Drama Korea: Second Time Twenty Years Old & Beasiswa Impian

twenAssalamu’alaikum.

Sebagai penggemar Drama Korea DAN seorang blogger, tentu nggak klop rasanya kalau sehabis nonton belum direview. So, inilah drama yang baru saja kelar saya tonton. Drama ini bukan drama baru, bahkan tayang di tahun 2015. Tapi karena pemeran utamanya saya suka (euh… dengan lesung pipinya itu yang menggemaskan!) Lee Sang-Yoon yang membuat saya jatuh hati di film Angel Eyes, saya pun nonton Drama Second Time Twenty Years Old.

Tentang seorang ibu rumah tangga yang menikah (terlalu) muda, hingga melewatkan masa muda dan melupakan impiannya. Ha No-Ra sangat suka menari, dan sejak SMA dia bercita-cita ingin menjadi penari profesional. Namun saat bertemu lelaki yang lalu jadi suaminya, dia pun diboyong ke Jerman dan berjuang membesarkan anaknya, Min-Ho, sendiri. Hidupnya menjadi sangat tergantung pada suaminya (karena di Jerman dia tidak pernah berkumpul dengan ibu-ibu dari Korea juga) dan baginya, tanpa suami dan anaknya dia tuh nothing!

Hingga tiba saat suaminya meminta bercerai, No-Ra mulai memikirkan cara menjadi istri yang dapat diajak komunikasi oleh suaminya. Karena sebagai siswa SMA yang drop-out, tentu pemikiran No-Ra terbatas saja, dan wajar jika suaminya merasa frustasi dan ingin bercerai. Saat anaknya mendaftar kuliah, No-Ra pun diam-diam mendaftarkan diri ke universitas yang berbeda dengan pilihan pertama anaknya. Tapi apa daya, ternyata anaknya malah keterima di universitas pilihan kedua yang notabene sama dengan No-Ra, dan ternyata lagi, suaminya pindah ke kampus yang sama! Waawww..! Surprisenya menjadi gagal saat dia memberitahu keduanya bahwa dia akan kuliah lagi, dan tanggapan mereka seolah No-Ra sudah gila.

Satu kampus sama anaknya?

Suaminya juga dosen di kampus yang sama!

twe

Tapi No-Ra sudah bertekad dan dia tidak akan mundur. Maka tanpa restu dari kedua orang paling penting baginya itu, No-Ra membayar biaya pendaftara dan mulai kuliah. Dengan hati-hati No-Ra menggambar peta jalur anaknya agar mereka tidak berpapasan. Untungnya jurusan mereka beda. Aman sih… tapi sampai kapan?

Lalu No-Ra bertemu sahabat lamanya di SMA, Cha Hyun-Suk yang sekarang sudah menjadi produser teater terkenal dan menjadi dosen juga di kampusnya. Dan No-Ra ngambil kuliahnya pula! No-Ra yang awalnya senang menemukan sahabat lamanya, menjadi heran karena Hyun-Suk sangat berubah. Dia bahkan seperti terlihat benci pada No-Ra. Apa penyebabnya? No-Ra juga bingung. Belum lagi di hari pertama, Hyun-Suk dengan sengaja memanggilnya Ahjumma di kelas dan mengoloknya bahwa ini kelas buat kuliah, bukan buat orang tua murid.

second-time-twenty-years-old-poster4Kesulitan demi kesulitan ditemukan No-Ra di hari-hari pertama kuliah. Mulai dari teman sekelasnya yang tidak mau sekelompok dengannya, lalu urusan dengan dosen cabul yang marah karena hardikannya sehingga senior-seniornya membuat dia diasingkan dari grup, soal perceraiannya dengan suaminya, dan lebih parah lagi, suami dan anaknya mengetahui kalau dia kuliah dan menyuruhnya drop out!

Wah, rumitnya hidup No-Ra.

Tapi menonton drama ini membuat saya ingat kembali keinginan saya untuk kuliah lagi mengambil program pasca sarjana. Dulu saat kuliah S-1 saya tidak berpikir akan mengambil S-2 nantinya. Ah, buat apa? Toh kuliah tinggi-tinggi juga kalau bukan jadi guru atau PNS tidak akan meningkatkan jabatan dan gaji. Saya lulusan Jurusan Ilmu Perpustakaan UI, dan saat itu saya sudah bekerja di Jakarta International School (sekarang ganti menjadi Jakarta Intercultural School). Maka saya nyantai saja, lulus kuliah lalu kerja, tanpa berpikir untuk menabung. Ketika saya sudah menikah dan punya anak, otomatis keinginan itu menghilang bagai ditiup angin. Yang ada dalam benak saya adalah, saya menabung untuk keperluan pendidikan anak-anak saya. Biarlah saya tidak kuliah sampai tinggi. Tapi mereka harus!

eightishadblogNamun tiba-tiba, saat anak-anak sudah mulai beranjak remaja, timbul keinginan itu. Saya ingin ambil S-2. Tapi bagaimana? Pengeluaran sudah banyak: bayar cicilan rumah, ongkos anak-anak, Iuran sekolah mereka, keperluan sehari-hari, bukankah itu lebih penting? Lalu saya ingat, a-ha! Kenapa tidak mencoba cari beasiswa saja? Dengan semangat baru, saya pun menjelajah dunia maya guna mencari beasiswa yang  memang agak sulit, karena usia saya yang sudah tidak muda lagi. Tidak banyak instansi yang menawarkan beasiswa untuk pendaftar di usia saya yang sudah kepala 4.

Tapi tentu saja itu bukan halangan! Buat para pejuang beasiswa, bisa baca tips mencari beasiswa di artikel Untuk Para Pejuang Beasiswa. Semangat Berjuang, Teman! ini.

Banyaknya instansi atau perusahaan yang menawarkan beasiswa, tentu saja membuka jalan bagi orang-orang seperti saya untuk memilih yang cocok dengan situasi dan keadaan. Jangan biarkan usia menghalangi cita-cita dan impian. Sepert Ha No-Ra di drama Korea itu.

bea

Mari berjuang bersama!

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s