Trip Toraja – Makassar

Assalamualaikum,

Liburan pendek kemarin saya manfaatkan untuk nge-trip ke Toraja-Makassar. Saya memang berniat ke Makassar sejak sahabat saya pindah ke sana. Saya berjanji kalau saya akan ke sana sebelum dia pindah kota lagi *nomaden banget kesannya* 😀 So, dengan tekad yang kuat, saya mulai menabung di… celengan! Karena nabung di bank itu percuma, apalagi kalau punya kartu ATMnya :p Niat awal berangkat di bulan Mei gagal total karena sudah masuk bulan Ramadhan. Bisa aja sih, jalan tanpa kuliner siang, justru malah irit, secara kalau buka puasa paling makan seberapa sih, ya nggak? Tapi yang jadi masalahnya adalah, apa iya tega ninggalin keluarga di bulan Ramadhan? Jadilah dimajukan ke bulan Maret. Eehhh… tabungan emangnya udah kekumpul? Tenang… bulan Maret dapet arisan cyin… Insya Allah aman 😉

Pesan moral: ikutlah arisan dan mintalah cairnya di bulan-bulan liburan 😀

Rabu, 15 Maret 2017

PUKUL 7.25 (kira-kira) waktu Makassar

Hunting tiket cari promo, rencananya dari bandara Sultan Hasanuddin langsung ke Toraja. Saya berangkat bertiga dari Jakarta, di Makassar sudah menunggu 2 lagi. Jadilah kami berlima gelintir, naik mobil sewaan yang dikendarai oleh supir sembalap yang nggak bisa bawa pelan. Minimal 110 km/jam! Bisa bayangin saya yang duduk di belakang, usus keriting minta direbonding. Jarak Makassar ke Toraja yang biasanya ditempuh dalam waktu 12 jam, dipangkas menjadi hanya 9 jam saja, sodara-sodara!

Di tengah perjalanan, kami melipir ke salah satu kedai minum gitu untuk menikmati pemandangan dari Gunung Nona yang cantik. Warnanya kehijauan, dan sungguh saya tidak habis-habis mengagumi dan mengabadikan gunung tersebut. Kenapa dinamai gunung Nona? Katanya sih karena bentuknya. Ya, silahkan lah figure it out yourself, yes?

Sampai di Toraja menjelang magrib, kami pun istirahat sebentar, dan malamnya cari makan sekitar penginapan. Kami menginap di Pias Poppies Hotel, yang semalamnya hanya 198 rb saja. Saat kami check-in, tamu yang bertebaran saat itu bule-bule semua, jadi inget hotel budget di Poppies Lane Bali. Memang yang poppies-poppies gitu  untuk konsumsi bule kali ya? Kondisi penginapannya sederhana, namun bersih. Saya paling ribet sama yang urusan kamar mandi, dan di Pias Poppies, kamar mandinya bersih dan designnya unik. (Untuk foto hotelnya, browsing aja sendiri kali ya?)

Kamis, 16 Maret 2017

PUKUL 4.30 pagi (kira-kira) waktu Makassar

Keesokan harinya kami cabut jam setengah 5 pagi untuk mengejar sunrise di Lolai. Lolai ini terkenal dengan sebutan Negeri Diatas Awan. Sempat kesasar, dan karena suasana masih gelap, lampu jalanan juga jarang, tidak ada penduduk untuk ditanya pula, maka begitu sampai di atas tuh bahagiaaaa banget! Naik ke atas gunung pake mobil di kegelapan malam itu, uji adrenalin banget! Untunglah si bapak sopir yang sembalap itu jago banget.

Sampai di atas, kirain kita manusia-manusia pertama yang sampai, ternyata oh ternyata, udah rame…! Itu manusia jalan jam berapa? Ck,ck,ck. Saya sampe heran. Tunggu punya tunggu, ternyata mataharinya malu-malu meong. Jadilah dapet sunrisenya seadanya aja. Salah siapa? Salah awannya? Salah mataharinya? Atau salah orang-orang yang menuh-menuhin lokasi? Atau mungkin salah saya yang terlalu berharap tinggi? Ya udah jepret-jepret seadanya aja deh… Yang penting pernah menjejakkan kaki di negeri di atas awan. Cuz ke lokasi berikutnya!

