Author Archive

Assalamu’alaikum,

Hari ini saya mau share tentang Nano Health Family Reflexology. Saya sudah 4 kali berkunjung ke sini untuk merasakan dipijat oleh terapis yang ahli dibidangnya. Karena saya kapok dipijit sama emak atau embah di kampung sebelah. Udahlah pake disembur, diludahin, mijitnya juga sakit. Boro-boro tidur selama dipijit, yang ada bawaannya pingin kabur aja. Tapi mau kabur kemana ya? Kan pijitnya di rumah saya?

pic: Google

Oleh karena itu, saya putuskan untuk mencoba pijit di Nano bersama paksu. Kebetulan badan kami hancur lebur habis pulang dari touring (capek bikin sendiri sih ini) dan kami pun diberikan terapis yang sesuai dengan jenis spesies (laki2 dengan laki2, perempuan dengan perempuan, gitu lho) lalu kami diberikan satu set kunci yang terdiri dari dua kunci: satu untuk loker sepatu/sandal, jadi kita ganti dengan sandal yang telah disediakan (which is GEDE ya? bisa boncengan deh) dan kunci satu lagi untuk loker di dalam guna menyimpan tas dan bawaan lainnya.

Kemudian kami masuk ke dalam ruangan tempat kami mencuci kaki. Jangan salah, kakinya dicuciin. Jadi ada wastafel gitu, si terapis nyuci kaki kita pake sabun, kemudian wastafelnya diisi air dan diberi blao (hehe gak tau namanya, pokoknya dia larut di air dan menjadikan airnya berwarna biru.) Sambil direndam di air biru, punggung kami dipijat ringan. Mayaaannn… intro! Setelah selesai, kaki kami di lap pake handuk **sumpah saya merasa risih dicuciin kaki seperti itu. Berasa nyonyah banget** dan kami beranjak masuk ke area pijit. Di dalam ada dua jenis pijit: refleksi dan full body massage.

pic: eimiriatamsyarina.blogspot.co.id

REFLEKSI

Untuk yang refleksi, ada di lokasi yang terdiri dari deretan banyak kursi, di ruangan remang-remang, jadi nggak usah khawatir bakal dikepoin sama yang lain, biar rame2, tetap sendirian kok rasanya. Kami duduk di kursi yang super empuk, kemudian kaki dipijat dari ujung, ditekan-tekan tapi nggak sakit lho, enak malah! Setelah urusan kaki selesai, pindah ke tangan, lalu kami berbalik tengkurap di kursi setelah sebelumnya dikasih bantal buat rebahin kepala, trus pijat punggung. Beuuhhh.. merem melek deh! Di setiap kursi juga disediakan monitor TV dan headsetnya. Saat saya refleksi, saya nggak cobain sih, jadi nggak tahu apa yang ditayangkan di TV itu.

FULL BODY MASSAGE

Untuk full body massage, kami masuk ke ruangan di sebelah dalam, dan masuk ke kamar masing-masing. Area laki-laki dan perempuan dipisah. Kamarnya seorang satu, jadi nggak rame-rame. Private banget. Meski obrolan tetangga kalo kenceng ya kedengeran. Di sini saya dipijat dari ujung jari kaki, dan naik perlahan hingga semua bagian tubuh kita kena pijit. Sebelumnya ditanya, “Mau diinjak nggak?” Waks! Serem ya? Saya pilih NO. Untuk pijat full body ini ada dua pilihan waktu: 90 menit atau 2 jam. Terapisnya pun nggak bawel, jadi gak ada tuh cerita-cerita masalahanya dia, semacam emak-emak yang mijit di kampung sebelah :p

Setelah pijit, kami menikmati hidangan yang disediakan. Untuk refleksi, kami tetap duduk di kursi, menikmati segelas jahe panas dan segelas air putih. Sementara kalau full body massage, ada lounge tersendiri. Di meja disediakan minuman  jahe panas, air putih, dan teh liang. Lalu ada bubur ayam. Semua self-service. Jadi kalau pas lagi laper, ya nambah aja 😀

pic: Google

Tapi terakhir saya ke sana, terus terang bikin saya trauma setengah mati. Saya mendapat terapis yang agresif banget! Sebut saja namanya Mawar. Dia tanya apa keluhan saya. Saya bilang kalau kaki sebelah kiri saya nyeri hingga pinggang. Dia mulailah dengan memencet-mencet bagian engkel kaki saya. Sumpah SAKIT! Dia bilang urat kaki saya tegang, jadi pada meringkel. Oh, saya pikir mungkin karena saya bawa motor yang agak tinggi sekarang, jadi saat macet atau berhenti saya cenderung jinjit. Oke, saya tahan. Dia pencet teruuuussss di satu tempat yang sakit, dan ada banyak bagian dari kaki saya yang sakit saya dia pijit. Tapi memang nyeri yang saya rasakan hilang, entah itu karena terganti sama sakit yang lain atau memang pijitannya yahud, saya tidak sempat menganalisa. Karena selanjutnya dia naik memijit paha. Alamaaakk… gosokan jarinya seperti pake batu koral, padahal hanya buku-buku jarinya!

Dan saya memesan untuk yang 2 JAM! Bisa bayangkan siksaan yang saya jalani? Punggung tidak luput dari pijitan supernya, juga tangan saya. Boro-boro tidur nyenyak selama dipijit, yang ada saya mendesis-desis kesakitan. Sesekali saya tarik kaki atau tangan saya yang sedang dipijit, dan rasanya pingin lari keluar. Tapi kan saya gak pakai baju? Gimana kalau dia nangkap saya saat sedang pakai baju, trus dipiting? **oke, lebay** Setelah hampir dua jam, dia memutuskan untuk menginjak-nginjak saya, padahal saya lagi mikir dulu mau apa nggak. Tapi dia sudah langsung ambil posisi dan mulailah dia injak telapak kaki, naik ke betis, pas di paha saya udah teriak-teriak, “sakit! sakit!” tapi Mawar cuma bilang, ‘Tahan!’ dan yang paling saya takutkan pun terjadi, dia injak punggung saya… ‘HEGGHHH!!’ nafas saya sampe berhenti sedetik. Saya teriak sambil bergerak-gerak nyuruh dia turun. Inilah kenapa saya nggak mau diinjak. Belum lagi, Mawar bodynya 3x lipat body saya. Hiks…

Sepanjang perjalanan pulang, saya merasa sakit-sakit di tempat yang dia pijit, which is SEMUA BADAN! Dan sampai di rumah ketika hendak mandi, betapa kagetnya saya menemukan paha saya biru-biru memar seperti habis digebukin. Paksu sampe marah-marah nyuruh saya komplen ke Nano. Laaahhh.. gimana juga mau komplen? Yakali saya harus buka aurat buat nunjukin motif batik di paha saya? No way. Akhirnya ya sudah lah, seminggu kemudian baru hilang: sakit dan warna lebamnya.

Kalau ditanya mau pijat di sana lagi nggak? Masih mau lah! Tapi saya akan request terapis. Kalau orang-orang request terapis langganan, saya bakal request terapis lain SELAIN Mawar. 😀 Karena terapis sebelum-sebelumnya yang mijit saja, enak-enak pijitannya. Malah saya pernah tertidur dan dibiarkan saja sampai bangun sendiri.

**

Note: Tulisan ini dibuat bukan untuk mendiskreditkan institusi manapun, saya hanya share pengalaman saja. Semoga bermanfaat 😉

Advertisements