Review Film: Jumanji

Setelah berabad lamanya nggak nonton film di bioskop **lebaaayy deeehhh* akhirnya kemarin saya ke bioskop sama abege saya. Kami memutuskan untuk nonton Jumanji. Teman-teman saya bilang bagus filmnya, anak saya justru mengabarkan hal kebalikannya, dia bilang film ini ratingnya jelek. *untung dia bilangnya SESUDAH nontn, coba kalau SEBELUM? Kan saya pasti batal nonton! Dan rugi banget kalo gak nonton. Kenapa? Karena ini film sukses bikin saya ngakak se ngakak-ngakaknya.

Oke, mari kita rewind dari awal. Kalau pernah nonton film Jumanji jaman dulu yang dibintangi Robin Williams, tentu masih ingat kan jalan ceritanya? Bahwa ada anak mainan games, trus karakter dalam board games itu keluar dari mainannya dan mereka pun mencoba menyelesaikan permainan dengan berlari-lari dikejar pemburu, belum lagi board games nya diambil burung, trus lebih serunya lagi hewan-hewan numpang lewat, plus rumah mereka yang porak poranda.

Di film Jumanji yang baru ini, permainannya tidak lagi menggunakan board, melainkan pakai monitor komputer, semacam nintendo atau PS gitu deh. Saya kurang ngerti bedanya nintendo sama PS, soalnya nggak pernah main. Yang saya tahu, dua2nya pakai monitor dan alat yang dipencet-pencet itu. 😀 Video game kali ya namanya? Dan pemainnya ketarik ke dunia Jumanji, which is hutan belantara.

Adalah empat siswa SMA yang kena detention alias hukuman karena alasan yang berbeda, dan mereka berkumpul di ruang hukuman bersama. Apalagi yang bisa dilakukan untuk melewati waktu hukuman selain main games? Mereka pun menemukan Jumanji, dan seperti yang semua sudah tahu, mereka masuk ke dalam permainan dan harus menyelesaikan misi dalam permainan tersebut.

Namun yang membuat mereka terkejut, diri mereka pun berubah mengikuti karakter dalam permainan. Maka Spencer yang kutu buku berubah menjadi Dr. Bravestone yang berotot, lalu Frigde yang atlet softball berubah jadi asisten Bravestone yang cebol, Martha  yang kutu buku menjadi Ruby Roundhouse yang seksi dan jago berantem, terakhir Betthany yang aslinya selebgram banget, dikit-dikit posting foto di sosmed kedapetan karakter profesor berbadan gempal yang ahli dalam membaca peta.

Seperti dalam game, mereka memiliki misi, dan ada tingkatan level yang harus mereka lalui. Dengan bekal 3 nyawa, mereka pun beraksi. Dan aksi mereka, meski sebenarnya serius, tapi kocak banget! Saya nggak berhenti ketawa, dan gak nyadar kalo popcorn udah habis (biasanya di tengah film saya suka gelisah kalau kehabisan cemilan).

Aksinya games banget, dan saya beneran jadi membayangkan karakter di video game. Belum lagi karakter tambahan yang tidak mamiliki emosi, namun punya peran yang cukup penting di dalam game ini. Mereka hanya bicara sesuai kalimat jatah mereka saja, dan tidak bisa diajak diskusi apalagi berkonspirasi.

Seru banget mengikuti petualangan 4 jagoan ini di game Jumanji. Saya jadi membayangkan, apakah nanti ke depannya film Jumanji mengambil tema virtual game? Bisa lebih seru ya.. jadi animasi atau apa. Ah, gak tau deh. Pokoknya suka kedua film Jumanji ini. Idenya keren, aktornya keren, dan jalan ceritanya keren. Top!

Advertisements