PUKUL 8-an (kira-kira) waktu Makassar

Kami tiba di Goa Londa, tempat pemakaman dalam goa. Kami masuk ke dalam goanya, ditemani bapak pemegang petromaks. Di sepanjang goa, peti-peti terselip di antara batu-batu goa, dan ada sepasang tengkorak yang diperkenalkan sebagai Romeo and Julietnya Toraja. Jadi kisahnya: ada sepasang kekasih yang masih memiliki hubungan keluarga (mereka sepupuan) trus saling jatuh cinta. Usia mereka kira-kira 19 tahunan gitu. Nah, tentu saja keluarga mereka tidak menyetujui cinta mereka, maka mereka pun memutuskan untuk bunuh diri. Tapi saya lupa nanya deh, mereka bunuh dirinya dengan apa, gantung diri kah? Loncat dari tebing kah? Kalo minum kopi Vietnam kan belum ada saat itu.

PUKUL 10-an (kira-kira) waktu Makassar

Kami tiba di Kete Kesu, tempat wisata Tana Toraja yang semacam wajib dikunjungi kalau ke sini. Betapa tidak? Atap-atap rumah Toraja yang khas itu, dipadu dengan langit biru, sangat mubazir jika tidak diabadikan sepuasnya. Meski panas, saya mah ikhlaaassss.. Yang penting foto di tempat yang menjadi trademark Tana Toraja. Dasar turis 😀 Di sana tidak lama, karena panas dan ya udah emang tempatnya cuma buat foto doang :p

PUKUL 11-an (kira-kira) waktu Makassar

Kami tiba di Lemo. Ini adalah tempat pemakaman di tebing batu khas Toraja. Di sini kami juga melihat pengrajin patung ukir Tao-Tao, yakni patung penghias makam di Toraja. Di Lemo kami tidak masuk ke dalam goa, karena makamnya ada di tebing-tebing. So kami hanya memotret dari bawah, dan di sini juga tidak lama. Karena memang sudah siang juga dan perut sudah menuntut diberi makan. Kami pun lanjut makan siang dengan menu nasi campur (untuk wisata kuliner di postingan selanjutnya ya)

Selesai makan, kami berniat ke patung Yesus raksasa di Buntu Burake, dan makam bayi Kambira yang disemayamkan di pohon. Namun waktu sudah tidak memungkinkan dan kami pun sudah lelah naik-turun bukit, maka kami memutuskan untuk kembali ke Makassar.

Jumat, 17 Maret 2017

PUKUL 9-an (kira-kira) waktu Makassar

Kami berfoto-foto ria di pantai Losari. Sayangnya, pantai Losari ini bukan pantai berpasir yang bisa lari-lari cantik ala Syahrini telanjang kaki, dan berkejar-kejaran dengan ombak. Pantai ini lebih ke dermaga, tempat berlabuhnya beberapa kapal dan pinggir pantainya bebatuan, dipagari dengan tembok gitu. Sepanjang pantai terdapat penjual makanan (paling banyak pisang epe) dan minuman. Enaknya ke sini saat menjelang matahari terbenam. Jadi, setelah berpanas-panasan foto di tulisan Pantai Losari dan City of Makassar, kami pun cuzz ke lokasi selanjutnya, yakni Fort Rotterdam.

Di Fort Rotterdam saat itu sedang ada festival Perempuan Bergerak. Jadi sedang ramai dengan bazaar dan kegiatan gitu. Lumayan seru dan yah panasnya bikin item. Jangan lupa kalau ke sini (meski dibilang musim hujan) tetap bawa payung dan kaca mata hitam. Sebab, cuacanya benar-benar nggak ketebak! Tidak lama bercokol di fort ini, kami cuz ke destinasi selanjutnya, yakni toko kopi Ujung.

Toko kopi Ujung ini adalah tempat shooting film Filosofi Kopi, dan konon barista-barista kopi yang ada di Makassar belajarnya di kopi Ujung ini. Keren juga ya! Begitu masuk ke dalam tokonya, penciuman kami dimanjakan oleh wangi kopi yang sedap nian. Ada beberapa spot yang rasanya sayang kalau tidak diabadikan. Maka tanpa malu-malu saya pun berpose. **cekrek!**

Selanjutnya, ke Moji Cafe! Ingin menikmati eksrim yang segar dan nikmat, datanglah ke sini. Tempatnya instagramable banget! Cantik dan rugi banget kalau nggak foto-foto. Eskrimnya juga enak. Saya pesan es kacang merah. Yummy!

Dari sana, kami balik lagi ke pantai Losari untuk menikmati sunset, dan tak lama setelah matahari benar-benar tenggelam, kami cuz menuju bandara. Dan selesai lah kunjungan kami di Makassar. Singkat, namun mengesankan!

So, where do we go next?

Advertisements

2 thoughts on “Trip Toraja – Makassar

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s