Sekolah Anak

gcmsk12_org

pic credit: gcmsk12.org

Assalamu’alaikum.

Beberapa hari sebelum hari pertama sekolah, saya membaca tautan yang berisi imbauan dari menteri pendidikan, saat ini bapak Anis Baswedan, agar para orang tua mengantarkan anak-anaknya ke sekolah di hari pertama mereka masuk. Sebenarnya sih, mengantarkan anak di hari pertama mereka menjadi siswa baru sudah saya lakoni sejak mereka masih cilik-cilik. Karena saya berpikir, saya bekerja untuk mereka, maka saya pun harus menyisihkan waktu untuk mereka at least di hari penting itu.

Tahun ini kebetulan anak-anak saya tidak ada yang menjadi siswa baru di jenjang apapun, jadi ya saya memang tidak mengantar siapa pun ke sekolah. Namun, ternyata di hari pertama sekolah ini, saya tetap harus ke sekolah anak saya. Bukan, bukan untuk mengantarkannya ke sekolah, melainkan untuk meminta ijin agar anak saya tetap diperbolehkan sekolah walau kondisinya akan memaksanya banyak mengambil ijin karena kesehatannya yang terganggu.

(Baca: Ujian terberat dalam hidup)

Sampai di sekolah, saya tidak bisa bertemu dengan kepala sekolah. Saya juga diberitahu bahwa untuk urusan seperti ini dengan bagian kurikulum. Setelah menunggu, ternyata saya juga tidak bisa bertemu beliau karena memang hari pertama sekolah pasti sibuk ya. Saya sangat mengerti karena saya juga kan kerja di sekolahan.

pic credit: Mom.me

pic credit: Mom.me

Sepanjang perjalanan pulang, saya melihat berbagai ekspresi anak-anak sekolah di hari pertama mereka. Dan terangkailah kalimat demi kalimat di benak saya.

Hari ini, di suatu tempat, seorang anak…

Mematut-matut diri di depan cermin, berharap penampilannya oke.
Senyam-senyum sambil menikmati sarapannya.
Duduk tegang menanti saat-saat kendaraan yang mengantarnya tiba di sekolah.
Menangis karena takut harus menjalani hari di tempat asing.
Menatap iri anak-anak seusianya yang berangkat ke sekolah dengan teman-temannya.
Memandang sedih seragam sekolah yang tergantung di kamarnya, berharap segera sembuh dari penyakitnya.

Dan di suatu tempat, seorang anak menghembuskan napas terakhir karena lelah melawan sakit yang tak kunjung sembuh juga.

Biarlah anak saya menjadi anak yang menatap seragam sekolahnya, asal dia tetap ada di sisi saya selama Allah memberi waktu untuk kami jalani bersama.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s