(Sejenak) Lupa

Adalah hadiah terindah yang diberikan Tuhan kepada manusia. Dengannya, manusia bisa (sejenak) beristirahat dari rasa yang terkadang berlebihan: kemarahan, kebencian, kegembiraan, duka yang mendalam, yang menguras energi dan pikiran, yang menguras rasa dan menjadikan diri tak berfungsi dengan ‘normal.’ Dengannya, manusia dapat menjalani kehidupan ‘seperti biasa’ dan terlihat baik-baik saja.

Namun (sejenak) lupa membuatku merasa egois saat ingatan itu muncul kembali. Pertanyaan-pertanyaan yang mungkin terdengar absurd sering terlintas dalam benak: mengapa aku masih bisa menghela nafas sementara dia…, mengapa aku masih membutuhkan makan sementara dia…, mengapa aku masih bisa tertawa sementara dia… Dan ketika lintasan ini muncul, fungsi sebagai manusia normal akan (sejenak) terganggu. Semacam komputer yang mengalami gangguan dan nge-hang.

Aku akan sangat sensitif saat menemukan hal yang mengingatkanku tentangnya. Lagu yang dinyanyikan oleh Fatin, yang sering ditirunya dengan sangat mirip. Musik barat dari penyanyi kesayangannya. Melintasi rumah sakit tempatnya dirawat. Bahkan suara ambulance yang melintas pun mampu membuatku ‘kehilangan fungsi’ ketika berkendara, mengingat saat terakhir bersamanya.

(Sejenak) lupa membuatku sadar, bahwa Tuhan sangat menyayangiku, dan memberiku kesempatan untuk menjalani kehidupan normal selayaknya manusia lainnya. Sulit dipahami pada awalnya, menolak lupa walau sejenak, namun memang cara Tuhan tak akan mudah untuk di mengerti. Hanya setelah jatuh-bangun dan babak-belur, baru manusia awam sepertiku mampu merasakan indahnya cinta Sang Ilahi.

Advertisements