Lebaran Sendu di Tahun 2016

Assalamu’alaikum.

Lebaran adalah momen spesial dalam keluarga kami. Karena di hari itu, kami semua dapat berkumpul dan melepas kangen dengan anggota keluarga yang tinggalnya terpisah jarak yang cukup jauh. Di bulan Ramadhan kemarin, keluarga kami mendapat cobaan, yakni dengan sakitnya anak tertua saya.

(Baca: Ujian terberat dalam hidup)

Penyakit yang dideritanya pun bukan main-main. Membutuhkan waktu yang lama dan panjang serta kesabaran dan ketabahan untuk mendapatkan kesembuhan. Bukan hanya dari pasien, namun juga dari keluarga. Hari pertama puasa dibuka dengan perawatan kemoterapi pertama si sulung. Dan ketika saya hitung-hitung dari protokol pengobatan, lebaran tahun ini akan kami lewatkan di rumah sakit.

Beberapa orang tua pasien berkata, bahwa kalau berlebaran di rumah sakit, suka ada relawan atau orang yang dermawan datang dengan membawa amplop berisi uang. Bukan mau muna dan bilang gak butuh uang, tapi kalau bisa mah lebaran di rumah aja meski nggak punya nastar dan putri salju. Boro-boro ketupat sayur!

Si sulung pun minta pulang dan menghentikan pengobatan sementara agar bisa berlebaran di rumah. Saya sadar menghentikan kemo bisa fatal, namun saya juga sadar, bahwa dengan penyakit yang diderita anak saya, sebisa mungkin saya harus membuatnya bahagia. Apa pun caranya.

Maka saya pun merancang liburan yang bisa mengalihkan pikirannya pada penyakitnya. Dan setelah browsing dan beberapa kali cancel tempat karena terlalu jauh dari pusat keramaian, akhirnya pilihan yang memungkinkan adalah puncak!

Perjalanan ke sana ternyata tidak mudah ya, sodara-sodara! Mulai dari macet di pintu tol Ciawi yang menyebabkan kami piknik di jalanan, cuaca panas, kondisi si sulung yang cepat lelah, membuat saya terus berdoa agar kakak tidak colaps. Dan syukur alhamdulillah, sulung saya tetap ceria.

Kami memanfaatkan waktu semaksimal mungkin dengan mengunjungi tempat wisata yang terkenal itu tuh, little Venice. Hanya sebentar, karena mengingat jarak dan cuaca, plus sulung saya mulai terlihat lelah meski tidak mau mengaku, kami lebih banyak menghabiskan waktu di vila.

Pulang dari puncak, kami mampir ke Cimory karena si sulung tak ingin segera pulang. Baginya, rumah sama dengan mengingatkan dia akan penyakitnya. Maka kami mampirlah di Cimory. Di sana apalagi yang kami kerjakan kalau bukan foto-foto? Dan yang membuat saya terharu biru adalah saat sulung saya berkata, “ini adalah lebaran paling indah yang kakak alami. Kakak senang banget! Dan mudah-mudahan bisa kita lakukan lagi.”

Saya tentu bahagia mendengarnya. Meski beberapa hari kemudian kakak harus kami larikan ke UGD karena kondisinya yang menurun, saya tetap optimis kakak bisa sembuh dan pergi bersama keluarga besar lagi. Amin.

 

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s